Yang muda yang membawa perubahan. Mungkin kalimat itu pantas tersandang pada mereka berdua, Ahmad Wahib dan Th. Sumartana. Pada 30 Maret 1973, Ahmad Wahib meninggal di depan kantor TEMPO. Saat itu usianya baru 31 tahun (1942-1973).

Mengapa saya mencantumkan nama Ahmad Wahib di sini? Menurut saya, Ahmad Wahib salah satu tokoh Indonesia yang telah lebih dulu memikirkan nilai-nilai pluralisme dan multikulturisme di Indonesia. Walaupun kalah pamor dari Nurcholish Madjid dan Abdurahman Wahid alias Gus Dur.

Dalam catatan hariannya, "Pergolakan Pemikiran Islam" yang dieditori oleh Djohan Efendi, Ahmad Wahib mengatakan: "Aku bukan nasionalis, bukan khatolik, bukan sosialis. Aku bukan Budha, aku bukan Protestan, aku bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim."

Menyimak baik-baik kalimat tersebut, ada sebuah pesan yang ingin disampaikan oleh Ahmad Wahib. Bahwa mari kita menjadi satu. Mencintai satu sama lain walaupun perbedaan itu jelas di antara kita. Tapi perbedaan akan menjadi rahmat ketika perbedaan itu disatu-padukan dalam nama Indonesia. Tidak ada kamu. Tidak ada kalian. Tidak ada mereka. Yang ada hanyalah kita. Inilah Indonesia.

Dua tahun sebelum Ahmad Wahib meninggal, tepatnya tahun 1971, seorang anak muda lagi juga mendobrak pemahaman gereja dan mempertanyakan soal-soal teologis. Dia adalah Th. Sumartana, pendiri DIAN/Interfidei.

Th. Sumartana menulis skripsi dengan judul: "Soal-soal Teologis Dalam Pertemuan Antar Agama" di tahun 1971. Skripisi tersebut membahas pandangan negatif sebagian umat Islam terhadap umat Kristen; bahwa missi gereja adalah mengkristenkan masyarakat Indonesia.

Th. Sumartana berupaya mengklarifikasi hal tersebut di dalam skripsinya. Pada halaman 60:

"Pertanyaan yang muncul dari situasi seperti ini mau tidak mau pasti akan menuntut gereja untuk memikirkan pengertian yang baru tentang apa yang kita sebut sebagai mission gereja."

Dan di halaman 61:

"Tuduhan-tuduhan kristenisasi dan sekulerisasi (dalam pengertian ghazwul fikr) serta kesalahan pemahaman mengenai kepercayaan yang sentral dari orang Kristen, tidak akan pernah benar-benar ditebus dan dijembatani selama memang pada dasarnya misi Kristen hanyalah bermaksud membuat orang Islam menjadi Kristen dengan jalan berpropaganda."

Maksud dari Th. Sumartana mengatakan demikian, missi gereja harus direkonstruksi, bahwa missi gereja bukan lagi untuk mengkristenkan domba-domba tersesat (umat non-Kristiani). Tapi bagaimana kasih sayang Yesus bisa disebar-luaskan ke semua agama dan manusia. Sebab kasih sayang Yesus bukan hanya untuk umat Kristiani tapi untuk semua manusia di muka bumi walaupun berbeda agama dan keyakinan.