Seusai membaca cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang bertajuk "Aku, Pembunuh Munir"  terbitan antologi cerpen Kompas 2013 silam, membuat saya sangat terkejut akan hebohnya desas-desus pembunuhan ghaib Munir, seorang aktivis HAM Indonesia keturunan Arab-Indonesia dengan jabatan akhir adalah Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial. 

Ternyata, seorang yang berkunjung ke Amsterdam yang pesawatnya sempat transit dari Bandara Changi, Singapura itu ditemukan tewas dalam penerbangan Garuda Indonesia di langit Rumania berketinggian 40.000 kaki di atas tanah. 

Tak ada bekas luka ataupun bercak darah di seragamnya, Lantas, setelah diselidiki penyebab kematiannya oleh hasil autopsi para dokter ahli, menyatakan positif bahwa adanya jejak-jejak senyawa arsenik di dalam tubuhnya, dan Munir tanpa diragukan lagi meninggal dunia dalam kondisi diracun. Kala itu, Selasa, 7 September 2004 yang kelabu bagi sanak famili Munir dan aktivis HAM lainnya.

Komposisi racun Munir tersurat jelas dalam paragraf ke-3 cerpen Seno tersebut,  "83% Arsenik 3 dan 17% Arsenik 5. Konsentrasi Arsenik 3 sebanyak 0,460 miligram per liter itu menyebabkan blokade reaksi detoksifikasi, ya, lantas terjadi penekanan ekskresi arsenik melalui ginjal."  

Dari cuplikan cerpen diatas, kita dapat berprasangka bahwa kejamnya oknum-oknum tertentu untuk senatiasa memblokir hukum HAM lewat aksi yang semata-mata hanya mematahkan usaha Munir hingga akhir hayatnya. Sungguh, tidak ada yang menyangka akan hadirnya insiden menyedihkan ini bahkan diri Munir sekalipun, yang niatnya melanjutkan studi hukum di Utrecht Universiteit, Belanda.

Perihal siapakah pembunuh Munir ini masih samar-samar ujungnya. Bahkan, untuk pelaku dzohirnya pun bisa dikatakan lebih dari satu, sebab diduga adanya rencana pembunuhan berantai yang bisa saja disaksikan bila segelas cairan berisi arsenik tersebut dapat berbicara. Tapi, apalah daya seorang Munir yang harus meregang nyawa dan kini, muncullah pertanyaan dari saya, "apakah HAM bisa dijunjung tinggi bilamana setitik aksi Munir saja ditumpas habis oleh setitik arsenik juga?" 

Kasus yang memilukan ini sampai akhirnya diabadikan dalam karya Seno Gumira A. Karena saking sadisnya pembelaan HAM hanya berbuah kematian. Bisa jadi, rasa takut manusia tuk menjadi aktivis HAM terkubur dalam-dalam layaknya jenazah Munir yang dihantui rasa penasaran di makam TPU Sisir, Kota Batu. Sekarang, pertanyaan siapa pembunuh beliau tidak perlu dijawab secara akurat; antara dalang dan wayang-wayangnya yang kabur entah kemana. Cukup!

Meskipun kasus Munir telah surut di permukaan trending topik, namun sangat disayangkan, aksi ini menumpahkan ironi dalam toleransi antar sesama manusia, yang bisa-bisanya orang baik dapat dibunuh sia-sia dengan alih-alih dendam dan dengki semata. 

Dampak Munir dan segala kronologis meninggalnya dapat disimpulkan secara gamblang yaitu maraknya tindakan ekstrimisme yang kapan dan dimana saja dapat terjadi; sesuka pembunuhnya. Dengan demikian, bagaimana cara menghindari pelatuk maut dari kekejaman orang-orang sekitar? "gausah jadi orang baik!"  canda teman saya saat berdiskusi ringan di sebuah kantin depan kampus.

"Kenapa Munir gak langsung ditembak saja?" tanya teman saya, seorang mahasiswa jurusan teknik elektronika. Lagi-lagi, sebuah pertanyaan yang sangat frontal terucap lantang tanpa basa-basi. Terkadang manusia lebih berpikir instan dalam menelaah suatu kasus, khususnya, teka-teki kematian Munir ini. 

"Segala sesuatu ada seni-nya, tak bisa langsung cas cis cus, bunuh sana, bunuh sini. Jikalau membunuh tanpa seni, nyaris separuh manusia akan lenyap dari muka bumi, instan..."  jawab saya tatkala teringat genosida tokoh Adolf Hitler kepada umat Yahudi di tanah Jerman pada tahun 1933-1945 atau yang lebih dikenal Holocaust. Genosida yang memakan 11 juta korban jiwa tak bersalah, sebab pendiskriminasian suatu kelompok etnis, agama, dan bangsa. Sungguh keji!

