Benar, akhirnya pilkada (khususnya di Jakarta) telah selesai. Selesailah para paslon beretorika. Selesailah urusan pilih-memilih nomor urutan. Selesailah pula debat mendebat baik sesama pasangan paslon dan juga para pendukung-pendukung fanatiknya. Tinggal menunggu hasilnya saja.

Tak sabar menunggu isi timeline facebook kembali segar berisi karya-karya dari segala kalangan. Tak sabar pula menunggu kultwit-kultwit yang bermanfaat lagi di Twitter.

Tentu, saya pun tak sabar menunggu snapgram yang isinya keceriaan sambil pamer sana, pamer sini di IG. Capek melihat media sosial bersuhu panas selama aktivitas pilkada. Padahal, Jabodetabek sedang gemar berhujan ria.

Oh iya, tapi belum benar-benar selesai sih ya. Soalnya kan masih menunggu hasil-hasil sementara atau mungkin putaran kedua.

Belum lagi kalau, takut-takutnya ada yang tak terima dengan hasil-hasil dari pilkada ini. Duh, makin repot deh. Tertunda deh bagi mereka-mereka yang bersinggungan dan berniat baikan (bahkan mungkin ada yang mau balikan) sama temen-temen atau mantannya.

Seharusnya sih, ga perlu lagi lah ada aju banding (apalagi protes) atas nama kambing hitam ini-itu yang padahal intinya cuma supaya paslon pendukungnya tetap menang (dengan mengatasnamakan transparansi, demokrasi dan keadilan).

Berapa pun jumlah paslon yang ada, sebagus apapun paslonnya dan seberapa cintanya kita dengan paslon yang kita dukung, kota-kota yang ada pilkada tetap luas, banyak masalah yang harus diselesaikan dan yang bagus perlu dikembangkan. Tak selamanya akan menjamin paslon pemenang akan bisa mengurus kotanya dengan sempurna.

Segera setelah si paslon menang, bukankah ia akan perlu terlebih dahulu merealisasikan janji-janji manisnya atau bahasa sopan dan kerennya, retorikanya sendiri.

Akan jadi masalah tersendiri dalam hitungan waktu yang cepat segera setelah si paslon bekerja akhirnya tidak bisa atau kelihatan terlalu lama membuktikan omongannya kepada rakyat di kota yang dipimpinnya sekarang.

Tentu yang memperhatikan secara jeli pasti bukan para pendukungnya atau rakyat kota itu sendiri melainkan para pendukung fanatik paslon lain yang gagal menang.

Saya agak sedikit skeptis melihat masyarakat akan kembali terkelompok-kelompokan setiap pasca pemilihan umum. Masih ingat kan pasca pemilu Presiden 2014, masyarakat Indonesia seakan terbagi ke dua bahtera: pendukung pasangan no. 1 dan no. 2.

Saya takut, masyarakat akan terbagi lagi terkotakkan menjadi 3 bagian pendukung. Nanti, kalau-kalau dalam waktu beberapa tahun dari sekarang ada pemilihan umum lainnya dan pasangan ada lebih 3? Saya lebih baik tidak membayangkannya deh…

Saya jelas berharap dan berdoa supaya kedepannya, ketika ada pemilu lagi, kita dapat memilih tanpa harus menjelekkan pasangan lain. Dari pemilihan umum Kepala Daerah sekarang, meski saya sendiri tidak mencoblos, saya tetap belajar banyak. Salah satu yang terpenting adalah sikap menentukan pilihan pada paslon yang kita pilih.

Barangkali tak terhitung lagi bagi mereka yang akhirnya saling membenci dan tak segan memencet tombol unfollow bahkan unfriend hanya karena tidak suka melihat rekan dunia mayanya di Facebook tak memilih paslonnya.

Pasalnya, tindakan itu bukan tak beralasan. Mereka memilih calon pasangan yang mereka dukung dengan cara menunjukkan bahwa paslon lainnnya tak layak pilih atau bahkan secara kasar, difitnah ini itu.

Misalnya pernyataan-pernyataan begini, “Saya memilih nomor 1 karena nomor 2 kafir dan nomor 3 hanya sekedar bicara”, atau “Saya memilih nomor 2 karena nomor 1 belum berpengalaman dan nomor 3 seperti dosen,” atau “Saya memilih nomor 3 karena nomor 1 belum siap jadi gubernur dan nomor 2 tidak bisa jaga mulut.”

Kita bisa bayangkan bagaimana mungkin kita memilih dan mencoba meyakinkan pilihan kita sendiri dengan cara menyatakan bahwa pilihan lain jauh lebih jelek dari yang kita pilih hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa pilihan kita memang benar.

Hal itu bukan saja sekedar mengandung argumentum ad hominem semata tetapi juga secara tak langsung menunjukkan boleh jadi kita tidak benar-benar yakin tentang pilihan kita sendiri.

Bukankah akan jauh lebih baik kalau kita sejak awal pamerkan saja kelebihan-kelebihan yang ada dalam diri pasangan yang kita pilih tanpa harus repot-repot menyindir, mengejek hingga memfitnah pasangan lainnya.

Katakan saja, “saya memilih nomor sekian karena beliau itu memiliki kharisma seorang pemimpin, pengalaman yang tak sebentar dan prestasi yang bagus, titik”.

Terlepas dari siapapun pasangan yang Anda pilih untuk memimpin kota atau bahkan Negara sekalipun, selama memiliki hak politik untuk mencoblos, maka ikutlah memilih.

Semoga setiap kota mendapat pemimpinnya yang terbaik. Amin.