Di depan ruko yang telah tutup, aku dan Lim memandang jalan yang basah. Di bawah kanopi seng yang pendek, menanti tanpa kepastian kapan hujan sedikit reda. Cipratan air mulai membasahi kaki, juga serbuk-serbuk basah yang ditiup angin, semakin membuat nyali jadi redup.

Rencananya kami akan tancap gas ketika cuaca sedikit bersahabat. Sementara di kontrakan, El dan Markus mungkin sedang menunggu. Sial benar memang, mantel masih tergantung di tali jemuran. Tak mungkin juga mengharap inisiatif kepada gamer dan pecandu novel mesum untuk menyelamatkan mantel itu dari hujan.

Bajingan tukang titip absen kuliah. Ahli dalam melewatkan momen kecil yang krusial. Tapi mereka cukup bisa diandalkan selain daripada menghabiskan sebotol anggur merah. Keahlian memanjat sangat berguna ketika abu Gunung Kelud menghempas kota Jogja beberapa tahun lalu.

“Bagaimana kalau kita buka satu, sambil menunggu?,” Lim menyarankan itu sambil tak berhenti memandang jalan dan menebar asap di sekelilingnya. Lumayan juga untuk mengusir nyamuk.

Aku bermaksud mengambil satu buah botol dari tas plastik hitam. Brengsek, kencang juga ikatannya. Tangan yang basah juga menambah masalah.

“Sudah robek saja plastiknya, nanti satunya aku taruh di sini,” Kata Lim sambil mulai membuka tas selempang kecilnya.

Ternyata muat juga. Benar-benar tas ajaib. Sama seperti orangnya. Lim yang ajaib, kukenal tak pernah serius dalam segala hal. Tapi lulus kuliah lebih dulu daripada aku. Nilai-nilainya tak pernah tumbang, meskipun rutinitasnya dalam diskusi – diskusi multidisipliner di kampus, sama rutinnya dengan minum anggur dan arak bekonang.

 Manusia yang tak mau kerja untuk korporat meskipun banyak tawaran. Gabungan antara idealisme naif dan liberal secara ideologis. Manusia yang berbahaya bagi birokrasi kampus, karena sikap kritisnya terhadap berbagai kebijakan yang dianggapnya mengekang kebebasan berserikat dan berekspresi.

Di matanya aku adalah seorang event organizer bukan organisatoris apalagi aktivis meskipun aku juga terlibat dalam beberapa organisasi keprofesian. Dengan nada satir dan mengejek sampai tertawa terbahak-bahak, ia menyindir kegiatan-kegiatan yang dilakukan organisasiku yang hanya seputar jadi panitia seminar dan bakti sosial  musiman.

Aku tak pernah menyangkal apalagi tersinggung soal itu. Karena memang begitu adanya. Kadang aku malah ikut tertawa untuk diriku sendiri.

“Kita lupa beli aqua gelas, tenggak langsung saja,” Saranku kepadanya.

Botol jadi sedikit licin karena tanganku yang basah. Hampir saja aku menjatuhkan harta karun di kota yang sedikit tidak bersahabat lagi dengan alkohol. Kerinduan seorang peminum adalah kembalinya lagi label 25-40 % di kulkas swalayan-swalayan atau di warung remang -  remang.

Tak terasa sudah satu jam kami menunggu sambil menenggak anggur berlabel gambar orang tua. Cerita – cerita serius tentang politik kampus, sampai cerita remeh temeh tentang lubang kemaluan kenalannya yang mudah basah.

Mulai dari “tisu magic” sampai strategi gerilya kota ketika berhadapan gerombolan aparat saat aksi turun ke jalan.

Sepertinya memang percuma menunggu. Dengan kondisi setengah mabuk kami putuskan melaju kencang menerjang hujan, motor aku yang pegang. Jalanan yang cukup lengang di tengah malam. Kami tertawa kegirangan karena basah, sambil sesekali melempar umpatan.

Tiba – tiba aku melihat sekumpulan orang berseragam khas identitas ormas yang kami benci karena sepak terjangnya membubarkan diskusi mahasiswa. Mereka keluar dari sebuah club malam selepas pesta sepertinya. Aku mengurangi kecepatan dan memberikan kode kepada lim.

Dengan cekatan ia melemparkan botol yang berisi anggur yang tinggal setengah sambil berteriak

“Bajingan!!! Hidup Mahasiswa..!!

Setelah Lim sukses menjalankan misinya, aku segera menggeber motor matic tua itu. Dari spion terlihat beberapa diantara mereka berteriak dan berusaha mengejar kami. Ada juga yang berusaha meraih batu-batu di tepi jalan. Terlambat, kami telah jauh. Kami berteriak sepanjang jalan pulang seperti lepas semua beban.

Akhirnya sampailah kami di kontrakan.

Kami temui El tengah tertidur pulas di depan televisi dan Markus sepertinya tengah mengunci kamar. Menarik juga, ada sandal wanita di depan kamar Markus. Lim memberi kode dengan menumpuk kedua tangannya tanpa bicara. Aku menanggapinya sambil menawan tawa.

Kami tak berniat mengganggu kawan kami yang sedang bersenang-senang di akhir pekan yang dingin ini. Karena terasa cukup lelah dan mabuk, aku dan Lim masuk ke kamar masing-masing. Ingin segera meletakan pakaian basah, mandi lalu tidur saja.

“Anggur yang sebotol, diminum besok saja,” Kataku kepada Lim. Ia menanggapinya dengan mengacungkan jempol. Jujur aku jadi penasaran tentang wanita yang dibawa masuk Markus ke dalam kamarnya.

Setelah mengganti baju dengan pakaian kering. Aku berjalan menuju ruang belakang untuk menumpuk baju yang basah ke dalam ember cucian. Tak sengaja aku menoleh kepada El yang tertidur. Tampak air mata mengalir di muka polos itu. Dia memang melankolis untuk beberapa hal.

Namun ini pertama kali aku melihat dia mengeluarkan air mata. Aku melewatinya begitu saja, dalam hati, besok pagi dia pasti akan cerita tentang sesuatu pikirku.

Di antara kami bertiga, El hanya leluasa untuk curhat kepadaku. Tentang masalah kuliah atau keluarga. Masalah kesulitan ekonomi sampai hubungan asmara. Aku masuk kamar lagi dan tidur.

Keesokan pagi aku bangun, tak kulihat El di depan Televisi. Tumben dia bangun agak pagi. Waktu yang sangat tepat, kudengar bunyi lubang kunci di buka dari kamar Markus. Dan akhirnya rasa penasaranku pada wanita yang dibawa Lim akan tuntas.

Ternyata aku mengenalnya, wanita yang dibawa Lim adalah Rima. Aku tertegun sejenak melihat mereka dan melemparkan senyum lalu kembali masuk kamar dengan perasaan yang asing. Rima adalah kenalan El dan Lim. Mereka bertiga bertemu di acara ulang tahun seorang kawan.

Minggu yang lalu El bercerita kepadaku secara pribadi bahwa ia benar – benar mencintai Rima.