Ternyata, untuk memecahbelahkan kerukunan antar manusia, entah individu atau kelompok, banyak modus-modus anyar yang kerap kali dipraktikkan dalam rencana busuk para pendengki di luar sana, contoh : kematian Munir dengan racun arsenik. Lebih elegan dan butuh modal ratusan bahkan jutaan rupiah dalam membeli arsenik per 100 gram saja. Lantas, inilah teknik membunuh secara perlahan tapi pasti. Melalui efek samping; pusing, mual-mual, gangguan kemih, berlanjut pada kematian.

Setelah bermunculan motif pembunuhan yang tak terduga-duga datangnya, kita harus mewaspadai akan segudang modus terbaru dari mereka yang berperangai buruk dan mencoba meretakkan toleransi. Aksi ekstrim yang kian merajalela membuat kita takut untuk berbuat apa-apa, hendak berbuat baik justru diincar jadi buronan; serba salah. Bahkan, bila telah diiming-imingi sekoper duit tuk menjadi pembunuh bayaran, siapa coba yang tidak tergiur akannya?

Hikayat Munir masih tetap hidup dalam cerpen Seno Gumira A. Dan tanggal kematiannya dinobatkan sebagai Hari Pembela HAM oleh para aktivis HAM. Namun, belum genap dua dasawarsa, sudah memuai konflik yang tengah panas-panasnya beredar di tanah nusantara; pembunuh kyai dan ulama dalam keheningan subuh. 

Awal tahun 2018 yang meresahkan masyarakat sekitar perihal kematian kyai dengan motif terbaru dan tak disangka-sangka; modus "orang gila"  yang berkeliaran di masjid-masjid. Mungkin inilah suatu dobrakan mutakhir mereka yang memanfaatkan atau "berpura-pura"  jadi orang gila yang berulah sebagai pembunuh senyap. Kenapa mereka dapat berpikir demikian? Lantas, apa latar belakang yang menyebabkan banyak kengerian dimana-mana?

Segala sesuatu disebabkan adanya kronologi sejarah yang pahit. Bermula dari freaking mind yang selalu mencari huru-hara kesenangan semata, “oknum gelap berhati kusam” bisa jadi dijuluki pada mereka yang sudah gila dan benar-benar gila; tidak perlu berpura-pura. Namun, yang jadi masalah bukanlah trik mereka yang merencanakan aksi "orang gila"  dan seni-seni membunuh lainnya. Tapi, mengapa mereka mengincar pemuka-pemuka agama serta membasminya tanpa ampun?

Seperti dilansir oleh harian terbit, 2018, Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMII), Anton Tabah Digdoyo menegaskan "Isu orang gila menyerang ulama juga mengingatkan peristiwa menjelang jatuhnya Soeharto awal tahun 1998. Bedanya orang gila 1998 hanya bertebaran di jalan-jalan desa dan tidak membunuh. Tapi orang gila awal tahun 2018 targetnya membunuh ulama. Persamaannya sama-sama meresahkan masyarakat luas."

Sebulan silam, tepatnya di Pondok Pesantren Al-Hidayah Santiong, Cicalengka, Kabupaten Bandung, K.H. Emon Umar Basri dianiaya oleh orang gila saat beliau duduk wirid seusai sembahyang subuh. Memang, keadaan masjid saat itu sedang sepi sebab santri-santri kembali ke pondok masing-masing. Aksi kejam ini diperani oleh orang gila yang masuk tiba-tiba ke dalam masjid lalu menganiaya ulama ini.

Belum sempat surut kasus tersebut, terjadi kembali di bilangan Cigondewah Kidul, Bandung, seorang ustadz dianiaya oleh seseorang yang disinyalir sebagai orang gila. Penganiayaan terhadap Ustadz Prawoto, Komandan Brigade Persatuan Islam (Persis) Pusat berlangsung di kediaman beliau dan berakhir tragis; meninggal dunia di Rumah Sakit Santosa daerah Kopo, Bandung. Cuplikan berita yang dimuat oleh Dakwah Media, 2018. Peristiwa ini terjadi di tengah situasi Pilgub Jawa Barat 2018.

