Sumatra Selatan adalah sebuah tanah penuh histori di negeri ini. Bagaimana sebuah emporium besar dahulu berkuasa dan begitu digdaya menaklukkan negeri nun jauh dari tanah asalnya. Sebuah emporium yang tumbuh, besar, dan berkembang di tanah rawa gambut yang kaya akan hutan dan hasil bumi.

Air Sugihan merupakan salah satu daerah paling terpencil di timur Sumatra Selatan dan berstatus demografis sebagai kecamatan. Air Sugihan ini pulalah yang dahulu merupakan pintu gerbang Sriwijaya sebelum mengarungi samudra luas di depan mata.

Ada sebuah pepatah berkata, “Manusia tidak akan bisa melawan alam.” Pepatah itulah yang memengaruhi sejarah maupun masa depan peradaban manusia di mana pun tempatnya. 

Di Air Sugihan, masyarakatnya harus menjalani kehidupan sehari-hari dengan faktor alam yang penuh tantangan. Masyarakat Air Sugihan merupakan salah satu contoh pelaku sejarah transmigrasi Jawa di era Orde Baru. Datang ke belantara asing Sumatea untuk mengembangkan wilayah yang telah terkanalisasi rapi oleh kepentingan korporasi HPH (Hak Pengusahaan Kayu) dan illegal logging

Bertahun-tahun sejak praktek illegal logging dengan bencana deforestasi besar-besaran, alam seolah membalasnya dengan lahan kering yang sulit ditanami dan air yang sulit dikonsumsi.

Alamlah yang membentuk manusia beserta karakternya. Kegigihan masyarakat Air Sugihan terlihat betul dalam bagaimana menjalani hidup dengan segala keterbatasan sejak awal dekade 80-an hingga saat ini. 

Jangan bayangkan segala ketersediaan, kemudahan, dan infrastruktur ala kota ada di sini. Bersyukurlah listrik telah masuk di tahun 2017, terbayang betapa menyedihkannya hidup bergelap-gelapan selama lebih dari 30 tahun. 

Akses ke Palembang dilakukan melalui sungai dengan moda transportasi speedboat atau kapal jukung (sejenis kapal kayu tradisional bermesin motor, digunakan untuk memuat hasil bumi dan sembako). Jalan darat terputus hingga Kab. Banyuasin saja, tidak ada jembatan yang menyambungkannya ke Air Sugihan.

Memang benar adanya anekdot yang menyebutkan bahwa masyarakat suku Jawa begitu versatile dan berdaya juang hidup tinggi untuk ditempatkan di mana pun. 

Transmigrasi pertama yang mungkin tercatat dalam sejarah, yaitu pengiriman pekerja Jawa pada akhir abad ke-18 ke Suriname, sebuah negara koloni Belanda di Amerika Selatan yang berjarak ratusan ribu kilometer dari Indonesia. Hal inilah yang mengilhami Orde Baru untuk dapat mengembangkan wilayah Indonesia lain melihat pulau Jawa yang kian padat penduduk. 

Kini Air Sugihan telah berubah dari daerah kritis eks-HPH dan illegal logging menjadi salah satu daerah lumbung padi nasional. Keberhasilan para petani lokal tak luput dari proses panjang jatuh-bangunnya usaha pengolahan lahan pertanian dengan kondisi alam yang kurang mendukung.

Sedari awal migrasi masyarakat ke Air Sugihan, mereka berhadapan dengan ketiadaan salah satu faktor pendukung kehidupan manusia: air bersih. Air tanah dan sungai (permukaan) bersifat asam dan sulit digunakan untuk olahan air minum, digunakan untuk mandi pun terasa lengket di badan. Menggali sumur pun percuma, puluhan meter masih belum menemui air tawar. 

Ibarat semacam kutukan nama, nama Air Sugihan menjadi kontradiksi antara nama dan realitas. “Sugih” berasal dari bahasa Jawa yang berarti kaya. “Air Sugihan” berarti selayaknya tempat yang “kaya atau berlimpah air”. Berlimpah air namun sulit untuk dapat digunakan. 

Untuk kesekian kalinya manusia harus berdamai dengan alam dan bukan untuk melawannya. Masyarakat Air Sugihan pun berdamai dan menggunakan jawaban alam lainnya untuk dapat bertahan hidup: air hujan.

Masyarakat menerapkan teknologi sederhana pada tiap rumahnya dengan memanfaatkan hukum fisika yang sederhana pula. Just do our best and let gravity take care of the rest

Masyarakat membuat rangkaian jalur intersepsi buatan di atap rumah yang dialirkan menuju satu penampung air besar di bawahnya. Air hujan adalah juru selamat mereka untuk olahan air minum, memasak, dan mandi. 

Namun masalah masih belum berhenti sampai di sini, hujan menghilang kala musim kemarau tiba. Untuk kesekian kalinya naluri bertahan hidup berbicara, masyarakat menyiasatinya dengan menyimpan stok air hujan berlebih menjelang musim kemarau.

Perlahan seiring jalur perdagangan via sungai terbentuk, masyarakat transmigran mulai mampu mendapatkan akses air bersih dan air minum kemasan dari Palembang. Jalur perdagangan itulah yang ke depannya menjadi denyut nadi Air Sugihan. 

Air Sugihan dengan jumlah penduduk mencapai ribuan adalah pasar tersendiri bagi distributor dan pedagang dari Palembang. Ibarat simbiosis mutualisme, warga pribumi Sumatra Selatan menjadi pedagang dan warga pendatang Air Sugihan sebagai penyedia hasil bumi pertanian. 

Sinergi seperti inilah yang menjadi budaya dan mengakar kuat di Sumtera Selatan. Sebuah provinsi yang toleran, heterogen, dan penuh akulturasi budaya.

Fast forward to 2019, Air Sugihan kini semakin ramai dan hidup. Masyarakat Air Sugihan tak lagi sendirian. Sebuah megaproyek APP (Asia Pulp & Paper) Sinar Mas, PT OKI Pulp & Paper Mills, telah berdiri megah di Dusun Sungai Baung, Desa Bukit Batu. Industri dan perkebunan tetap berdampingan serasi dengan pertanian masyarakat. 

Hasil bumi yang dahulu cenderung sulit dipasarkan, kini pasar pun tercipta dengan sendirinya. Bahkan kini masyarakat tidak perlu khawatir lagi akan ketiadaan air bersih dan air minum, fasilitas pengolahan air minum dan air bersih telah berdiri di 2 (dua) desa berkat bantuan PT OKI Pulp & Paper Mills.

Suratan takdir telah berkata dan pada akhirnya berpihak ke masyarakat Air Sugihan. Pembangunan adalah sebuah keniscayaan. Sudah semestinya manusia berkompromi dengan alam. Sudah semestinya manusia berkompromi dengan sesama manusianya sendiri, dalam hal ini terbinanya hubungan yang baik antara masyarakat dan mitra-mitra korporasi yang ada. 

Air Sugihan telah bertranformasi. Air mata telah berganti menjadi mata air di mana-mana.