Beberapa waktu lalu, sebuah akun dakwah di sebuah media sosial memposting sebuah tulisan yang menarik sekaligus memprihatinkan. Tulisan tersebut berisi bahwa kenaikan harga-harga barang tidak akan mempengaruhi rezeki seseorang. 

Menurut akun tersebut, seseorang tidak perlu tertekan dengan kenaikan harga-harga barang, karena rezeki setiap manusia sudah dijamin oleh Tuhan. Akun tersebut lantas menyitir beberapa dalil-dalil keagamaan yang berisi bahwa rezeki seseorang telah dijamin.

Fenomena lain yang belakangan marak adalah bagaimana para pemuka agama diminta untuk memberikan ceramah dan nasihat yang “menyejukkan.” Para pemuka agama seringkali diundang para penyandang kekuasaan untuk berbicara mengenai ajaran agama yang damai, toleran, dan penuh rahmat. 

Melalui mimbar khutbah maupun tayangan di media, para pemuka agama seringkali menyerukan kesantunan, kesabaran, ketabahan menghadapi ujian hidup, menerima segala sesuatunya sebagai takdir, menerima perbedaan, serta mementingkan kehidupan akhirat dibandingkan duniawi.

Kaum agamawan seringkali hanya mengajarkan kesalehan pribadi, berpikir positif, evaluasi diri, ataupun mengajarkan beragam ritual tanpa makna. Topik seperti “keutamaan ritus tertentu”, “keutamaan bersedekah,” “keutamaan hari-hari suci,” “keutamaan ayat-ayat tertentu,” “kesabaran menerima kondisi hidup apa adanya,” “betapa singkatnya hidup ini,” toleran terhadap perbedaan,” bersabar terhadap kezdaliman dan permusuhan,” “haramnya mengkritik kekuasaan dan penguasa secara terbuka”, serta tema-tema semacamnya yang bersifat “meninabobokkan” umat. 

Topik-topik tersebut juga menjadi hal yang rutin diulang-ulang dibahas oleh para pemuka agama di berbagai forum. Ajaran agama seakan-akan terasa menjadi “pasif” nan seolah-olah tidak relevan dengan kompleksitas kehidupan manusia kontemporer. Agama dibingkai oleh agamawan seakan sebatas terbatas urusan moral, kesabaran, dan kesalehan pribadi. 

Kita disuguhkan dengan sisi agama yang seolah minim berperan terhadap pemecahan kompleksitas realita kehidupan. Tidak mengherankan di forum-forum keagamaan seperti khutbah, banyak umat yang mengantuk dan tertidur lelap ketika mendengar topik-topik tersebut.

Sedangkan di sisi lain, beberapa  agamawan justru seringkali memanfaatkan ikon agama sebagai sarana komersial. Misal ketika mendatangkan agamawan untuk berceramah, tidak jarang umat harus membayar tarif yang mahal kepada beberapa agamawan yang mematok tarif tinggi dengan dalih atas nama “profesionalisme dakwah.” 

Tidak jarang pula kita temukan agamawan membintangi sejumlah iklan untuk memasarkan produk bisnis tertentu, atau sibuk tampil di sinetron, ataupun rajin beraksi di“reality” show. Tidak jarang pula kita temukan trend seminar agama yang menyarankan pesertanya untuk berdonasi besar-besaran dalam seminar tersebut dan dijanjikan akan mendapat balasan materi yang lebih besar. Dalam sisi ini, agama seolah digunakan sebagai ikon untuk mendapat keuntungan materi. Agama seolah tunduk pada komodifikasi ritual oleh para pemilik kapital.

Pemaknaan agama seperti itu telah mengundang banyak kritik. Misalnya, kritikan bahwa agama seolah telah menjadi “candu” bagi masyarakat. Agama seolah-olah menjadi kehilangan relevansinya dalam memberi solusi kontemporer yang riil dalam masyarakat. 

Agama seakan kehilangan kontekstualitasnya dalam menjawab problematika kehidupan manusia. Agama lantas seakan hanya menjadi seperti “pelarian” manusia dari hiruk-pikuk dan hingar-bingar beraneka permasalahan yang dihadapi di kehidupan. Di sisi lain agama seakan menjadi sarana yang pas untuk mengeruk keuntungan materi duniawi.

