Artikel ini hendak menjelaskan tentang aktivis dan aktivisme kepada para pembaca yang sebagian mungkin masih awam. Mungkin sebagian orang masih bertanya-tanya tentang apa itu aktivisme dan dengan demikian bertanya siapa sesungguhnya para aktivis itu; mengapa ada orang-orang yang mau menjadi aktivis dan mampu beraktivisme sedemikian rupa, baik di ranah sosial secara umum dan khususnya di ranah politik.

Brian Martin, seorang profesor emeritus di University of Wollongong, Australia menulis 18 buku dan ratusan artikel tentang anti-kekerasan, whistleblowing, kontroversi ilmiah, isu informasi, demokrasi, dan topik lainnya. Martin juga seorang Wakil Presiden Whistleblowers Australia dan menjalankan situs web besar tentang penindasan terhadap perbedaan pendapat. 

Martin menulis tentang aktivisme dengan judul “Activism, Social and Political” dalam Gary L. Anderson and Kathryn G. Herr (eds.), Encyclopedia of Activism and Social Justice yang diterbitkan oleh Sage pada tahun 2007 di halaman 19 sampai 27, yang dapat diringkas dalam artikel ini.

Sebelum masuk ke dalam pembahasan tentang aktivisme, maka harus dipahami terlebih dahulu bahwa aktivisme itu berdimensi individual atau personal. Sehingga para pelakunya disebut sebagai Aktivis. Hal ini perlu ditegaskan untuk dibedakan dengan kelompok atau organisasi masyarakat sipil, gerakan sosial, dan berbagai istilah atau konsep serta teori lainnya yang biasanya dilekatkan dan relevan dengan aktivisme.

Individu dapat masuk dan keluar dari peran aktivis dengan berbagai cara. Beberapa mulai dengan keterlibatan kecil, secara bertahap menjadi lebih terlibat selama bertahun-tahun, mungkin menjadi reguler atau bahkan aktivis penuh waktu. Sebagian yang lain menjadi aktivis dan terlibat, tetapi keluar dari aktivisme karena kelelahan atau ada komitmen lain.

Aktivisme adalah tindakan atas nama suatu sebab, tindakan melampaui yang konvensional atau rutin. Tindakan yang melampaui politik konvensional, lebih energik, bersemangat, inovatif, dan berkomitmen. 

Dalam sistem pemerintahan perwakilan, politik konvensional mencakup kampanye pemilihan, pemungutan suara, pengesahan undang-undang, dan melobi politisi. Aksi atau tindakan yang disebut aktivisme itu berada di luar arena politik konvensional, termasuk di dalamnya adalah pengorganisasian lingkungan, pawai protes, dan aksi pendudukan. Batas antara aktivisme dan politik konvensional tidak jelas dan tergantung pada keadaan.

Aktivisme biasanya dilakukan oleh yang kurang atau bahkan tidak berkuasa, karena yang memiliki posisi kekuasaan dan pengaruh biasanya mencapai tujuan dengan menggunakan cara konvensional dalam politik. 

Kadang-kadang, orang-orang yang memegang kekuasaan bisa juga disebut aktivis, ketika mereka hendak atau sudah melampaui harapan-harapan yang katakanlah normal, seperti "presiden aktivis" yang mendorong kepemimpinan nasional melalui agenda-agenda ambisius, atau "hakim aktivis" yang menafsirkan hukum dengan cara baru dan berbeda dengan cara-cara konvensional atau tradisional atau lama. Namun, sebagian besar pembicaraan, pembahasan, dan pewacanaan tentang aktivisme adalah dari bawah, sering disebut aktivisme akar rumput atau grass root activism.

Aktivisme dilakukan biasanya karena ada keresahan yang muncul dalam realitas kehidupan sosial. Di antara aktivisme yang pernah dilakukan dan ada di dunia misalnya untuk mengakhiri perbudakan, menantang kediktatoran, melindungi pekerja dari eksploitasi, melindungi lingkungan, mempromosikan kesetaraan bagi perempuan, menentang rasisme, dan banyak masalah penting lainnya. Setidaknya, untuk menantang keputusan atau mencoba mengubah proses pengambilan keputusan yang biasa berlaku.

Gambaran aktivisme yang paling umum adalah protes publik, seperti rapat umum, pawai, atau pertemuan publik. Gene Sharp membagi metode aksi non-kekerasan menjadi tiga jenis utama. Pertama metode protes dan persuasi, seperti pidato, slogan, spanduk, piket, disrobing protes, main hakim sendiri, nyanyian, pawai, dan pengajaran. 

Kedua adalah non-kooperasi, seperti pemogokan, pembangkangan, pemboikotan, embargo, dan sebagainya. Ketiga adalah intervensi, termasuk aksi duduk, pekerjaan non-kekerasan, teater gerilya, puasa, dan mendirikan lembaga ekonomi dan politik alternatif. Semua ini, dan banyak lagi, dapat menjadi metode aktivisme - dari varietas non-kekerasan.

Tim Jordan mengajukan tiga jenis aktivisme: berorientasi masa lalu, sekarang, dan masa depan. Aktivisme berorientasi masa lalu atau reaksioner berupaya melindungi kepentingan yang memiliki kekuasaan lebih besar, sering kali dengan mengorbankan yang lebih lemah. 

Aktivisme berorientasi masa kini ditujukan untuk mengubah kebijakan. Ini juga disebut reformisme. Contohnya kampanye untuk hukum dan peraturan. Aktivisme berorientasi masa depan adalah tentang mengubah hubungan sosial, bukan hanya kebijakan.

Dimungkinkan melihat aktivisme sebagai spektrum dari lokal ke global, baik secara geografis maupun dalam hubungannya dengan orang bersangkutan. Secara tradisional, sebagian besar aktivisme berfokus pada manusia. Hak-hak hewan dan gerakan lingkungan telah memperluas area perhatian di luar manusia ke bentuk kehidupan lain dan bahkan ke alam anorganik. 

Dapat diharapkan di masa depan, batas-batas aktivisme akan terus berkembang ke domain yang sekarang hampir tidak dikenal, termasuk kreasi teknologi manusia. Wilayah aktivisme juga bergeser ke dalam, dari ruang publik ke ranah individu dan personal.