Apakah ada agama yang tidak mengandalkan tulisan? Pasti tidak ada. Kita bahkan boleh menyimpulkan bahwa ajaran sebuah agama tak akan berkembang jika tidak disebarkan dalam bentuk Kitab Suci (yang isinya tulisan semata!). Apakah ada agama yang tidak menganjurkan umatnya membaca? Pasti juga tidak ada! Tetapi mengapa ada pelarangan kegiatan membaca yang muncul atas nama agama?

Tulisan ini bukanlah tentang agama, apalagi agama tertentu. Tulisan ini adalah tentang membaca pada khususnya, dan nilai-nilai yang kita kenakan terhadap membaca. Dalam bahasa kerennya, tulisan ini adalah tentang "budaya membaca". Namun tentu saja sulit melakukan pembahasan tentang budaya tanpa mengulas kekuatan-kekuatan yang melahirkan atau mematikan sebuah budaya; dan dalam hal ini religi atau ajaran agama dapat dilihat sebagai salah satu kekuatan tersebut.

Selain itu  --dalam konteks tentang membaca--  asumsi dasar saya adalah bahwa agama dan bahasa tertulis (yang tentunya adalah bahan bacaan!) tak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Jadi, pembicaraan tentang membaca sebenarnya tak dapat dilepaskan dari pembicaraan tentang agama  --walau kita tak bermaksud membicarakan tentang agama itu! 

Terlebih-lebih lagi, sebenarnya kita sulit berdiskusi tentang membaca tanpa terlebih dahulu keluar (sejenak) dari konsep umum bahwa "membaca adalah sebuah kegiatan individual dalam diam" (solitary reading). Jika berbicara tentang "kebiasaan membaca" (reading habit) kita cenderung merujuk ke kegiatan orang-perorangan yang dilakukan dalam diam, sendirian, di pojok, atau di bawah pohon, atau di tempat tidur sambil leyeh-leyeh.

Akibat persepsi umum itu, kita gampang sekali mendukung dikotomi atau pembenturan antara lisan (orality) dan tulisan (literacy) sehingga kehilangan orientasi ketika berbicara tentang kemungkinan ketiga, yaitu aurality. Saya belum menemukan terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia; tapi mungkin bisa diusulkan sebagai "kependengaran". Jadi, ada keberaksaraan (literacy), kelisanan (orality) dan kependengaran (aurality). Mudah-mudahan tidak terbaca dan terdengar terlalu aneh.  

Menyuarakan Bacaan

Coba bayangkan sebuah kegiatan yang cukup umum terjadi di kegiatan ibadah agama, yaitu menyuarakan atau membaca dengan suara keras atau menyanyikan atau merapalkan sebagian isi Kitab Suci.

Bayangkan aktivitas-aktivitas seperti mengaji, mebasan, koor (choir), memantra atau mengalunkan kidung (chanting)Bayangkan juga ceramah, dakwah, khotbah, yang melibatkan kegiatan mengucapkan, menyuarakan dengan alunan tertentu (atau menyanyikan!), dan merapalkan mantra. Semua itu dapat dikategorikan sebagai kependengaran atau aurality, sebab memang mengandalkan pendengaran atas teks. Orang-orang mendengarkan serangkaian teks!

Boleh jadi, orang yang menyuarakan, mengucapkan, menyanyikan, atau merapalkan teks tersebut melakukannya di luar kepala (menghapal tulisannya, lalu menyuarakannya tanpa melihat teks); namun tetap saja ia tidak keluar dari apa yang tertulis. Di dalam setiap agama, teks yang disuarakan itu harus persis sama dengan aslinya, bahkan seringkali bukan hanya dalam aksara yang digunakan tetapi juga dengan bagaimana seharusnya aksara itu dibunyikan!

Kependengaran atau aurality dengan demikian adalah membaca juga! Tetapi tidak dalam diam, melainkan dalam keributan; dalam kehirukpikukan bahkan.  

Ini berbeda dengan kelisanan yang selama ini berkonsentrasi pada penggunaan ingatan dan kemampuan berbicara/bertutur kata tanpa harus selalu mengaitkannya dengan teks tertentu. Budaya lisan seringkali dibenturkan dengan budaya tulisan melalui bukti-bukti bahwa pelaku budaya lisan tidak mengandalkan bacaan, atau bahkan tidak punya kemampuan membaca (alias buta huruf).

