Ahok dan Kemelut Pilkada Jakarta adalah buku yang saya terbitkan dalam rangka mengenang perlawanan Ahok (Basuki Tjahaja Purnama). Meski supersingkat, tetapi pergumulannya di Pilkada DKI Jakarta 2017, pembelaannya atas kasus penistaan agama, hingga patahan perjuangannya yang berujung ke jeruji besi layak terabadikan.

Seperti dinyatakan Luthfi Assyaukanie dalam Pengantar buku ini, Ahok layak ditulis dan dibicarakan, persis karena dia kontroversial. Dalam diri Ahok, berkumpul aspek-aspek yang disukai sekaligus dibenci.

Dia politikus yang tak terlalu pandai berpolitik. Dia tak suka menyembunyikan perasaan dan isi hati. Apa yang tertangkap dan terekam kamera adalah Ahok yang sesungguhnya. Di tengah budaya pencitraan yang berlebihan, Ahok tampil apa adanya.

Mungkin memang banyak orang suka dengan kejujuran. Hanya ingat, tidak semuanya senang dengan keterus-terangan. Inilah aspek dari diri Ahok yang, kata Luthfi, disukai sekaligus dibenci itu.

Orang mungkin saja suka dengan kejujuran, tetapi tak suka jika kejujuran itu bisa mencelakakan dirinya atau menyinggung perasaannya. Mereka yang tak suka dengan kejujuran Ahok, umumnya, adalah orang yang "bermasalah", baik karena tersangkut kasus hukum atau sedang terlibat perkara lainnya.

Ada banyak cerita gamblang mengenai itu. Dari sejak berkiprah di kampung halamannya, Bangka Belitung, Ahok sudah menunjukkan kualitas diri sebagai sosok yang sukar sekali diajak berkolaborasi menggelapkan uang-uang proyek. Apalagi proyek-proyek di DPR, bukan rahasia lagi kalau Ahok malah menyusahkan rekan kerjanya sendiri jika berani memain-mainkan anggaran milik publik.

Bersosok Gie

Saya mulai kenal Ahok dari sejak dirinya maju sebagai Calon Wakil Gubernur mendampingi Jokowi untuk Pilkada DKI Jakarta 2012. Tak ada banyak hal yang saya istimewakan darinya sebelum akhirnya menggantikan rekannya itu sebagai orang nomor satu di Ibu Kota.

Ketegasan selaku pemimpin—lebih tepatnya “pelayan rakyat”, membuat saya jatuh hati pada level paling tinggi. Satu alasan bisa saya ungkap, sosoknya mengingatkan saya pada diri Soe Hok Gie, sang demonstran yang tak kenal kompromi dalam bersikap.

Di mata saya, Ahok dan Gie sama persis. Keduanya sama-sama bermental petarung.

Ketika Gie menampilkannya melalui aksi-aksi demonstrasi dan tulisan-tulisan, Ahok merealisasikannya dalam bentuk kebijakan, sikap, dan program-program kerja selaku pejabat publik. Mediumnya berbeda, tetapi tujuan yang hendak mereka capai sebangun: membela dan memperjuangkan hidup, tak semata bagi diri pribadi, melainkan lebih untuk orang banyak.

Lihat saja DKI Jakarta di masa kepemimpinan Ahok. Sebagaimana pula dinyatakan Luthfi, tak pernah Ibu Kota kita mengalami perubahan yang begitu menggeliat seperti dipimpin Ahok. 

Perubahan Jakarta dalam beberapa tahun terakhir adalah kerja Ahok. Meski peresmiannya lebih banyak dilakukan oleh penggantinya, Anies Baswedan, tetapi semua itu adalah warisan Ahok (dan tentu saja Jokowi).

Namun apa mau dikata, Ahok harus menjadi ironi tersendiri di negeri ini. Puluhan tahun orang Jakarta mengharapkan sosok pemimpin yang mampu mengubah wajah kota, tetapi, ketika mendapatkannya, mereka tak sanggup menerimanya, bahkan memusuhi dan memasukkannya ke dalam penjara.

Tak ada ironi yang lebih getir dari pepatah "air susu dibalas dengan air tuba". Itu yang saya amati dari perjalanan Ahok menjadi Wagub hingga ke Mako Brimob. Dia telah memberi kebaikan yang begitu banyak bagi Jakarta, tetapi yang diterimanya adalah hukuman di balik sel.

Layak Abadi

Ahok dan Kemelut Pilkada Jakarta adalah kumpulan tulisan seputar itu. Sebelumnya, tulisan-tulisan yang jumlahnya 40 buah di dalamnya terbit di berbagai media massa online, seperti Qureta, Geotimes, dan Seword untuk rentang waktu 2016-2017. Saya menerbitkannya kembali dalam bentuk cetak, yang tentu saja dengan beberapa penambahan-pengurangan tanpa mengubah substansi dari versi asli atau online-nya.

Apa yang saya harap dari penerbitan kembali tulisan-tulisan ini dalam bentuk buku?

Pertama, memudahkan pembaca (juga saya) menelusuri kembali isu dan kejadian yang pernah berkecamuk di Jakarta. Kedua, buku ini setidaknya bisa memberi inspirasi bagi lahirnya sosok-sosok Ahok yang lain, sosok-sosok Gie masa depan, yang siap membela dan membangun bangsa walau apa pun aral yang merintanginya.

Tentu masih banyak cerita-cerita baik tentang Ahok yang layak terabadikan. Buku ini hanya memuat serpihannya saja.

Satu hal yang pasti, Ahok adalah fenomena yang tidak datang setiap saat. Buku ini tidak hanya penting sebagai informasi tentang figur paling berpengaruh di Jakarta, melainkan juga penting sebagai pengingat agar kita tak jatuh pada kesalahan yang sama.

***

Bagi teman-teman yang ingin memiliki bukunya, silakan pesan via WA: +62812 4252 5897 (Rp35 ribu/eks). Cantumkan nama dan alamat pengiriman.