Kawan, saya termasuk orang yang setuju dengan siapa pun yang bilang, "Agama tidak seharusnya dicampur-adukkan dengan urusan politik." Kenapa? Karena kenyataannya, ketika agama dicampur-adukkan dengan urusan politik, bukan politik yang menjadi agamis, tetapi agama yang malah semakin politis.

Agama yang suci nan agung itu hanya dijadikan alat untuk meraih simpati dan suara dalam pemilu oleh mahluk Tuhan bernama politisi itu. Itu realita yang terjadi saat ini, kawan. Realita yang membuat saya sedih dan prihatin.

Bagi saya, agama itu penting dimiliki oleh setiap orang, termasuk politisi. Termasuk ketaatan dalam menjalankan perintah agama. Itu penting. Akan tetapi, menjadi sangat guapleki ketika ketaatan dalam beragama itu digunakan untuk jualan politik.

Hari ini, kita sangat gampang menemukan acara keagamaan yang berbau politik. Ya, kan? Kita sering melihat acara pengajian, di mana spanduknya berisi logo partai politik. Kita sering melihat acara sholawatan, di mana malah banyak spanduk yang berisi muka-muka politisi disudut-sudut acara.

Buat apa itu semua? Kenapa harus ada logo partai politik dan muka politisi di acara pengajian dan sholawatan? Ya, biar terkesan islami, dapat simpati, dapat banyak suara, menang pemilu. Secara jualan agama masih sangat laku di negara ini, kawan.

Kalau jualan agama masih sangat laku, buat apa susah-susah menunjukkan kinerja baik. Mau korupsi, mau tidur di gedung DPR, mau bagi-bagi jabatan, mau jalan-jalan ke luar megeri, mau bagi-bagi proyek, mau main sosmed di gedung dewan, mau main perempuan, itu tak jadi soal. Yang penting terkesan agamis. Masalah agamis beneran atau cuma bualan, Wallahu A'lam. Hanya Tuhan dan mereka yang tahu.

Kita juga sering melihat politisi yang tiba-tiba menjadi pendakwah menjelang pemilu. Mereka bersafari politik ke masjid-masjid. Di dalam masjid mereka berbicara panjang lebar soal kepantingan bangsa, agama, dan negara. Rakyat dijanjiin angin sorga di rumah Allah.

Mereka berbicara soal kesehatan, kesejahteraan, pendidikan, kemakmuran, dan angin sorga lainnya. Masjid dikotori oleh bualan-bualan murahan khas politisi. Tak lupa sambil menjelek-jelekkan pemerintahan yang sedang berkuasa saat ini.

Atau, jika yang berbicara itu bagian dari pemerintah, tak lupa pamer keberhasilan. Katanya sudah berhasil bangun ini dan itu. Apa tujuan itu semua? Tentu tak perlu saya jawab, kawan.

Hal yang juga lumrah kita lihat menjelang pemilu adalah para calon yang akan maju di pilkada atau pilpres, tiba-tiba senang sekali mengunjungi ulama. Tentu tujuannya untuk meraih simpati agar dianggap sebagai calon yg peduli pada tokoh agama, yang pada akhirnya akan meraih banyak suara dari pengikut ulama tersebut.

Saban hari kata-kata 'membela ulama' disebut berulang-ulang. Secara ulama 'kan banyak santrinya. Tentu saja itu jadi peluang besar meraih suara. Apalagi jika santri-santri itu mengajak keluarga mereka agar memilih calon tertentu. Bisa berkali-kali lipat suaranya nanti, kawan..

Banyak partai yang memoles diri dengan atribut agama. Mereka berlomba-lomba mengaku sebagai partai islam. Partai yang memperjuangkan agama islam.

Secara umat islam kan mayoritas. Kan lumayan dapat suara banyak dari umat mayoritas. Apalagi banyak dari mayoritas ini yang gampang dikibuli dengan slogan-slogan surgawi.

Perkara kelakukan kadernya yang rakus-rakus itu tak jadi masalah. Perkara omongan kadernya yang hari ini jualan agama tapi besoknya korupsi itu bukan masalah besar. Yang penting balutan agamisnya terus dipercantik. Yang penting luarnya islami. Soal dalamnya bobrok, itu hanya rahasia di antara mereka. Yang penting rakyat tidak tahu.

Para pengamat politik yang biasanya lebih mirip peramal itu juga bilang, kalau capres mau menang pilpres, ambillah cawapresnya dari kalangan tokoh agama islam atau santri. Tentu saja biar terkesan agamis nan islami.

Perkara mereka paham atau tidak soal ngurus negara, itu urusan nanti kalau sudah terpilih. Yang penting menang dulu. Biar tidak rugi ngeluarin uang banyak buat nyalonin. Karena kabarnya, menjadi calon itu tidak murah, kawan. Apalagi calon presiden. Tentu mereka tidak mau rugi. Jadi, apa pun akan dilakukan asal menang. Termasuk jualan agama. Tentu saja.

Agama itu adalah ajaran yang teramat suci, kawan. Harusnya juga ditempatkan di tempat paling suci nan jauh dari urusan politik penuh intrik yang terkadang sangat kotor itu.