Mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi, baik di universitas, institut atau akdemi. Sebutan Mahasiswa dan Siswa sebenarnya tidak ada bedanya, keduanya sama-sama pelajar, hanya saja seoarang Siswa belajarnya di sekolah-sekoah dengan menggunakan seragam setiap harinya, sedangkan Mahasiwa tempat belajarnya di kampus tanpa diharuskan  menggunakan pakaian berseragam. 

Selain itu sistem belajar antara keduanya tidak sama, dalam dunia kampus seorang Mahasiswa lebih banyak berperan dibandingkan Dosennya, didalam kelas melakukan presentasi, diskusi, adu argumen dan semacamnya. Sedangkan seorang Siswa betul-betul harus memperoleh perhatian dan didikan yang sangat dari Guru-gurunya selain juga oleh orang tuanya. Jika disederhanakan Mahasiswa jauh lebih mandiri dibandingan Siswa, selain juga memang karena usianya yang jauh berbeda.

Seorang Mahasiswa cendrung lebih berani daripada seorang Siswa dikarnakan faktor kematangan berfikirnya. Seorang Mahasiswa harus peka terhadap kondisi sekitarnya, utamanaya Masyarakat. Bagaimana agar dirinya memiliki keberanian dalam menyampaikkan keluh kesah Masyarakat kepada pemerintah. Juga menuyarakan apa yang mereka inginkan dari pemerintah. Maka wajar jika yang menjadi peserta aksi ataupun demo adalah golongan Mahasiswa. Keluh kesah Masyarakat pasti ada, maka butuh orang yang menjadi penyambung lidah untuk menyampaikan hal itu semua, yaitu seorang Mahasiswa.

Disamping itu semua dan yang paling utama adalah bagaimana agar Mahasisawa memiliki etika ataupun akhlak  yang baik kepada siapa saja dan dimana saja. Di kampus  berakhlak baik kepada Dosen dan sesama Mahasiswanya, diluar kampus kepada Masyarakat dan utamanya jika ada dirumah kepada keluarga dan tetangga misalnya. 

Karena tak sedikit dari Mahasiswa yang memiliki etika kurang baik, dan karena seringnya dilakukan lalu hal itu dianggap tidak apa-apa, biasa saja, tidak berdosa. Seperti contoh sederhana misalnya didalam kampus dengan sengaja tidak mematuhi aturan-aturannya, pegi kuliah tidak menggunakan sepatu, atau lebih tidak baik lagi menggunakan celana bolong-bolong. Sungguh hal itu bukanlah cerminan akhlak atau etika seorang Mahasiwa.  Maka sebelum hal itu terjadi lebih parah lagi, maka patut jika kesalahan-kesalahn itu diperbaiki sejak sekarang.

Yang perlu dikasih penilaian adalah misalnya akhlak seorang Mahasiswa kepada Dosennya yang berstatus sebagai guru baginya. Didalam kitab-kitab akhlak siapapun harus bertakdzim kepada gurunya. Di dalam kelas mendengarkan dengan khidmat penjelasannya, jika berkeinginan bertanya maka harus mengajukan tangan terlebih dahulu agar gurunya tau, jika diidzinkan maka boleh-boleh saja dia bertanya pin begitu pula jika dilarang misalnya. 

Di luar kelas ketika Dosennya lewat maka harus ditakzimi, jika semula duduk maka dia harus berdiri sebagai tanda penghormatan. Jika berpapasan maka alangkah baiknya jika dirinya memulai terlebih dahulu dengan panggilan salam. Serta akhlak-akhlak baik lainnya dan tidak mungkin disebutkan terlalu perinci dalam tulisan ini, cukup dibandingkan terlebih dahulu mungkin antara baik dan buruknya.

Namun yang ada sekarang realitanya tidak demikian, Dosen-dosen kurang dihormati. Bahkan tidak segan-segan ada seorang Mahasiswa yang berani mengkritik ditempat yang bukan seharusnya. Dosennya dicoba-coba dengan pertanyaan yang sebetulnya sudah diketahui jawabannya. Didalam kelas kurang dihormati, bertutur kata dengannya kurang sopan, disuruh begini bilangnya tidak mau diatur. Diluar kelas juga kurang dihormati, jika berpapasan tidak mengucapkan salam, jika dirinya duduk dan Dosennya lewat seakan-akan tidak ada apa-apa.  Meskipun diantara contoh-contoh perilaku buruk ini masih ada Mahasiwa yang tidak demikian.

