Sebagai penyanyi yang memulai kariernya sejak belia, Ai Kawashima telah menempuh jalan tidak mudah sebelum menjadi penyanyi kenamaan. Sejak usia 10 tahun, ia memulai debutnya dengan bergabung sebagai penyanyi enka, kebanyakan untuk menyanyikan lirik-lirik balada dan elegi dengan sentuhan kombinasi musik tradisi dan modern dari Jepang.

Di bawah label penyanyi enka, Ai Kawashima memulai debutnya di Carnegie Hall, New York, USA, dengan single, Juu roku Koi Gokoro, 1999, namun debut itu gagal karena penjualan album yang buruk.[i] 

Tidak menyerah dengan kegagalan itu, Ai Kawashima kemudian melanjutkan karier menyanyinya secara indie (independent). Ia bertekad menjadi penyanyi terkenal dengan komitmennya untuk menyanyi sebanyak 1000 kali di sudut-sudut jalanan kota Tokyo.

Tentu ada banyak penyanyi lain yang memulai debutnya di jalanan. Namun yang unik dan berani dari pertunjukan musik jalanan (street music performance) Ai Kawashima adalah bagaimana ia menunjukkan kegigihannya dengan komitmen 1000 kali pertunjukan musik di sudut-sudut kota Tokyo terutama di distrik Shibuya yang sangat sibuk dan tak acuh.

Tak jarang pada awalnya orang-orang tak mengindahkan pertunjukan musiknya namun pada 2003 ia bertemu dengan seorang yang terkesan dengan kiprahnya dan kemudian membuka kesempatan baginya memasuki dapur rekaman. Maka, sekali lagi terbukalah kesempatan bagi Ai Kawashima memulai debut profesionalnya. 

Keberuntungan pun menyertainya karena pada debutnya kali ini, ia bersama grup duo-nya, I Wish, berhasil mencapai tangga kesuksesan dengan single hitnya Asueno tobiro (door to tomorrow) dengan menorehkan penjualan album 900.000 kopi.

Pada 2005 ketika grup duo-nya, I Wish bubar, Ai Kawashima kemudian tampil sebagai penyanyi solo dengan lagu-lagu hits yang kebanyakan ia ciptakan sendiri. Pada tahun yang sama pula ia berhasil menorehkan pencapaian penting yang membuktikan konsistensinya sebagai musisi dengan berhasil mencapai 1000 kali pertunjukan musik jalanannya di kota Tokyo.

Pada tahun-tahun berikutnya, Ai Kawashima, dengan statusnya sebagai penyanyi kenamaan, kerapkali tetap melanjutkan pertunjukan musik jalanannya di berbagai kota di Jepang untuk menggalang solidaritas bagi korban gempa dan tsunami Tohoku Jepang pada 2011 dan juga untuk kegiatan sosial lain.

Seperti pada 6 April 2011 ketika Ai Kawashima membersamai anak-anak sekolah korban gempa dengan menyanyikan bersama lagu ciptaannya Tabidachi No Hini (pada hari keberangkatan) setelah sebelumnya ia mendengar anak-anak tersebut menyanyikan lagu itu untuk menghibur satu sama lain pasca tragedi gempa, 20 Maret 2011.[ii]

Musik tidak hanya untuk musik sebagaimana juga pencapaian karier menyanyi bagi Ai Kawashima tidak hanya untuk pencapaian karier itu sendiri. Sebagaimana pernah ia katakan bahwa; 

I make music that gives People Warm, gentle feelings, something that stays with them, like a picture book [iii]

Menyanyi bagi Ai Kawashima adalah bagian tak terpisahkan dari kisah hidupnya sejak belia. Sejak melewati masa kecilnya yang tragis karena kehilangan kedua orang tuanya, ia diasuh kerabatnya dari keluarga Kawashima. Ia beruntung karena mendapatkan cinta dan dukungan penuh dari orang tua asuhnya, kebetulan juga dari kalangan berada, untuk menggapai cita-citanya sebagai penyanyi yang sudah ia ungkapkan sejak usia tiga tahun.

