Tidak ada alasan berhenti berbuat. Begitulah sosok yang pernah didemo berjuta orang, Ahok. 

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini kembali menggulirkan ide dan gagasan dengan perbuatan nyata. Ahok meluncurkan aplikasi 'Jangkau' yang sudah dapat diunduh di google playstore.

Katanya, aplikasi tersebut ibarat terminal antara pemberi bantuan dan orang yang membutuhkan bantuan. 

"Nah, kenapa sih enggak bikin aplikasi orang yang pengen nyumbang sama orang yang terima sumbangan ketemu? Nah, kami pikir sih aplikasi Jangkau," kata Ahok.

Ide brilian yang patut diapresiasi meski sebenarnya bukan ide baru. Hanya bedanya, aplikasi ini nirlaba, berbeda dengan platform sejenis yang menyisihkan beberapa persen untuk penyalur. Selain itu, aplikasi ini juga fokus pada manula, anak-anak, dan disabilitas.

Menariknya lagi, aplikasi itu menerima sumbangan barang. Mereka menerima barang yang nantinya akan disalurkan kepada yang membutuhkan. Ya, Ahok memang tak pernah berhenti berbuat.

Menurut aplikasi itu, mereka juga terbuka melakukan kerja sama dengan organisasi/komunitas yang seide. Tentunya organisasi yang nonprofit juga karena ini memang kerja sosial. Aplikasi itu sendiri dibuat oleh anak-anak muda kreatif Indonesia.

Meski pemerintah memiliki program bantuan bagi manula, akan tetapi terobosan Ahok ini dapat mengurangi beban pemerintah. Selain itu, bantuan yang diberikan bukan hanya uang sebagaimana yang dilakukan pemerintah. Aplikasi ini digadang-gadang akan memberikan bantuan sesuai kebutuhan lansia. 

Satu hal yang pasti, langkah Ahok ini patut ditiru politisi lain. Berbuat baik tak harus di dalam pemerintahan. Selama memiliki niat yang kuat, kerja-kerja sosial dapat dilaksanakan, dapat membantu sesama.

Ahok membuktikan satu hal lainnya: karier politik boleh dihentikan, namun menjadi agent of change tak akan bisa dihentikan. Melalui aplikasi Jangkau, nantinya Ahok akan mengajak para pemilik harta agar berbagi kepada sesama.

Di Aceh, langkah sejenis pernah dan sedang dilakukan seorang PNS, Edi Fadhil. Berbeda dengan Ahok, Edi Fadhil memanfaatkan Facebook sebagai media mengumpulkan donasi. Ia membangun rumah dhuafa di Aceh serta beasiswa bagi anak-anak kurang mampu.

Sejauh ini, sudah lebih 50 rumah dhuafa ia bangun. Bahkan saat ini, program pemberdayaan ekonomi bagi dhuafa sedang dilakukannya. Kesuksesan Edi pastinya akan mampu diraih Ahok yang lebih terkenal ketimbang Edi Fadhil.

Namun demikian, kalau boleh saran, sebaiknya aplikasi Jangkau lebih diperluas. Jangkau harus lebih menarik lagi; jika tidak, Jangkau tak lebih sebagai pelarian Ahok dari dunia politik yang menyingkirkannya.

Meski tujuan membuat aplikasi Jangkau baik, namun bila hanya begitu saja, bagi saya, Ahok telah mereduksi dirinya sendiri. Ahok harusnya dapat berbuat lebih besar lagi. Kalaupun tetap ingin membesarkan Jangkau, hendaknya bukan hanya berkutat di Indonesia, namun internasional.

Sangat disayangkan jika Jangkau hanya seperti yang Ahok katakan. Meski baik, namun bukan level Ahok-lah; ia dapat lebih hebat lagi berbuat. Jangan menyia-nyiakan kapasitas dan kualitas yang dimilikinya.

Ahok memiliki pendukung dari Sabang sampai Merauke. Pendukung militan yang siap habis-habisan mendukung setiap langkahnya. 

Ahok barangkali akan meniru politisi yang awalnya mendirikan ormas dan ujung ceritanya berubah jadi parpol. Surya Paloh adalah contoh nyata itu. Meski Ahok bakal membantah dengan alasan tak bisa menjadi menteri atau presiden, namun politik tidak harus dalam struktural.

Kalaupun nantinya Ahok meniru langkah Surya Paloh, itu sah-sah saja. Ahok dapat mendirikan parpol berbekal aplikasi Jangkau. Ahok pun dapat berperan sebagaimana Surya Paloh, sebagai kingmaker. Langkah ini menarik kita tunggu.

Sudah saatnya memang Ahok menjadi pengatur perpolitikan. Tanpa harus mengganggu kegiatan sosial yang sedang dilaksanakannya. Ahok tak butuh lama untuk mendirikan parpol. Aplikasi Jangkau dan program sosial yang dilaksanakan juga akan cepat dikenal masyarakat.

Sebagai mantan kader beberapa parpol, Ahok sudah memiliki gambaran parpol yang akan didirikan. Kemampuan Ahok tak perlu diragukan. Saya yakin, seluruh pendukung Ahok sepakat ia mendirikan parpol. 

Ahok dapat mencetak puluhan Ahok muda lainnya. Komunitas TemanAhok sempat menggegerkan perpolitikan pada saat pengumpulan KTP dapat difungsikan. Militansi mereka tak perlu diragukan. 

Ahok tak boleh berhenti berpolitik. Ia belum habis. Ia dapat berperan sebagai arsitek perpolitikan nasional. Ahok tak boleh menyerah hanya karena tak bisa menjadi menteri atau presiden. Ahok harus lebih cerdas melihat fenomena perpolitikan hari ini dan masa depan.

Namun keputusan akhir ada pada Ahok, apakah hanya menjalankan Jangkau atau mendirikan parpol sembari menjalankan aplikasi Jangkau. Opsi ini menarik dinantikan, terutama oleh para lawan-lawan politiknya.

Parpol bentukan Ahok pastinya sangat dinantikan pendukungnya. Ahok sudah sangat pantas mendirikan parpol. Jangan berhenti berjuang meski sudah memiliki aplikasi Jangkau. 

Parpol bentukan Ahok berpeluang meraih posisi 4 besar. Sebabnya, Ahok cukup dikenal dan elektabilitasnya masih kuat. Tentu saja akan banyak pihak yang ketar-ketir bila Ahok dirikan parpol.

Langkah yang sama bisa diambil PA 212 agar lebih terorganisasi serta diakui secara hukum. Mampukah Ahok dirikan parpol? We'll see soon.