Ingatan kita tentu belum lepas dari kejadian SIntang. Awal bulan September 2021, Ahmadiyah kembali harus berhadapan dengan massa yang garang. Entah apa yang mereka pikirkan, ketika massa tega membakar masjid, sepulang dari masjid.

Serentetan kejadian persekusi dan intoleransi yang dialami oleh JAI, tampaknya bertolak belakang dengan apa yang terjadi di luar negeri. Di Indonesia, gema takbir mengiringi pengrusakan dan pembakaran. Sementara di Kanada, takbir dilantangkan untuk peresmian nama Jalan.

Sebuah area di Saskatoon, Kanada, mendapatkan nama barunya. Glazier Road di sudut Range Road 3050, diubah namanya menjadi ‘Ahmadiyya Crescent’. Nama tersebut diresmikan langsung oleh pejabat setempat untuk menghormati Ahmadiyah.

Daerah tesebut berdekatan dengan salah satu masjid Ahmadiyah di sana, yaitu Masjid Baitul Rahmat. Demikianlah, pengubahan nama tersebut juga merupakan rahmat bagi jemaat. Hal itu karena suara bulat untuk mengubah nama jalan, memerlukan waktu tahunan.

Dakwah Ahmadiyah di Amerika dan Eropa

Jemaat Ahmadiyah, atau yang dikenal di luar negeri sebagai Ahmadiyya Muslim Community, bukan hanya ada di Indonesia saja. Maka, tampaknya salah kalau para penentang di Indonesia mengatakan Ahmadiyah adalah agama baru yang merusak Islam di Indonesia.

Jemaat ini sudah tersebar di lebih dari 200 negara di dunia, dengan lebih dari 400 cabang di berbagai penjuru negara. Benua Amerika, sebagai tempat yang dinilai sangat ‘hati-hati’ terhadap Islam, menjadi tempat yang subur bagi perkembangan Ahmadiyah.

Amerika barangkali menjadi negara yang paling keras melantangkan ‘Islamofobia’, karena berkaca dari tragedi 911. Namun, dengan tangan terbuka Amerika menerima Ahmadiyah, sebagai ajaran Islam yang damai, jauh dari terror dan permusuhan.

Selain Kanada, sebuah jalan di New York juga berubah menjadi ‘Ahmadiyya Way’. Hal ini tentu menjadi ‘jembatan’ yang baik, antara Islamofobia dengan informasi Islam yang sebenarnya. Nama jalan di sudut tenggara Grand Central Parkway ini diresmikan langsung oleh Dewan Kota New York.

Betapa situasi ini, barangkali, teramat didambakan oleh anggota jemaat ini di Indonesia. Alih-alih masjidnya mendapat penghormatan, justru mendapat pengrusakan dan pembakaran. Padahal, tak sedikit kontribusi Ahmadiyah bagi negeri ini, sejak era perebutan kemerdekaan, hingga saat ini.

Sementara itu, sebuah perhelatan akbar menjadi terobosan yang dilakukan oleh jemaat Ahmadiyah di Benua Eropa. Mereka menyelenggarakan Jalsa Salana di UK awal Agustus lalu. Acara selama 3 hari, diisi hanya dengan mendengarkan nasihat-nasihat Khalifah Ahmadiyah, Hazrat Mirza Masroor Ahmad.

Di dalam pidatonya, Khalifah mengangkat isu kesetaraan hak bagi perempuan. Perempuan juga berhak mendapat pendidikan, dan penghargaan terhadap perasaan dan pendapatnya, mulai dari level rumah tangga, hingga ke masyarakat yang lebih luas.

Jauh sebelumnya, khalifah Ahmadiyah juga beberapa kali diundang sebagai pembicara di forum Internasional. Salah satunya ketika berbicara di forum UNESCO, Khalifah mereka memberikan gambaran tentang nilai-nilai Islam.

Beliau menyampaikan, bahwa Islam yang sejati, selalu ingin menegakkan perdamaian. Hal itu kemudian dapat tercapai, dengan adanya kesetaraan antar manusia, pemenuhan hak-hak sesama, dan juga tidak ada perbedaan dan kebencian bagi siapapun, dalam hal apapun.

Ahmadiyah Indonesia Punya Apa?

Jika merenungkan ‘citra’ Indonesia yang humanis, maka organisasi yang berterima di tanah air haruslah mereka yang menebarkan kasih sayang tanpa membedakan. Sepanjang memiliki kegiatan ‘bakti sosial’, jangankan organisasi keagamaan, bahkan beras dari partai oposisi pun pasti dimakan.

Sekolah Muhammadiyah dan NU, boleh dimasuki oleh siswa manapun tanpa harus menjadi anggota organisasinya. Para pegiat penolong bencana yang digadang ormas yang sudah dibubarkan, juga sempat diterima di tengah masyarakat luas.

Komunitas muslim Ahmadiyah, bukan berjalan di muka bumi untuk Tuhan saja. Bahkan rasanya, mereka juga tak kalah humanis dari organisasi yang sudah ada. Dan terkait hal ini, ternyata juga tak hanya di dalam negeri saja, karena di luar pun mereka dipuji karena aksi humanism-nya.

Ahmadiyah di Nigeria dipuji pemerintah negara di sana karena mendirikan Rumah Sakit. Masjid Baitul Futuh di London juga menjadi masjid pertama yang digunakan untuk kegiatan vaksin covid-19 di London. Ahmadiyah di Bosnia, merangkul masyarakatnya untuk bangkit dari trauma pasca-perang.

Para Ahmadi di sini, juga bukan tanpa kontribusi. Menjadi Ahmadi, berarti siap menjadi insan yang memenuhi hak-hak sesama manusia. Salah satunya adalah, komunitas Ahmadiyah di Indonesia hingga saat ini adalah konunitas pendonor kornea mata terbesar di Indonesia.

Peristiwa memilukan memang kerap menimpa komunitas ini. Namun demikian, aksi kemanusiaan juga tetap mereka lakukan tanpa melihat perbedaan. Bukan hanya donor mata, tetapi juga para pendonor darah yang bahkan turut menyelamatkan nyawa para penentang yang membutuhkan.

Ahmadiyah Hanya Ingin Beribadah

Seperti halnya setiap manusia hidup di dunia, ingin merasakan tenang, barangkali itu juga yang Ahmadiyah inginkan. Khususnya, bagi saudara-saudara Ahmadiyah yang masih merasa terusir dari rumah dan masjidnya sendiri.

Islam yang humanis, tidak bisa kita pungkiri, salah satunya dicontohkan oleh Ahmadiyah. Hal itu adalah nasihat Sang Khalifah, untuk beribadah tanpa melupakan hak-hak sesama, dan juga mencari dunia tanpa melepaskan tali ikatan kepada Tuhan semata. Haququllah, haququl ibaad.

Ahmadiyah mendirikan masjidnya sendiri, dan berkegiatan di lokasi milik mereka sendiri. Tidak ada masjid ormas lain yang dirampas, rumah pemeluk agama lain yang dibakar, tapi justru malah sebaliknya.

Andaipun mereka sesat, apakah kesesatan Ahmadiyah akan menghalangi jalan umat yang lain menuju surga? Lantas, bukankah merusak dan menghancurkan sesuatu yang bukan miliknya dengan penuh amarah, ibadah yang kita kumpulkan juga ikut rusak dan hancur?