Meskipun saat ia masih merintis kariernya sebagai penyanyi profesional di usia muda, ia juga telah kehilangan kedua orang tua asuhnya. Meski sebenarnya ia masih beruntung karena telah mengalami proses hidup yang dilimpahi kasih saying dan dukungan terhadap kariernya sehingga membentuk kesadaran dirinya akan empati, cinta dan mencintai dalam arti luas. 

Kisah hidupnya yang tragis tidak menjadi halangan yang memupus mimpinya menjadi penyanyi terkenal namun justru menjadi sumber inspirasi bagi terciptanya lagu-lagu yang mengisahkan kehidupannya.

Sepeninggal ibu asuhnya, Ai Kawashima menulis lagu, Arigatou (Terima Kasih) untuk mengungkapkan cinta dan terima kasih kepada ibunya. Setiap tahunnya, pada tanggal 20 Agustus, Ai Kawashima memperingati kematian ibunya dengan menggelar konser menyanyi (memorial concert).

Kesadaran dirinya akan empati dan mencintai sesama dalam arti luas juga tercermin dari komitmen dan dedikasinya untuk membantu anak-anak di berbagai negara berkembang seperti Kamboja dan negara lainnya. Selain kiprahnya sebagai musisi, Ai Kawashima banyak dikenal karena komitmennya membantu pendidikan anak-anak dengan membangun sekolah di beberapa negara di dunia.

Bukan Sekadar Idolatri

Di jajaran penyanyi wanita pop dari Jepang (J-pop) kenamaan yang dikenal di negeri ini, nama Ai Kawashima memang tidak setenar Ayumi Hamasaki, Utada Hikaru ataupun Duo Kiroro. 

Dibanding penyanyi wanita J-pop kenamaan yang lain, saya juga terbilang baru mengenal sosok Ai Kawashima, namun entah mengapa, saya lebih menyukai dan mengakrabi lagu-lagu dan sosoknya dibanding penyanyi wanita J-pop kenamaan lain yang sudah lama saya kenal.

Selain menyukai lagu-lagu Ai Kawashima, saya juga tertarik dengan kisah hidupnya yang otentik dan dramatis. Selain itu, Ai Kawashima adalah sosok penyanyi yang unik karena mempunyai talenta lengkap. Selain sebagai penyanyi (vokalis) ia juga penulis lagu sekaligus pianis. 

Nomor-nomor lagu ciptaannya juga menjangkau berbagai tema mulai dari balada dan elegi seperti Tabidachi No Hini (Pada Hari Keberangkatan) mengenai perpisahan, Asu e No Tobira (Pintu menuju esok hari) hingga tema cinta seperti My Love, Arigatou (Lagu untuk mengenang Ibunya).

Banyak dari lagu karya Ai Kawashima merupakan refleksi dari kisah hidupnya sendiri dan juga kehidupan orang lain. Kita dapat mendengarkan lagu-lagu Ai Kawashima sebagai soundtrack film, salah satunya yang paling terkenal barangkali adalah, compass, yang menjadi Original Soundtrack (OST) serial anime One Piece.

****

Saya termasuk orang yang memandang sosok yang dikagumi tidak hanya dari pencapaian karier profesionalnya semata tapi juga bagaimana kisah hidup dan sikapnya (attitude). Meski bagaimanapun juga latar belakang dan sikap hidup seorang penyanyi tidak lantas membatalkan atau mengurangi apresiasi saya terhadap karya-karyanya. 

Namun latarbelakang dan sikap hidup seorang penyanyi idola sering kali juga menumbuhkan rasa hormat melebihi pencapaian profesionalnya dimana saya tidak sekadar menggemari karya-karyanya tetapi juga mengagumi sosoknya sebagai Manusia (dengan M besar).

Saya pikir sikap respek terhadap orang yang dikagumi juga akan menumbuhkan empati, keingintahuan dan pemahaman kita pada sosok itu sehingga tidak hanya menempatkannya hanya sebagai objek idolatri dan fanatisme buta semata.

Referensi

[i] www.wikipedia.org/wiki/Ai_Kawashima

[ii] ibid

[iii]Ai Kawashima, NHK WORLD JAPAN, Singing for Mom, Millenials File No. 015, 2018