Budaya kependengaran adalah sebaliknya, tidak dibenturkan dengan keberaksaraan sebab apa yang diperdengarkan adalah apa yang tertulis (dan dengan begitu, apa yang dibaca!). Bahkan dalam bentuk ekstrimnya, apa yang diperdengarkan tidak boleh berbeda sama sekali dari apa yang tertulis. Tentu dengan asumsi bahwa teks bukan hanya untuk dibaca/dilihat tetapi juga untuk disuarakan/didengar! Sebab toh semua aksara, apa pun bahasanya, mengandung bunyi!

Aurality dan Kemurnian Ajaran Agama

Terlepas dari fakta-fakta linguistik di atas, modus utama kependengaran dalam konteks religi adalah menjaga kemurnian ajaran agama. Semua agama menegaskan bahwa Kitab Suci mereka adalah asli dan sah; isinya tidak boleh diubah-ubah walaupun semua agama sebenarnya menggunakan bahasa tulisan yang perlahan tapi pasti semakin jarang digunakan sehari-hari. Beberapa agama, bahkan menggunakan bahasa yang tidak digunakan sama sekali dalam kehidupan sehari-hari.

Dari sinilah maka muncul fenomena khusus dalam perkembangan agama yang memfokuskan diri pada makna "membaca". Fenomena ini pulalah yang secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi sikap pihak-pihak yang merasa bertugas menjaga kemurnian agama. 

Bagi pihak-pihak yang menempatkan diri sebagai pelindung kemurnian agama, maka satu-satunya sumber bacaan yang paling sah adalah sumber bacaan asli, dan keaslian ini harus dapat disuarakan atau diperdengarkan atau didiskusikan sebagaimana awalnya bacaan tersebut dibuat. Maka dapat dimengerti bahwa dalam konteks religi, membaca adalah kegiatan serius selama yang dibaca adalah teks asli, dan selama kegiatan membaca itu dilakukan di dalam mekanisme yang melibatkan penyuaraan dan verifikasi oleh orang yang memiliki otoritas.

Pemilik otoritas itu, tentu saja, adalah sekelompok kecil orang yang dianggap (atau menganggap dirinya) paling sah dan paling tahu tentang keaslian teks agama yang bersangkutan.

Pemilik otoritas ini pulalah yang   --melalui mekanisme sosial politik-- berupaya memperluas wewenang mereka terhadap semua bacaan; tidak lagi terhadap bacaan yang secara khusus menyangkut Kitab Suci, tetapi juga ke semua bacaan yang dianggap dapat memengaruhi moral berbasis ajaran agama yang bersangkutan.

Perluasan inilah yang akhirnya muncul dalam bentuk aksi-aksi yang secara gamblang terlihat sebagai "perlawanan" terhadap buku, bacaan, atau kegiatan lainnya yang berkaitan dengan buku (misalnya, diskusi buku). Beberapa aksi ini bahkan menjadi formal dalam bentuk institusi sensor, lewat mana lembaga-lembaga agama resmi maupun tidak resmi berusaha menghalangi penulisan, penerbitan, pembacaan, atau pendiskusian-bacaan, yang dianggap mengganggu moralitas.

Keberaksaraan dan Kemerdekaan Pribadi

Perluasan yang menggunakan modus kependengaran (aurality) ini tentu saja dengan mudah tergelincir menjadi tindakan mengganggu pertumbuhan keberaksaraan; semata-mata karena keberaksaraan seringkali mengandalkan kemerdekaan pribadi dalam bentuk kegiatan membaca dalam diam secara sendirian. Di dalam kegiatan membaca-diam-diam inilah ada jaminan terhadap hak seseorang untuk memaknai, menganalisis, menolak, menerima, atau mengabaikan isi bacaan. Tidak perlu ada penyuaraan atau verifikasi.

Kalau pun ada diskusi lisan terhadap sebuah buku, tujuannya bukanlah untuk menjaga kemurnian teks, melainkan mungkin justru untuk mengobrak-abrik teks itu dalam rangka mendebat isinya atau menemukan makna-makna tersembunyi di dalamnya.

Pelarangan terhadap diskusi sebuah buku, apalagi mengatasnamakan agama tertentu, akhirnya hanya menunjukkan bahwa pihak yang melarang tersebut sedang menerapkan sebuah modus yang sama sekali tidak cocok untuk budaya membaca dalam pengertian keberaksaraan.

Dan tentu saja, pelarangan atas nama agama tertentu itu juga menimbulkan pertanyaan: apakah pihak yang melarang itu sudah benar-benar memahami agamanya dan buku yang dia larang untuk didiskusikan itu!?

Jangan-jangan .... Ah, teruskan sendiri, lah, kesimpulannya!