Padahal jika ditilik dari tradisi kitab suci, para tokoh suci pendiri agama selalu menjadi motor penggerak perubahan sosial dalam masyarakatnya. Sejarah berbagai agama lekat dengan cerita “perlawanan” dan perjuangan dari para tokoh sucinya melawan ketidakbenaran dalam tatanan masyarakat pada zamannya. 

Kita dapat melihat bagaimana berbagai tokoh suci dari berbagai agama tidak hanya sekedar berbicara mengenai urusan moral dan sekedar memerintahkan umatnya untuk hidup bersabar. Namun para tokoh suci pendiri agama mendorong umatnya aktif melakukan “perlawanan,” “perjuangan”, dan “pembebasan” mengubah kondisi dari “kegelapan” menuju “cahaya.” 

Para tokoh suci agama tersebut tidak hanya menyerukan umatnya semata untuk beriman kepada Tuhan berdasar prinsip tauhid, ataupun bersabar pada kondisi yang ada. Namun para tokoh suci pendiri agama juga aktif menentang penindasan, kedzaliman, kemungkaran, kesenjangan, dan kebodohan yang terjadi di masyarakatnya .

Dengan keteguhan dan kecerdasannya, mereka para tokoh suci agama berhasil menciptakan perubahan masyarakat secara “revolusioner”. Kita lihat bagaimana kisah-kisah heroik nan inspiratif dari kehidupan para nabi dalam tradisi Timur Tengah. 

Semisal Nabi Musa dan Nabi Harun, meski diperintahkan Tuhan untuk berkata santun ketika menghadap Fir’aun, namun Nabi Musa dan Nabi Harun tetap mengecam dan mengancam tindakan kedzaliman dan berbagai penindasan yang dilakukan oleh tiran Fira’un. 

Tidak hanya mengingatkan Fir’aun akan eksistensi Tuhan Yang Maha Esa, tetapi Nabi Musa dan Nabi Harun berani menantang kebijakan-kebijakan Fir’aun yang dzalim. Nabi Musa juga berupaya membebaskan Bani Israel dari tatanan perbudakan rezim Fir’aun. 

Dalam upayanya, bahkan Nabi Musa dan Nabi Harun berani “menusuk” datang ke “jantung” istana kerajaan Firaun untuk menegur Fir’aun secara terang-terangan. Padahal rezim Fir’aun pada saat itu disokong pilar-pilar kekuatan, yaitu teknokrat-akademisi, angkatan bersenjata, penguasa ekonomi, dan kaum agamawan. Bahkan pasca keluar dari Mesir, Musa juga aktif mendorong umatnya untuk meraih tanah yang dijanjikan.

Mengutip Ali Syariati dalam kompilasi pemikirannya pada buku “Agama versus “Agama” “, menjelaskan bahwa Nabi Musa berjuang melawan diskriminasi rasial berupa dominasi satu ras terhadap ras yang lain. Kisah Nabi Musa merupakan gerakan terhadap penyelamatan ras yang tengah diperbudak. 

Gerakan Nabi Musa merupakan gerakan perlawanan menentang penguasa arogan yang berani melawan Tuhan serta kebijakannya melegitimasi diskriminasi dan perbudakan. Sebaliknya, gerakan Nabi Musa menggantikannya dengan tatanan berbasis monoteisme, yang manifestasinya adalah pemberontakan terhadap pemerasan dan penindasan. 

Ali Syariati menambahkan bahwa ini adalah ciri agama yang “revolusioner,” yang memungkinkan manusia mampu mengkritik kehidupan dalam seluruh aspek material, spiritual, dan sosial. Inilah salah satu inspirasi yang dapat diambil dari kehidupan Nabi Musa dan Nabi Harun yang kisahnya disebutkan berulang kali dalam kitab suci.

Di sejarah yang lain, kita juga dapat melihat bagaimana Nabi Isa berani mengkritik para agamawan Yahudi pada masanya yang melakukan penyimpangan jauh dari tatanan ilahi. Nabi Isa mengkritik kejumudan praktik keagamaan masyarakat pada eranya. Nabi Isa mengingatkan kembali kepedulian sosial terhadap sesama manusia serta mengecam kedzaliman yang dilakukan sesama manusia. 