Kasus penganiayaan yang melibatkan hal politik merupakan cara jitu dalam menumpas para tokoh agama yang berpengaruh di daerahnya. Jika dibandingkan dengan kasus pilu Munir, mengapa mereka membunuh orang-orang baik dan berilmu? Usut punya usut, adanya rencana terselubung yang hendak menguasai perpolitikan di Indonesia ini. Bisa jadi, kita sebagai penonton media massa, serasa di-adu domba dengan  pro-kontra problematika tahun ini; antara netizen netral dan mereka yang gila.

Seperti yang telah kita kenal, ulama yang biasanya berilmu dengan segudang kitab-kitab islamnya, yang berjubah dan bergelang tasbih, serta Munir, sang penjunjung tinggi asas HAM dapat dibunuh dengan modus yang bermacam-macam motifnya. Kematian yang tak diharapkan ini memunculkan rasa intoleransi antar umat, perpecahan yang meruah oleh oknum tak bertanggung jawab. Beraninya menggunting persatuan yang kini telah terobek sia-sia. Terlaknat!

Dulu, persepsi masyarakat perihal orang gila, hanya sebatas diwajarkan dan memang sudah demikian faktor kejiwaan yang menyimpang dari kata "normal."  Bahkan, saking ibanya, dibangunlah Rumah Sakit Jiwa untuk mengurusi mereka yang tengah down kejiwaannya; stress atau lelah menghadapi ujian dunia ini. Namun, akhir-akhir ini, persepsi masyarakat mulai diputarbalikkan. Melihat orang gila seakan rasa takut bahkan trauma sekalipun. 

Saking takutnya, orang normal mulai menjauhi dari radius kumpulan orang gila. "takut dibacok, takut dianiaya!"  alasannya. Padahal, tidak seluruh orang gila tak berlaku sadis dan anarkis, melainkan hanya segelintir saja yang berpura-pura lalu beraksi di panggung perpolitikan. Sadis!

Hal ini pula menyebabkan adanya penyimpangan asas HAM, yaitu pendiskriminasian antara orang normal dan orang gila. Ini juga merupakan sebuah intoleransi yang pelik! Bagaimana hendak melanjutkan perjuangan Alm. Munir dalam menegakkan HAM bilamana sejumlah kasus ini tetap diulur-ulurkan entah sampai kapan tamatnya?

Kita senantiasa berdoa dari kalangan manapun semoga kasus tersebut lenyap dari setumpuk ironi di Indonesia. Namun, jika ada orang gila tiba-tiba menyuguhi cairan berisi arsenik kepada siapa saja yang ditemuinya, bukankah ini termasuk modus pembunuhan anyar? Apakah ini prediksi modus seni pembunuhan klasik yang akan direncanakan oleh mereka, yang bersembunyi di balik tirai globalisasi ini? bisa jadi!

Jikalau hendak membunuh saja ada "seni" -nya, kenapa tuk berbuat baik tak ada “seni"-nya juga? Harus ada, mengingat karya seni kebaikan dapat dilakukan bila terus istiqomah dalam jalan kebenaran. 

Pertama, dimulai dari diri sendiri untuk berlaku kebaikan lalu tebarkanlah kepada sesama manusia agar senantiasa menuturkan kebiasaan yang baik, serta jagalah ke-bhinekaan dengan saling menghargai antar agama, suku, dan budaya. Jangan sampai sebab hal sepele tadi membuat kesatuan retak dan berantakan entah kemana. 

Untuk menyempurnakan seni kebaikan, tidak perlu terburu-buru. Sebagaimana pepatah jawa, alon-alon asal kelakon, berarti: pelan-pelan asal terwujud; sebab tidak semua manusia suka diburu-buru dan segalanya butuh waktu tuk merubah diri.

Dan yang terpenting ialah, bagaimana cara merawat dan melestarikan warisan toleransi ini?  laksanakanlah! Karena kita bukanlah generasi "tong kosong nyaring bunyinya"  yang hanya berkicau tapi segan terbang, layaknya burung pemalas. Kita bukanlah seperti itu!

Jikalau saja karya seni kebaikan terwujud lancar tanpa hambatan, lantas, seluruh tindakan intoleransi dan ekstremisme di Indonesia akan terkubur dalam-dalam layaknya jenazah Munir dan ulama-ulama lainnya; merasakan bagaimana pahitnya kekejaman yang terlanjur beroperasi di peliknya tanah Nusantara.

Terakhir...

Saya tidak gila dan tidak pernah sekali-kali mencoba gila...

sebab aku (bukan) pembunuh ulama dan kyai.