Rangkaian kejadian teror di sejumlah tempat mendorong berbagai pihak untuk melawan. Bentuk perlawanan dari perang hashtag sampai baliho Teroris Jancuk; dari perundungan dunia maya sampai penangkapan di dunia nyata; dari penyalaan lilin hingga demonstrasi; dari jempol netizen hingga bedil aparat.

Beberapa menyingkap ke publik acara keagamaan yang diadakan oleh instansi pemerintah dan BUMN. Jika hadirkan penceramah yang terindikasi radikal, mereka “wadul” ramai-ramai. Hasilnya ada. Tak kurang dari UGM, Telkomsel, hingga Garuda Indonesia merespons aduan-aduan tersebut. Beberapa membatalkan panggung bagi penceramah yang dinilai sering kobarkan kebencian.

Akun-akun yang sebut terorisme sebagai rekayasa atau pengalihan isu diberondong rame-rame. Hasilnya? Beberapa dipecat dari tempat ia bekerja, beberapa diberi sangsi teguran, beberapa bikin surat pernyataan, dan beberapa belum diapa-apain sih. Kemenag juga merespons dengan merilis daftar 200 penceramah yang sesuai dengan semangat moderasi Islam. Masukan dari ormas, katanya. 

Sebenarnya seberapa efektif tindakan-tindakan tersebut dalam melawan teroris? Jawaban singkat saja, secuil apa pun kontribusi, pasti manfaat. Kita tak bernar-benar tahu, melalui pintu mana teroris itu dapat hidayah.   

Meski demikian, ada rambu-rambu yang perlu dicermati dalam usaha bersama memerangi teroris. Jangan sampai pemberantasan teroris malah lahirkan teror baru.

Pertama, hindari menilai orang berdasar di mana ia belajar dan berinteraksi, atau berdasar pakaian yang ia kenakan.

Hidup dalam stigma itu hidup dalam penjara (ini perumpamaan, jangan dikira pernah dipenjara!). Tidak boleh seseorang yang pernah belajar di Suriah, misalnya, lantas dicap sebagai teroris. Kalau mau kenalan, kawan saya alumni Suriah, sekarang ini memimpin pesantren yang sangat moderat. Akun pribadinya juga sebarkan konten-konten wacana keislaman moderat. Dulunya bahkan ia termasuk inisiator PPI Dunia. Dia bukan teroris, tapi juga bukan jomblo.

Begitu pula kawan saya alumni Pakistan yang sekarang malah dirikan platform yang rajin sebarkan gagasan-gagasan anti radikalisme. Tokoh pluralisme kita, Gusdur, juga tinggal cukup lama di kawasan Timur-Tengah. Tahu sendiri kan beliau jadi apa? Justru yang terdepan dalam melawan arus radikalisme di Indonesia.

Oh ya, tak perlu jauh-jauh, saya sendiri alumni Libya (yang sempat diembargo oleh Barat) dan mantan pengagum Qaddafi (yang dijuluki Mad-Dog oleh Ronald Reagan), tahu jadi apa saya sekarang? Yaps...exactly.. penunggu adzan maghrib.

Jadi, mari kita berhenti beri cap teroris pada seseorang hanya karena pernah singgah di negara konflik.

Lebih parah kalau menilai orang dari apa yang ia kenakan. Pelaku teror pakai cadar, oke fine. Tapi banyak sekali pemakai-pemakai cadar lain yang amat jauh dari kekerasan. Tetangga saya, bercadar, membuka jasa loundry dan boleh ngutang. Ia bersosialisasi dengan baik, pekerja keras, anti poligami, dan ramah terhadap anak.

Kawan lain, yang juga bercadar, langsung ambil sikap setelah pengeboman itu terjadi. Deklarasi “Kami berniqab, kami tidak dukung teroris”. Satu-dua kisah anekdotal memang tak memberi gambaran utuh peristiwa. Namun, satu teroris bercadar juga tak bisa dijadikan dasar untuk pukul rata.

Pernah nonton “Captain America: The Winter Soldier”? (thanks to situs streaming-an). Proyek Insight yang digagas SHIELD, dibuat untuk memberangus semua potensi ancaman di masa depan. Tidak ada pengadilan, tidak ada penyelidikan. Hanya berdasar algoritma yang membaca status Facebook, email, komentar di televisi, dan tetek bengek arsip digital lainnya.

Tiga helicarriers siap diterbangkan untuk menembaki ancaman-ancaman tersebut. Superhero kita, yang belakangan muncul dengan jenggot, tidak sepakat. Proyek Insight ia anggap sebagai ancaman itu sendiri. Dan mulailah aksi-aksi heroik di film, yang menurut Ernest Prakasa, hadirkan adegan fight paling keren di antara sederet film Marvel itu.

Moral story-nya: jangan membabi buta dalam tentukan potensi ancaman! Saya tahu dunia maya penuh dengan akun yang tak percaya aparat. Sebut tindak terorisme hanya pengalihan isu, rekayasa intilejen, atau bohong-bohongan belaka. Percayalah, saya juga kesal. Tapi, sebagian besar di antaranya hanyataklid, hanya ikut-ikutan.

Apa yang mereka baca, itu yang mereka tulis. Kurang adil rasanya kalau orang-orang seperti itu dipidana atau dipecat dari institusinya. Juga perlu diingat bahwa seseorang bisa 180 derajat berbeda dari tampilannya di dunia maya.

Terorisme itu bertingkat. Tingkat paling bawah menurut Setara Institute adalah intoleransi. Bagaimana kalau kita sendiri justru intoleran terhadap orang-orang tersebut? Jika terus mengeksklusi mereka; tidak pernah menegur, tidak lakukan persuasi, langsung persekusi; ya lama-lama jadi radikal.  

Perhatikan pula bagaimana terorisme terbentuk? Menurut Nele Schils dan Antoinete Verhage (kriminolog Belgia), radikalis mulai berkelompok dan menjadi teroris setelah ada rasa ketidakpuasan (discontent) terhadap komunitas yang sudah ada. Maka patut bagi kita untuk menjadi komunitas yang memuaskan. Agar tiada lagi yang mengucilkan diri atas nama ketidakpuasan.

Kalau begitu, siapa sebenarnya yang perlu dilawan? Mereka adalah dalang yang mendorong gerakan deligitimasi aparat, politisi yang mainkan isu terorisme untuk kepentingan jangka pendek, agamawan yang isi ceramahnya tidak lain hanya marah-marah dan sumpah serapah, atau kepala daerah yang mainkan isu SARA demi raup suara. Itulah yang perlu dilawan karena mereka paham dan sengaja. Ini momentum yang tepat!