Perjalanan ini dimulai di suatu siang yang terik (28/1). Sepuluh orang berhimpitan di mobil sederhana, menerjang jalanan rusak tanpa tahu ke mana ujungnya. Tak banyak yang dapat dilihat kecuali pohon-pohon tinggi di kanan-kiri jalan. Kadang, suasana berubah menjadi deretan rumah-rumah warga yang sederhana.

Sepanjang perjalanan, sudah tak terhitung berapa kali tubuh saya terguncang di dalam kendaraan. Sesekali laju kendaraan memelan karena mesti melewati jembatan-jembatan yang sempit.

Empat puluh menit lebih saya beserta rombongan bertahan dengan posisi seperti itu. Hingga saat tiba, mobil kami berhenti. Satu-satu kami turun dari kendaraan lalu berjalan menuju tempat yang telah ditentukan.

Di sana, saya menemui Ibu Sunami, seorang penjual cendol di kawasan tersebut. Dengan tubuhnya yang renta dan lewat sorot matanya yang menggebu, cerita itu mulai mengalir. Tentang Desa Simpang Heran. 

Salah Satu Sudut Desa Simpang Heran (Dok. Pribadi)

Desa Simpang Heran, Kecamatan Air Sugihan terletak di Jalur 29, Ogan Komering Ilir, cukup jauh dari PT. OKI Pulp & Paper Mills, tempat awal saya memulai perjalanan. Orang-orang tahu desa ini sebagai sebuah desa transmigran. 

Sejauh mata memandang, gersang adalah kata yang tercetus di pikiran saya. Tak banyak pohon-pohon tinggi menjulang, kontras dengan yang saya lihat sepanjang perjalanan tadi. Yang ada hanya rumah-rumah kayu warga dengan pohon landai yang jauh dari kesan teduh.

Ibu Sunami mengisahkan kala musim penghujan datang, warga akan menampung air-air hujan di tong-tong rumah mereka untuk digunakan di keperluan sehari-hari. Air-air hujan dari atap rumah dialiri dengan pipa-pipa menuju tempat penyimpanan. Ini sudah dilakukan turun-temurun dari beberapa puluh tahun lalu.

“Sudah dari dulu, sih, Mas. Kebiasaan warga sini. Memang yang susah itu musim kemarau. Kalau persediaan sudah habis, kami terpaksa membeli dari kota.”

Beliau menceritakan seolah itu tidak berarti apa-apa. Akan tetapi, bagi saya sendiri ada perasaan teriris ketika mendengarnya. Sejauh yang saya tahu, air hujan tidak dapat digunakan untuk minum dan masak kecuali bila diolah terlebih dahulu. Namun di sini, air hujan adalah sang penyelamat bagi kehidupan mereka. 

Hal serupa pun dilontarkan seorang pria paruh baya dengan topi kuning-toska yang menyambut saya. Kala itu kaki saya melangkah ke sebuah petak sederhana yang terletak di tengah-tengah desa. Garis-garis mukanya tegas dengan kumis bertengger di atas bibirnya yang tebal.

“Kami sangat bergantung pada air hujan,” Pak Ponimin berbicara pada kami. “Air hujan bisa dibilang sebagai hidup kami. Semua kegiatan seperti makan, mandi, dan minum bergantung pada air hujan.”

Pak Ponimin Menjelaskan tentang Desa Simpang Heran (Dok. Pribadi)

Saya mendengarnya dengan saksama. Pandangannya menerawang seolah sebuah film sedang berputar di kepalanya.

“Susahnya, saat musim kemarau, hujan amat jarang terjadi. Dan satu-satunya jalan adalah membeli air dari kota. Sepuluh ribu satu galon!”

Saya tersentak mendengarnya. Bila dibandingkan di tempat saya, harga satu galon tak lebih dari empat ribu rupiah. Namun, di sini, galon tersebut dapat dijual dengan harga lebih dari dua kali lipat.

Namun, seperti kata pepatah, semua hal yang ada di dunia ini berubah. Lain dulu lain sekarang. Pak Ponimin kemudian menunjukkan petak di belakangnya tersebut. “Ini adalah pengelolaan air bersih baru di desa ini,” Beliau memberitahukan kepada saya. Ada rasa bangga tersirat dari nada bicaranya. “Dengan ini, warga tidak perlu lagi beli air mahal saat musim kemarau.”

