Jika secara kolektif kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memahami betul tentang titik temu untuk melakukan proses mencapai sebuah tujuannya yang ada di dalam pedoman perjuangan HMI, yakni Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP), maka realitas mewujudkan masyarakat adil makmur dalam format masyarakat beragama akan terealisasikan dengan akses yang begitu cepat dan mudah.

Di dalam kamus HMI, kata “perjuangan” menjadi kata yang paling istimewa diartikulasikan oleh seluruh kader HMI. Mengapa demikian? Menuju kepada cita-cita, tentu dibutuhkan energi perjuangan untuk menunaikan apa yang menjadi segala harapannya.

Namun, agar arah gerak perjuangan bagi kader HMI tersebut matang dan jelas untuk ditindak lebih lanjut, maka dibutuhkan aksentuasi pemahaman terhadap NDP itu sendiri.

Bagian yang membahas mengenai proses perjuangan di dalam NDP ada pada Bab 3, yaitu tentang kemerdekaan manusia (ikhtiar) dan keharusan universal (takdir); dan Bab 7, yaitu kemanusiaan dan ilmu pengetahuan.

Telah dibahas sebelumnya oleh MHR Harun Shikka Songge (Alumni HMI Cabang Yogyakarta dan Peneliti Lembaga Kajian Publik Sabang Merauke Circle) tentang hal di atas bahwa di dalam NDP terdapat unsur ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Bahasan dari MHR Shikka Songge tentang bagian dari proses yang perlu dilakukan oleh kader HMI adalah terdapat pada unsur epistemologisnya.

Epistemologi pada NDP, yaitu tentang bagaimana proses ikhtiar tersebut harus secara kontinuitas dilakukan dan meyakini bahwa takdir pasti berlaku yang tertuju pada manusia itu sendiri yang memiliki ilmu dan pengetahuan.

Di dalam takdir pun tidak serta merta mengikat seluruhnya kepada manusia. Artinya, tidak semua yang ditetapkan oleh Tuhan mengikat manusia, sehingga manusia tidak memilki kebebasan untuk berbuat. Toh berbuat baik ataupun tidak, Tuhan akan menakdirkan manusia ditempat yang telah ditetapkan-Nya.

Manusia memiliki kebebasan tersendiri. Adapun takdir yang ada pada manusia bermakna kebebasan moral, suatu kualitas atau sikap pribadi yang tidak bergantung pada dan ditentukan di luar dirinya.

Sebenarnya takdir yang bermakna ketentuan, ketetapan, batasan, dan ukuran itu diberikan kepada alam semesta sifatnya pasti sedangkan pada manusia bermakna hukum hukum Tuhan yang universal.

Epistemologi NDP membahas mengenai hal tersebut. Sehingga segala sumber pengetahuan yang lahir dari manusia perlu diikhtiarkan hingga titik darah penghabisan dan disertai keikhlasan.

Semua berawal dari membaca teks NDP secara keseluruhan dan kemampuan memahami konsep epistemologi tersebut. Ada sebab dari penitahan membaca seluruh substansi ND. Karena memang kerangka berpikir antar-bab per bab itu saling berkesinambungan.

Dinamika berpikir dalam memahami teks nilai nilai dasar perjuangan menjadi hal yang begitu integralistik. Realitas tentang Tuhan, Manusia dan Alam Semesta adalah unsur bahasan dari nilai nilai dasar perjuangan yang mengikat satu dengan lainnya.

Sudah seharusnya kader HMI melakukan penetrasi pemikiran dengan upaya reinterpretasi dari teks nilai nilai dasar perjuangan. Hal itu pula adalah upaya mengilhami dan menghayati tentang esensi tujuan yang di gagas oleh Nurcholis Madjid dan kawan kawan dalam meningkatkan derajat organisasi HMI.

Konsep ikhtiar dan takdir menyemaikan semangat kader HMI untuk berjuang ke arah yang bersifat teologis, antropologis dan sosiologis. Kader HMI pun perlu memahami secara mendalam tentang dimensi Tuhan, Manusia dan Masyarakat.

Untuk menempuh jarak diantara ketiganya dibutuhkan keimanan dan ilmu yang luas. Hal tersebut juga telah dijelaskan pada pengantar pengurus besar himpunan mahasiswa islam periode 1969-1971 atau pengantar nilai nilai dasar perjuangan yang pertama kali dibentuk.

Bagaimana syarat sukses dalam proses perjuangan itu terbagi menjadi dua poin penting. Pertama, keteguhan iman atau keyakinan kepada dasar, yaitu idealisme kuat, yang berarti harus memahami dasar perjuangan itu. Kedua, ketepatan penelaahan kepada medan perjuangan guna dapat menetapkan langkah langkah yang harus ditempuh, yaitu ilmu yang luas.

Dua syarat tersebut adalah terbagi menjadi hal yang mutlak dan fleksibel. Syarat pertama adalah sesuatu yang mutlak diperjuangkan dan syarat kedua bersifat dinamis, artinya dapat disesuaikan oleh keadaan.

Gagasan-gagasan yang dituangkan itu perlu menjadi senjata dan tameng dalam memerangi kebodohan, kezaliman atau yang biasa disebut didalam NDP adalah thagut. Bisa dikatakan bahwa NDP adalah mazhab dari HMI, atau pedoman perjuangan dalam mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridai Allah SWT.

Siapa yang memainkan peran untuk mewujudkan itu semua? Manusia itu sendiri, sumber segala ilmu dan pengetahuan ada di dalam otoritas tubuh manusia. Kebebasan menjadi nilai yang mutlak bagi manusia untuk memperoleh sesuatu apa yang ia usahakan.

Tuhan sudah memberikan amanah bagi manusia untuk memakmurkan bumi dengan sebaik baiknya. Tidak ada kekangan ataupun paksaan dari Tuhan itu sendiri untuk berbuat baik atau tidak. Semua sudah diserahkan pada diri manusianya.

Bentuk proses itulah, jika secara kontinuitas dilakukan, maka lahir sebuah peradaban yang progresif. Tidak sebaliknya, mengalami stagnasi.