Ahok sebuah penomena manusia di bumi pertiwi Nusantara yang oleh sebagian masyarakat seakan “anak haram” bangsa ini. Ahok  yang minoritas, baik segi etnis ataupun keyakinan ini saja sudah menjadi pemicu sektarianisme bagi kalangan penyembah primordialisme dan ego sektoral. Terlebih Ahok berkeinginan menjadi pemimpin di kota Jakarta.

Kepemimpinan Ahok dinilai oleh pengamat  sebelum non aktif berbeda dengan pemimpin sebelumnya. Ahok pemimpin populis, sementara pemimpin sebelumnya kebanyakan elitis.

Program-programnya terlepas prokontra sudah bisa dirasakan nyata oleh warga.

Sudah rahasia umum sang kadidat gaya komunikasinya vulgar dan apa adanya.

Ahok merupakan tanda alam yang penomenal. Seyogyanya disikapi dengan bijak dan kearipan. Bukan dengan amarah dan permusuhan, juga tekanan.

Semua umat Islam sepakat penista agama harus ditahan jika sudah terbukti bersalah di meja pengadilan.

Kini Ahok dalam status tersangka dugaan penistaan agama. Statusnya sebagai tersangka ternyata masih belum memuaskan hati para pelapor dari puluhan LSM keagamaan. Karena mereka ingin Ahok secepatnya ditahan.

Jauh sebelum Ahok tenar di Jakarta, Ahok adalah kalangan minoritas yang dekat kepada tokoh muslim moderat almarhum Gus Dur. Bahkan Ahok mengaku berani terjun ke kancah politik di daerahnya untuk ikut pilkada dan akhirnya terpilih itu karena spirit dari Gus Dur.

Karena kedekatannya kepada Gus Dur inilah, Ahok mengetahui gambaran sedikit bagaimana hubungan sosial keagamaan antara Islam dan non muslim. Termasuk tentang beragam perbedaan dalam memahami ayat suci al-Qur’an.

Membela agama merupakan panggilan suci bagi tiap pemeluk agama termasuk dalam agama Islam. Membela agama masuk kategori jihad utama. Karena itu tak heran ribuan santri dari Ciamis long march  dengan gigih menembus rintik hujan menuju Jakarta karena titah sang kiyai untuk berjihad membela agama.

Karena alasan membela agama inilah terkadang nalar dan hati nurani tertutup amarah karena kebencian. Padahal al-Quran telah mewanti-wanti agar berbuat adil, “ janganlah karena kebencianmu pada suatu kaum membuat kamu berlaku tidak adil”.

Atas dasar itu, Gus Dur , dalam membangun masyarakat ada nilai-nilai dasar yang patut dijunjung tinggi, yaitu nilai keadilan. Untuk menjunjung tinggi nilai dasar tersebut diharuskan meninggalkan formalisasi agama di tengah-tengah masyarakat yang pluralistik, seperti Indonesia.

 Sehingga masyarakat seharusnya dirangsang untuk tidak terlalu memikirkan manifestasi simbolik dari agama dalam realitas kehidupannya, akan tetapi lebih mementingkan subtansi dari ajaran agama. Karena itu, keadilan bagi Gus Dur adalah milik semua agama dan harus ditegakkan oleh umat beragama.

 Nilai keadilan merupakan ajaran utama Islam.  Nabi Muhammad telah berusaha membina suatu tatanan masyarakat dan menyelaraskan standar keadilan secara jelas dan realistis.

Tak bisa dipungkiri suasana DKI adalah suasana hangat pilkada, pertarungan politik bagaimanapun tampak nyata adanya.

Kita semua tak ingin yang aksi demo jutaan itu dan berhati tulus untuk menegakkan agamanya ternodai oleh segelintir aktor politisi yang menghalalkan segala cara untuk berkuasa.

Belum lagi suara sumbang sebagian kecil umat Islam yang berkeinginan menegakkan khilafah Islamiyah dengan berbagai cara, dari kampanye anti pancasila, rush money, termasuk penggunaan alat tukar dinar dirham, Ikut pula aksi.

Bangsa ini seakan dicari celah bagaimana bisa goyah.

Semoga kita senatiasa semua bisa berpikir jernih dalam mencerna penomena, juga dalam memahami teks agama. Sehingga agama benar-benar memiliki seribu nyawa. Dan Indonesia tetap jaya sebagai mercusuar peradaban dunia.