Aku dan Kamu

Malam berganti pagi seketika waktu tak terasa
Aku menyapa mentari, tersenyum tipis tanpa rasa beban
Pertanda akhir dari duka, harapan pun menyapa
Dan melihat bunga matahari mekar tepat pukul 07.00 pagi

Kamu adalah perintis masa lalu yang melankolis
Kamu datang saat musim dingin dan pergi saat musim semi
kamu adalah mimpi buruk bagiku sepanjang malam
Aku sedih dan kamu bahagia

Biarlah Purnama menjadi saksi antara aku dan kamu.


Sampai Kapan pun

Cinta dapat Melahirkan karya-karya yang memiluhkan.  
Namun juga dapat menghasilkan Mahakarya yang Luar biasa.
Seperti Kopi tanpa Gula Rasanya kurang Nikmat.
Seperti Lantunan Lagu Tanpa Alunan Musik rasanya Kurang Nada.

Di penghujung jalan Antara Aku dan Kamu adalah perpaduan Antara ranting dan Pohon.
Saat Musim Gugur Keduanya saling menantikan dan berharap Musim berikutnya akan tiba.

Dedaunan jatuh terpingkal-pingkal pada setiap butir-butir tanah.
Sebab Aku percaya bahwa daun yang jatuh adalah anugerah.

Begitu pun Dengan Kamu, Kamu selalu tersenyum pada lembaran-lembaran Duka Cita yang tergores Pada dinding Kamar.
Kamu selalu Optimis dan selalu Optimis.
Itu semua karena Aku Selalu Mencintaimu sampai Musim tak ada lagi
Sampai Bunga Matahari tidak lagi Mekar Pada Pukul 09.00 Pagi.
Sampai Matahari tidak lagi terbit pada pagi hari.
Sampai Bulan dan Bintang tidak lagi bersinar Pada malam Hari.


 Harapan dan Malam

Aku dan sebuah keheningan dimalam hari

Sunyi, hampa dan  tiada

Beranjak menyapa suasana

Berharap akan menyapa balik


Kesunyian yang membuatku hampa

Hanya lantunan sajak yang menemani

Menusuk rasa dan tetesan air mata

Aku terdiam sejenak menunggu adanya harapan


Rasa sedih, bahagia bercampur aduk

Batin menjadi sasaran dan tempat bercerita

Mengisi kekosongan hati yang tak karuan

Dinginnya malam tak punya makna


Malam ini dan malam besok percuma saja

Tak ada malam yang indah

Malam kemarin pun sama

Namun harapan selalu ada disetiap malam hari