Indonesia adalah negeri agraris yang sebagian besar masyarakatnya memiliki sumber kehidupan dari sektor pertanian. Tak hanya memanfaatkan lahan pertanian pada umumnya, usaha pertanian masyarakat juga dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya lahan di area hutan.

Akibatnya, penggantian fungsi lahan di hutan dapat menyebabkan berkurangnya manfaat ekosistem hutan bagi satwa ataupun masyarakat secara luas. Hal ini lebih dikenal dengan deforestasi.

Hutan Sokokembang yang terletak di Desa Sokokembang, Kecamatan Kayupuring, Kabupaten Pekalongan merupakan salah satu hutan hujan tropis yang berada di Pulau Jawa. Hutan ini merupakan hutan lindung terbatas dengan tipe hutan sekunder campuran yang memiliki ketinggian 250-950 mdpl. 

Status Hutan Sokokembang adalah hutan lindung terbatas yang dikelola Perum Perhutani Jawa Tengah dan KPH Pekalongan Timur. Kawasan lindung mempunyai peranan penting dalam konservasi tanah, air, mempertahankan keanekaragaman satwa, tumbuhan, tipe ekosistem, dan keunikan alam untuk meningkatkan kebutuhan sosial ekonomi masyarakat sekitarnya.

Keanekaragaman hayati di Hutan Sokokembang dapat menjadi bioindikator keadaan hutan yang masih baik, yaitu masih tersedianya pohon berdiameter besar yang berpotensi menyimpan karbon dan menyediakan sumber daya untuk keanekaragaman hayati di dalamnya. 

Beberapa jenis pohon dominan yang berpotensi dimanfaatkan sebagai habitat satwa di Hutan Sokokembang adalah bawangan (Dysoxylum blumei), pohon bendo (Autocarpus elastica), pohon bulu so (Ficus globosa), pohon cangkok (Messua ferrea), pohon gondang (Ficus variagata), pohon rau (Dracntomelon rao), dan pohon sentul (Sandoricum nervosum).

Masyarakat di sekitar Hutan Sokokembang, khususnya di Desa Sokokembang, telah banyak menyadari berkurangnya fungsi hutan akibat alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian. Ancaman yang sedang dialami hutan ini tak jauh berbeda dengan hutan lain di Indonesia.

Pemerhati lingkungan dari akademisi maupun pemerintah juga melakukan upaya untuk terus menjaga hutan. Menariknya, usaha yang ditempuh tetap melibatkan masyarakat sebagai pemeran utama untuk menjaga hutan dan sumber daya alam dari hutan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menerapkan sistem perhutanan masyarakat dan agroforestri.

Hal menarik lainya dari kawasan hutan masih asri ini adalah dijumpainya jenis burung Julang Emas. Burung ini adalah salah satu jenis burung rangkong yang umumnya dapat ditemukan di hutan hujan tropis di Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi. Di pulau Jawa, burung ini biasanya hanya dapat dijumpai di area hutan yang masih dalam kawasan taman nasional.

Menariknya, tak hanya teramati terbang dan mencari sumber pakan di kawasan Hutan Sokokembang, Julang Emas juga bersarang dan berkembang biak di kawasan hutan ini. Mengingat status hutan yang sebagian dikelola oleh masyarakat sekitar, keberadaan Julang Emas menjadi pertanda bahwa pengelolaan masyarakat tidak merusak ekosistem hutan.

Julang emas adalah burung yang sensitif terhadap perubahan habitat. Kebutuhan utamanya akan pohon berdiameter besar menjadi petunjuk bahwa kawasan hutan ini masih terjaga.

Selain burung Julang Emas, hutan Sokokembang juga menawarkan wisata unik, yaitu pengamatan satwa liar langsung di alam hanya dengan menyusuri jalan beraspal yang menghubungkan desa ini dengan pusat kecamatan di Petungkriyono. Primata dari jenis Owa Jawa, Lutung, dan Monyet ekor panjang adalah yang paling mudah dijumpai.

Owa jawa, primata endemik pulau Jawa yang hidup di Hutan Sokokembang juga telah menjadi daya tarik tersendiri. Tak hanya dari kalangan peneliti, peracik kopi juga sangat antusias dengan adanya primata ini di Hutan Sokokembang. Keberadaanya juga menjadi salah satu faktor “lezatnya” kopi asli dari Desa Sokokembang yang dihasilkan dari habitat Owa Jawa ini.

Sistem agroforestri dengan menanam kopi dan pohon sengon telah diterapkan di beberapa area hutan rakyat di kawasan Hutan Sokokembang. Kopi asal hutan Sokokembang memiliki keunikan rasa yang berbeda. Kondisi habitat pohon kopi yang berada di bawah kanopi pohon menjadikan tanaman kopi asal Hutan Sokokembang memiliki ukuran tanaman yang lebih pendek, lebih jarang berbuah, namun buah yang dihasilkan memiliki keunggulan rasa.

Pak Tasuri adalah salah satu petani kopi asal Desa Sokokembang. Kopi itu dikemas rapi dalam wadah aluminiumfoil. Jangkauan pemasarannya tak hanya di sekitar Kecamatan Petungkroyono, tapi sudah merambah sampai ke luar wilayah Pekalongan. Ia menuturkan, kesejahteraan, khususnya pada perekonomian masyarakat di sekitar hutan juga sangat bergantung pada hasil hutan, pada alam.

Agroforestri adalah salah satu upaya yang dapat menjembatani antara faktor kebutuhan ekonomi masyarakat dan kebutuhan akan peran ekosistem hutan bagi lingkungan. Banyak pendekatan yang dapat dilakukan untuk menerapkan sistem ini. 

Tujuan utamanya tentu terwujudnya simbiosis mutualisme antara manusia dan alam. Dengan demikian, laju deforestasi akibat alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian dapat berkurang. Dengan sistem ini, keanekaragaman hayati hutan dapat dilindungi, erosi tanah dapat dicegah, dan masyarakat mendapatkan nilai ekonomis dari hasil hutan.