Jauh di lubuk hati yang paling dalam, terjadi gejolak antara ego yang tak mau diredam dan juga rasa ikhlas yang selalu menemui titik buntu. Menjadi seorang yang pemberani adalah sebuah solusi, mereka bilang. 

Aku menyanggah, bukan garena rasa gundah yang membisikkan kalimat indah akan tetapi karena menjadi pemberani hanyalah akan memberikan solusi tanpa makna. Bukan gayaku.

Menyusuri lorong waktu, aku bertemu dengan banyak orang-orang aneh yang selalu berbicara manis hanya ketika ia membutuhkan bantuanku. Aku menolong mereka, namun yang mereka tidak ketahui adalah fakta bahwa pertolonganku akan membuat mereka jatuh lebih dalam. Ketidaktahuan mereka akan makna dari kehidupan membuat aku mempermainkan kehidupan mereka, jahat? Bukan, itu hanya hukum alam.

Aku lebih tahu tentang kehidupanku dari siapapun yang mencoba mencari tahu banyak hal tentangku, terkadang aku juga mengetahui kehidupan orang lain yang selalu mereka banggakan di arena perang. Mereka berdiskusi mengenai sebuah keputusan yang sebaiknya dilakukan, namun mereka tidak sadar bahwa keputusan itu pada akhirnya hanya akan mempersulit dirinya sendiri. Pada akhirnya, mereka berubah.

Aku hidup dengan seenaknya sendiri, aku sulit mencintai namun aku sangat mudah membenci. Aku berpikir tentang banyak hal di dunia ini, namun hal yang paling sering aku pikirkan adalah apakah hal yang aku lakukan saat ini akan memberikan hasil di kehidupanku yang akan datang. 

Lihat saja, aku hanya berbicara sembari meneguk segelas anggur tanpa mampu merealisasi rencana serta solusi yang keluar dari pikiranku. Faktanya, aku hanya suka mengkritik.

Mereka bilang aku adalah orang yang pandai sebab mereka tidak mampu berpikir seperti apa yang aku pikirkan. Baiklah, aku akan menyebut mereka bodoh karena mereka hanya mengukur kepandaian berdasarkan satu kemampuan yang dimiliki seseorang. 

Jujur saja aku tidak pernah menyebut orang lain adalah seorang yang pandai karena menurutku semua orang itu sama, yang berbeda adalah bagaimana cara mereka mengeksplisitkan kemampuan berpikirnya. Pada akhirnya, aku bukanlah orang yang luar biasa.

Aku telah bersumpah didepan Tuhan dengan mengangungkan namaNya hampir setiap  hari saat aku mendekat kepadaNya. Aku bersumpah bahwa aku hanya akan meniru apa yang telah Nabi ajarkan kepadaku namun selama aku hidup dan mengenal Tuhan, aku malah ingin bertemu dengan Nabi ku untuk bertanya banyak hal mengenai manusia-manusia brengsek yang bertingkah bak turunan Nabi. 

Aku terkadang muak dengan orang-orang yang memiliki keyakinan yang sama denganku karena pengetahuan dangkal mereka tentang kehidupan dunia pada akhirnya membawa bencana sosial yang merepotkan. Aku menyimpulkan, agama bukan peredam konflik.

Hidup ini memang penuh konflik, aku bahkan tidak bisa berdamai dengan diriku sendiri mengenai bagaimana aku harusnya hidup. Aku selalu belajar seolah-olah di dunia ini hanya akulah satu-satunya manusia terbodoh. 

Tapi lihat, ketika aku belajar banyak hal dan memperoleh pengetahuan yang menentramkan aku malah berhadapan dengan orang-orang sok pandai yang hanya belajar satu hal. Aku saat ini berpikir, hanya membaca kitab suci tidak akan membuat manusia menjadi baik dan berguna.

Baiklah, aku menyerah dengan orang-orang yang mengagungkan dirinya dan bertingkah laku seolah-olah dia adalah orang yang patut untuk dihargai. Hey, tapi orang sepertiku tidak akan menghargai si brengsek yang meminta sebuah penghargaan. 

Aku kemudian berpikir untuk tidak menghargai seseorang berdasarkan  ketampanan, kecantikan ataupun kekayaan karena hal semacam itu mampu menjatuhkan harga diriku. Aku memilih untuk menghargai mereka yang juga menghargai orang lain.

Aku berusaha keras untuk menjadi orang yang baik, aku juga meminta pendapat orang lain agar hidupku menjadi lebih baik. Pembelajaran-pembelajaran pahit tentang kehidupan malah membuat diriku menjadi pribadi yang semakin kikir untuk berpikir dan semakin sukar untuk bertengkar. 

Aku sadar bahwa aku tidak akan mampu hidup tanpa orang lain, tapi aku juga tidak akan munafik bahwa sebenarnya aku tidak membutuhkan mereka yang bertingkah superior. Baiklah, aku saat ini akan mengandalkan diriku sendiri.

Aku bermimpi, suatu hari nanti akan ada dunia dimana hanya ada orang-orang yang bertingkah laku serta memiliki jalan pikiran seperti aku yang hidup didalamnya. Aku tidak menyukai konflik, namun orang lain menciptakan konflik. 

Aku tidak menyukai fitnah, namun orang lain saling memfitnah. Terkadang aku berpikir bagaimana mungkin orang melakukan hal-hal yang sebenarnya sangat menjijikan untuk dijadikan sebuah permainan kehidupan.

Baiklah, sepertinya aku harus menyerah untuk bermimpi dan mulai membangun kesadaran sebenarnya. Dunia ini tidak akan berubah, atau mungkin malah berubah akan tetapi tidak akan menjadi lebih baik namun menjadi semakin buruk. 

Aku sepakat dengan diriku sendiri bahwa aku boleh saja untuk berhenti bermimpi, tapi aku tidak boleh berhenti untuk berpikir. Ketika mimpiku berhenti, mungkin aku harus mencari mimpi yang lain dengan berpikir.