Saya memerhatikan dengan saksama kebanggaan Pak Ponimin. Petak itu sederhana dengan atap seng berwarna merah bata. Di dalamnya sebuah tedmon alumunium berdiri kokoh. Di kirinya, tumpukan galon biru tersusun rapi. Sementara tepat di atasnya, empat buah tabung abu kusam berjejer.

Di dalam petak itu, pipa-pipa tersambung serupa harapan baru desa ini. Melihat di luarnya terdapat dua tedmon besar di kiri petak tersebut. Di kanannya satu dari jenis tedmon yang sama berdiri. Terhubung dari sana, pipa-pipa tersambung menuju sungai kecil yang tak jauh dari sana. Satu pompa air mengalirkan air sungai menuju petak tersebut untuk diolah.

Sudut Petak yang Penuh Galon (Dok. Pribadi)

Tabung-Tabung Filter Air (Dok. Pribadi)

Pak Ponimin menjelaskan bahwa petak ini merupakan Corparate Social Responsibility (CSR) dari PT. OKI Pulp & Paper Mills dan baru diresmikan Desember lalu. Dengan uang kurang lebih Rp 100.000.000,- Desa Simpang Heran menggunakannya untuk membuat pengolahan air bersih yang merupakan isu tahunan bagi masyarakat yang ada di sini. Nantinya air-air yang berasal dari sini dijual dengan harga lima ribu rupiah per galon!

CSR dari PT. OKI Pulp & Paper Mills (Dok. Pribadi)

Hal ini disambut baik bagi sebagian warga. Ibu Nuryam, seorang warga yang saya temui telah mencoba menggunakan air yang diperoleh dari tempat pengolahan air dan ia cukup puas.

“Bening, Mas. Saya sudah coba minum dan kayak air putih biasa,” wanita itu berpendapat. Meski demikian, ia masih belum memanfaatkannya sepenuhnya. Ia masih bergantung pada air hujan yang ada.

Hal berbeda disampaikan Bu Sunami. Beliau mengaku ragu dengan kualitas air sungai yang dijadikan sumber utama air minum. Menurutnya, sungai tersebut kotor dan tidak layak. Dan ia masih belum paham bagaimana air sungai tersebut dapat menjadi jernih untuk dipakai.

Air Sungai yang Jadi Sumber Pengolahan Air (Dok. Pribadi)

Penasaran, saya pun memutuskan untuk melontarkan pertanyaan kepada petugas di petak tersebut.

“Bolehkah saya mencoba?” tanya saya dengan ragu. Pertanyaan itu disambut antusias oleh para penjaga.

Dengan cepat saya mengosongkan air mineral kemasan yang kami bawa lalu menyodorkannya. Petugasnya mengambil selang lalu mengarahkannya ke gelas air mineral yang saya pegang. Tidak perlu menunggu lama, air itu mengalir lalu memenuhi gelas. Perlahan, meski agak ragu, saya mulai mencicipi.

Mencpba Air Hasil Pengolahan Air (Dok. Cahyo Ahdiyatman)

Satu tegukan; tidak ada rasa apa-apa.

Tegukan kedua; biasa-biasa saja.

Tegukan ketiga; ada sedikit rasa pahit khas pipa yang menyeruak. Namun masih bisa saya minum.

Saya pun mengosongkan gelas dengan mata tidak percaya. Sejujurnya, saya pun sempat merasa ragu. Namun, semua itu buyar begitu saja.

“Seperti air biasa,” komentar saya singkat. Ya, seperti air biasa. Tak ada rasa aneh dari sungai yang ada di sana.

Sekali lagi saya menatap petak kecil itu dalam. Kemudian melemparkan pandangan ke sekeliling desa ini. Air memang selalu jadi isu penting bagi kehidupan manusia. Pun termasuk Desa Simpang Heran. Jika dulu kehidupan mereka hanya terbatas pada air hujan, kini alternatif-alternatif lain muncul. Air bersih dapat diperoleh dengan mudah lewat pengolahan air yang ada.

Kini semua tergantung pada masyarakatnya untuk berubah. Karena sejatinya perubahan akan selalu datang, tinggal kita yang mau menerimanya atau tidak.

Tim yang Berkunjung ke CSR PT. OKI Pulp & Paper Mills di Simpang Heran, Air Sugihan, OKI (Dok. Cahyo Ahdiyatman)