Dalam sejarahnya, diriwayatkan bagaimana Nabi Isa mengkritik kaum agamawan yang mengaku salih secara formal namun tidak bertindak esensial membela kaum tertindas dan marjinal. Sedangkan nabi dari Arab, Nabi Syuaib, juga mengingatkan masyarakatnya, tidak hanya untuk beriman pada Tuhan Yang Maha Tunggal, tetapi untuk meninggalkan praktik kecurangan dalam perdagangan. 

Nabi ini aktif dalam mengkritik realita sosial kaumnya yang hanya mementingkan keuntungan ekonomi-material bahkan meskipun menggunakan cara yang curang dan eksploitatif. Begitu pula kita dapat melihat kehidupan penutup dari para Nabi, yaitu Nabi Muhammad, bagaimana beliau dapat megubah struktur masyarakat Arab yang dipenuhi dengan kegelapan, paganisme, kebodohan, dan hawa nafsu, perang saudara, penindasan, menjadi masyarakat yang dipenuhi keadilan dan pencerahan. 

Beliau bahkan tidak hanya memberi peringatan sekedar lisan, namun beliau berani berperang ketika mendapat ancaman fisik dari para musuh yang mendzalimi agama dan umatnya. Beliau tidak hanya berhenti sekedar mengingatkan umatnya akan prinsip ketauhidan dalam beriman kepada Tuhan, namun juga melakukan perubahan “revolusiner” dalam tatanan sosial berdasar prinsip tauhid tersebut.

Dalam secuplik contoh kisah para nabi tersebut, didapatkan narasi ideal bahwa agama bukan sebatas urusan normatif, mistik, dan ritualistik tanpa makna. Para tokoh suci agama tersebut tidak hanya mencontohkan kesalehan pribadi dan juga tidak hanya bicara masalah ketuhanan, tetapi menggelorakan semangat perlawanan “revolusioner” terhadap tatanan sosial yang jauh dari nilai-nilai ilahiah. 

Mereka mencontohkan bahwa agama difungsikan untuk memicu “revolusi” menentang kemungkaran sosial-politik di lingkungan masyarakat mereka, kemudian menghantarkan kepada nilai-nilai kebenaran dan pembebasan. Agama digunakan untuk membela kaum tertindas dan marjinal. 

Agama tidak difungsikan hanya sebatas sebagai penghantar pada urusan akhirat, namun peduli terhadap urusan manusia. Agama tidak dibatasi pada ritual tanpa makna, tetapi difungsikan mampu menjawab persoalan masyarakat pada eranya. Sehingga pada masa-masa tokoh-tokoh suci tersebut, agama jauh dari anggapan “miring” yang menyatakan bahwa agama adalah sekedar “candu” bagi masyarakat.

Kisah-kisah para tokoh suci dalam kitab suci bukan dimaksudkan untuk ditulis begitu saja tanpa diambil inspirasi dibaliknya. Prinsip “perjuangan”, “perlawanan,” dan "pembebasan" para tokoh suci agama tersebut selayaknya dilanjutkan kaum agamawan saat ini. Bukankah agamawan adalah penerus para nabi? 

Permasalahan yang kompleks dalam kehidupan manusia kontemporer mencapai kompleksitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kesewang-wenangan penguasa, eksploitasi oleh pemegang kekuatan ekonomi, kesenjangan kemakmuran, marjinalisasi masyarakat, kecurangan dan manipulasi, perluasan individualisme serta ketidakpedulian sosial, menemukan bentuk-bentuk barunya dalam kehidupan manusia kontemporer. 

Hal ini menjadi persoalan riil sehari-hari dalam masyarakat yang membutuhkan solusi konkrit. Inilah saatnya para agamawan-sebagai penerus para nabi- untuk meneladani sikap para nabi yang bertindak nyata membela umat menghadapi beragam permasalahannya. Saatnya para agamawan merumuskan kontekstualisasi perjuangan, pembebasan, dan perlawanan dalam membela umat; bukan sebaliknya justru sibuk “meninabobokkan” umat.