Agama, dalam pengertian Emile Durkheim, memiliki fungsi sosial dan dapat mengukuhkan solidaritas suatu kelompok. Menurutnya, agama bukanlah suatu ilusi, melainkaan sebuah fakta sosial yang dapat diidentifikasi dan memiliki peran dalam suatu proses sosial.

Dalam perspektif sosiologi, definisi agama merupakan definisi yang empiris, yang mana berdasarkan pengalaman yang diperoleh dari penemuan, percobaan maupun pengamatan yang telah dilakukan oleh para ilmuwan.

Beberapa ilmuwan menjelaskan pengertian agama dengan merumuskan berbagai macam aspek dan dimensi yang ada pada gejala keagamaan yang diteliti. Hal ini bertujuan untuk lebih memahami konsep ilmiah tentang agama. 

Kontjaraningrat mengatakan bahwa konsep tentang religi terbagi menjadi lima komponen yang berkaitan satu sama lain. Di antara kelima komponen yang dimaksud, yaitu emosi kegamaan, sistem keyakinan, sistem ritual dan upacara, peralatan ritual, dan umat agama.

Sosiologi tidak pernah mendefinisikan agama secara evaluatif (menilai), baik atau buruknya agama ataupun agama-agama yang sedang diamatinya. Sosiologi hanya mendefinisikan agama secara deskriptif atau menggambarkan secara apa adanya, yang menunjukkan apa yang dimengerti dan dialami para pemeluknya. 

Agama dipandang oleh ilmuwan sosial sebagai fakta sosial, atau gejala-gejala yang berpengaruh dalam proses interaksi sosial.

Karena itu, penelitian sosial agama tidak mengkhususkan suatu agama sebagai keyakinan yang transendental (bersifat kerohanian) saja, akan tetapi keyakinan agama itu mengalir dan meresap dalam kehidupan manusiawi, sehingga menjadi sebuah kenyataan yang dapat diterima oleh akal pikiran manusia.

Dalam kaitannya dengan studi hadis, bagi umat Islam, hadis merupakan suatu hal yang penting karena di dalamnya terdapat tradisi-tradisi yang dinisbatkan kepada Rasulullah.

Adanya keberlanjutan tradisi yang terus berjalan dan berkembang hingga sekarang menunjukkan bahwa umat manusia saat ini telah memahami, merekam, dan melaksanakan ajaran Islam sesuai dengan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah.

Dari sini dapat dikaji mengenai kondisi suatu masyarakat pada saat munculnya hadis secara deskriptif atau apa adanya. Juga dapat dikaji mengenai hadis yang dipahami dan dialami oleh masyarakatnya.

Ranah kajian ilmu sosial dalam studi agama, menurut Robert N. Bellah, mencakup tiga aspek. Pertama, para ilmuwan mengkaji dan mengembangkan konsep dan teori sosial dalam agama sebagai persoalan teoritis, terutama dalam memahami tindakan sosial, baik secara individu maupun masyarakat dalam beragama. 

Kajian tentang tindakan sosial berkaitan dengan pengembangan berdasarkan teori motif agama dari tindakan sosial, proses atau interaksi dari tindakan sosial dengan agama, maupun keadaan yang ditimbulkan dari tindakan sosial bernuansa agama tersebut.

Keduamelalui pendekatan ilmu sosial, hubungan antara agama dan berbagai bidang kehidupan sosial lainnya, seperti ekonomi, politik, dan budaya, dikaji oleh para ilmuwan sosial.

Dari kajian tersebut, akan dapat diketahui sejauh mana hubungan agama dengan ekonomi, bagaimana agama berpengaruh terhadap kehidupan ekonomi suatu masyarakat atau tidak. Begitu pula agama dengan kehidupan politik, sejauh mana hubungan keduanya terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat.

Begitu juga hubungan agama dengan budaya, yang kemudian akan diketahui sejauh mana kebudayaan-kebudayaan di masyarakat tertentu dipengaruhi oleh agama maupun sebaliknya.

Ketigamelalui pendekatan sosial, ilmuwan dapat mempelajari peran organisasi dan gerakan-gerakan sosial keagamaan.

Terdapat dua hal pokok yang menjadi ciri khas penelitian sosial tentang agama. Dua hal tersebut di antaranya adalah pertamaempiris, di mana ilmuwan sosial melakukan interpretasi berdasarkan bukti empiris, melakukan verifikasi atas tamsil, dan melakukan penelitian lapangan untuk menjelaskan realitas sosial yang ada. 

Hal ini karena ilmuwan sosial meyakini bahwa dengan menganalisis berbagai macam pengalaman yang terdapat di berbagai masyarakat, dapat memunculkan keyakinan dan praktik agama tertentu untuk kemudian dipahami   .

Adapun relevansinya terhadap studi hadis adalah dengan melakukan penelitian matan hadis melalui pendekatan-pendekatan dalam ilmu sosial. Dengan menggunakan sosiologi, maka hadis juga dapat diprediksi atau dikaji bagaimana kehidupan sosial yang berlangsung di masa itu (zaman dahulu).

Selain itu, dapat terlihat pula kemungkinan bentuk interaksi antara hadis dan tindakan sosial masyarakat di masa itu, baik sebelum hadis itu muncul maupun sesudahnya.

Keduaobjektif, yaitu dengan memahami agama secara objektif terkait dalam masalah bahwa interpretasi ilmuwan sosial tidak bisa dibenarkan atau disalahkan melalui doktrin agama tertentu, dan juga tidak ada pula klaim benar atau salah terhadap agama-agama bagi ilmuwan sosial.

Hal tersebut kemudian yang membedakan antara pandangan penganut agama (religious believer) dengan pandangan ilmuwan sosial (sociologist, anthropologist) dalam memandang agama-agama.

Pandangan penganut agama cenderung subjektif (dalam melihat agama-agama lain selain agama yang dianut) dan lebih mengarah kepada superioritas (keunggulan) terhadap salah satu agama di antara agama-agama lainnya. 

Sementara itu, pandangan ilmuwan sosial sifatnya lebih netral. Mereka tidak mengeklaim kebenaran atau tidaknya suatu agama tertentu.

Jika dihubungkan dalam konteks studi hadis, maka kita bisa mengaitkannya dengan kajian Living Hadis. Kajian living hadis adalah kajian yang berfokus pada penelitian tentang praktik di masyarakat yang berlandaskan kepada hadis.

Ketika kita melakukan kajian living hadis, bukan ranah kita sebagai peneliti dalam menilai benar atau salahnya praktik tersebut. Seorang peneliti hanya dapat menggambarkan atau mendeskripsikan secara apa adanya.

Dari penjelasan di atas, terbukti bahwa agama di dalam sosiologi tidak pernah menilai baik atau buruknya suatu agama tertentu yang ditelitinya. Sosiologi hanya mendefinisikan secara apa adanya segala sesuatu yang dimengerti dan dialami oleh pemeluk suatu agama.

Dalam kaitannya terhadap studi hadis, kondisi suatu masyarakat pada saat munculnya suatu hadis, dikaji secara deskriptif atau apa adanya. Selain itu juga dikaji mengenai hadis yang dipahami dan dialami oleh suatu masyarakat. 

Sebagai contoh, kajian sosiologi terhadap studi hadis yang sampai saat ini masih dilakukan adalah kajian living hadis. Dalam kajian ini dapat dilihat bahwa peneliti hanya menggambarkan apa yang dia teliti secara apa adanya tanpa menilai benar atau salahnya hal tersebut.