Akhir- akhir ini banyak media yang meperbincangkan terkait dengan covid 19 yang terjadi di India, tidak hanya media Nasional akan tetapi juga media International. Tentu hal ini sangat menarik dan membuat perhatikan masyarakat tertuju kepada permasalahan covid 19 di India. 

Jika kita ketahui jumlah kematian pada masayarakat di India setiap harinya semakin bertambah dan terus meningkat. Sehingga hal ini membuat penulis tertarik untuk menulis artikel ini.

Kementerian Kesehatan India melaporkan, ada 3.293 kematian baru, ini menjadi rekor tersendiri bagi negara tersebut. Dengan tambahan ini, total kematian secara keseluruhan tembus di atas 200.000 kasus, tepatnya mencapai 201.187 kematian.

 Jika melihat kasus tesebut diatas tentu ini menjadi perhatian dunia khusunya WHO yang semakin hari jumlahnya semakin bertambah dan semakin naik.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut corona (Covid-19) di India sebagai "badai yang sempurna". Virus menyebar massif di tengah pelonggaran- pemerintah, abainya warga ke protokol kesehatan, varian ganas hingga vaksinasi corona yang rendah.

Selain itu juga Program vaksinasi di India berjalan lamban. Sejauh ini kurang dari 10% penduduknya telah mendapat vaksin dosis pertama dan kurang dari 2% mendapat dosis penuh.

Itulah gambaran yang terjadi dalam program vaksinasi di India, meskipun negara itu menjadi markas dari produsen vaksin terbesar di dunia, yakni Serum Institute of India.

Di ibu kota, New Delhi, ambulans berbaris berjam-jam untuk membawa korban Covid-19 ke fasilitas krematorium darurat yang berada di taman dan tempat parkir, tempat mayat dibakar di barisan kayu bakar.

WHO sendiri telah mengirimkan empat ribu konsentrator oksigen, rumah sakit lapangan bergerak prefabrikasi dan persediaan laboratorium. 

WHO juga mengatakan telah memindahkan lebih dari 2.600 ahli dari berbagai program, termasuk polio dan tuberkulosis, untuk bekerja dengan otoritas kesehatan India guna membantu menanggapi pandemi.

Pertanyaannya yang ada dibenak penulis saat ini apakah Indonesia yang kita cintai ini akan mengalami nasib yang sama seperti di India?

Protokol Kesehatan yang ketat

Coronavirus ini tidak mengenal negara, suku, kebangsan, umur jenis kelamin dan budaya. Siapapun jika sudah terinfeksi virus ini maka pilihannya adalah bertahan atau akan mengalami kesakitan hingga kematian.

Mengapa India dilanda gelomba pandemi kedua?padahal yang kita ketahui sebelumnya bahwa India ini sudah pulih dari pandemi gelombang pertama, bahkan masyarakat di India sudah kembali hidup normal dan negara tersebut mulai  melakukan ekspor vaksin. Pertanyaannya mengapa hal ini terjadi di India??

Saat ini India mengalami gunvangan setelah jumlah infeksi meningkat  menjadi 17 juta dalam beberapa hari terakhir dan jumlah kematian resmi melebihi 190 ribu. 

Bahkan tempat tidur dirumah sakit pun tidak cukup, persediaan oksigen berkurang, pusat vaksinasi kehabisan dosis dan apotek- apotek yang ada di India tidak dapat memenuhi permintaan anti-virus.

Jika kita perhatikan masih banyak masyarakat kita yang melalaikan aturan protokoler yang telah dibuat oleh pemerintah, masyarakat kita masih banyak yang tidak peduli terhdap hal tesebut  dan bahkan mementingkan dirinya sendirinya.

Beberapa hal yang harus kita lakukan agar kejadian di India ini tidak terjadi di negara kita Indonesia  adalah dengan melakukan beberapa hal

Pertama tetap gunakan masker, penggunaan masker tetap dilakukan apalagi berada di luar rumah, penggunaan masker di luar rumah ini menjadi sangat penting selain penggunaan masker cuci tangan secara teratur setiap kita selesai melakukan aktivitas.

Kedua selalu menjaga jarak dan tidak menyentuh sembarang benda- benda ditempat umum apalagi sebentar lagi akan memasuki liburan hari raya yang dapat juga mengakibatkan lonjakan kasus covid jika masyarakat lalai dan tidak menghiraukan protokol kesehatan.

Ketiga selalu menjaga diri dan anggota keluarga. Selalu membawa hand sanitizer yang mengandung setidaknya 60% alkohol ke mana pun pergi. 

Bila perlu, berikan setiap anggota keluarga 1 hand sanitizer untuk dibawa ke mana-mana. Ini sangat berguna untuk membersihkan tangan ketika air dan sabun tidak tersedia, apalagi sebentar lagi akan menghadapi liburan hari raya

Vaksin bukan segala- galanya

Kehadiran vaksin Covid-19 ibarat pelita di ujung lorong pandemi yang gelap. Tak heran, banyak negara berebut mengamankan kebutuhan vaksinnya sejak awal sebelum uji klinis selesai. Bahkan, beberapa negara sudah menggelar vaksinasi Covid-19 pada warganya.

Setelah mendapatkan vaksin COVID-19, mungkin sebagian masyarakat ada yang merasa bahwa dirinya aman sepenuhnya terhadap penyakit tersebut, padahal hal ini tidak benar. Hal ini dinamakan efek Peltzman. 

Walau telah mendapatkan vaksin COVID-19, tetap perlu wapada dan tetap menjalani protokol kesehatan agar terhindar dari penularan virus Corona.

Dari hasil laporan Ketua Satgas Penanganan Covid 19 Letjen TNI Doni Monardo yang menyebutkan bahwa tingkat disiplin masyarakat untuk melaksanakan 3M atau protokol kesehatan mengalami penurunan di semua daerah, sehingga hal ini akan memicu peningkatan jumlah kasus aktif covid 19 di Indonesia.

Banyak dari warga masyarakat yang beranggapan bahwa hadirnya vaksin di Indonesia ini akan dapat mengatasi persoalan covid 19 sehingga masih banyak yang tidak memperdulikan protokol kesehatan

Hal ini menjadi perhatian kita bersama- sama dikarenakan vaksin ini bukan segala- galanya untuk pengobatan atau pencegahan covid 19 ini, sehingga kita semua harus tetap menjalani protokol kesehatan agar kejadian di India ini tidak terjadi di Indonesia yang kita cintai ini.

Semoga Indonesia segera bebas dari COVID 19