Jika akhlak yang dimiliki seorang Mahasiwa seperti itu, sebenarnya itu bukan akhlak ideal mahasiswa. Karena sebenarnya semakin seseorang bertamabah ilmunya semakain pula dia mampu bersopan santun dan berperilaku baik. Hal ini seringkali diibaratkan dengan padi, padi muda yang kosong  jelas kelihatan bahwa tanaman itu lurus keatas. Setelah tanaman itu tua dan berisi maka otomatis akan merunduk, semakin berisi semakin pula merunduk. Pun demikian seharusnya seorang Mahasiswa kepada Dosennya, karena ketika sudah dibangku perkuliahan sebenarnya adalah bukti kematangan ilmunya.

Sudahlah tidak usah berlika-liku, Mahasiswa tetap harus beretika dimanapun berada. Apalagi ditempat tinggalnya sendiri. Jika kenyataannya tidak demikian, maka dapat dilihat sendiri bagaimana respon tetangga sebelah kepada dirinya, ia akan menjadi sorotan tetangga, menjadi buah bibir mererka. Misalnya dikatakan “eh si Ahmad padahal sudah kuliah tapi kok akhlaknya demikian ya, tiap hari pasti boncengan sama pacarnya” ada lagi yang bilang ”si Ahmad tidak ada gunanya kuliah jauh-jauh menghabiskan biaya puluhan juta jika perilakunya seperti itu, lebih baik Muhammad yang alumni pondok sekalipun tidak kuliah”. Akan ada banyak suara berisik lainnya dan itu akan sampai ditelinganya sendiri. Belum lagi bagaimana nanti perasaan orang tuanya.

Mahasiwa akan di contoh oleh siapa saja. Jangan heran jika dirinya akan dinilai oleh banyak orang, karena memang begitulah kehidupan bersosial. Terlebih jika yang menilainya adalah orang yang kurang berpendidikan. Yang dinilai bukan seberapa tinggi ilmunya, tetapi bagaimanakah dia berakhlak kepada sesama. Karena akhalak adalah sebagai pakaian luar Manusia.  

Demikian juga Mahasiswa yang akhlaknya baik, tentu dia akan memperoleh sanjungan, belum lagi jika keilmuannya bagus maka dia akan dibutuhkan dimasyarakat, akan dihormati. Lagi-lagi ini adalah karena akhlaknya. Dan biasanya hal itu akan dijadikan barometer oleh orang lain, kesemangatan orang tua untuk menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya sekalipun dia termasuk golongan yang tidak mampu, karena sudah diketahui bahwa jika kuliah maka akan seperti orang itu tadi, pintar dan dihormati semua orang.

Namun jika sebaliknya, Mahasiwa yang selalu berbuat onar, masalah, akhlaknya kurang baik, jangan harap dirinya akan memperoleh perlakuan baik dari Masyarakat. Paling yang didengarnya setiap hari adalah omongan kurang baik tentang dirinya, hinaan, cacian dan hal kurang enak lainnya. Dan orang tuanya pun akan seperti itu juga, merasa malu memili anak seperti dirinya, bahkan lebih parah lagi ada orang tua yang tidak menganngap anaknya sebagai anak jika perilakunya sebagaimana deskripsi diatas. 

Dalam hal ini misalnya siap yang kurang ajar?. Tentu adalah ananya yang tidak tau diri, tidak mengamalkan ilmu-ilmu yang didapat selama orang tuanya menyekolahkan bahkan sampai tamat S2 sekalipun. Hal tersebut dalam Masyarakat akan dijadikan pertimbangan bagi anaknya untuk disekolahkan biasanya. Mereka berkata “buat apa sekolah tinggi-tinngi jika akhirnya tidak ada bedanya dengan yang tidak sekolah, buang-buang biaya, lebih baik langsung kerja enak dapat gajian” begitulah kira-kira komentar Masyarakat.

Begitulah memang sifat sensitif dan fanatik Masyarakat dalam menyikapi sebuah realita sosialnya. Apa yang dilihatnya secara kasat mata akan langsung dijadikah buah bibir, dibicarakan setiap saat, dan pada akhirnya ditempat itu tidak ada satu orangpun yang tidak tau. Maka sebelum hal ini terjadi khususnya bagi seorang Mahasiswa agar berhati-hati dalam geraknya di Masyarakat. Bagaimana agar memiliki akhlak yang terpuji, berusaha menerapkan ilmu-ilmu yang diketahui, menjadi Khoirun An-nas anfauhum lii An-nas, peka terhadap lingkungannya dan terakhir tidak melakukan sesuatu atas dasar egonya sendiri tetapi melihat bagaimanakah respon Masyarakat nanti.