Realitas hari ini adalah bahwa agama telah dikesampingkan dalam mengatasi problem sosial seperti kemiskinan, pengangguran, dan ketidakadilan. Selama ini, diskusi tentang agama dan problemmatika umat selalu berjuang pada tuduhan. 

Agama dianggap sebagai penyebab dari seluruh ketidak mampuan manusia menghadapi realitas kehidupan. Tak jarang dituduhkan bahwa agama merupakan bentuk wajah suram peradaban manusia moderen.

Realitas agama saat ini merupakan  bentuk refleksi terhadap kegagalan peran agama. kegagalan ini terlihat saat agama tidak bisa memberikan jawaban terhadap persoalan kemanusiaan. Agama sering kali terlalu bersifat dogmatis. 

Kemudian juga kurang mencerminkan pemecahan masalah. Dengan kata lain, pemecahan problem kemanusiaan yang melibatkan tata kerja sistematik sejak dari konsep, oprasional, hingga ketahap evaluasi.

Di samping itu, umat manusia dan juga umat Islam di Indonesia dihadapkan pada  invasi. Hal ini merupakan suatu ancaman yang bersifat praktis. Sifat ini memberikan dampak negatif dari aksi terorisme dan problem palestina yang menteror hati nurani manusia. Aksi tersebut menimbulkan dua wajah yang berbeda, dimana terorisme menyebabkan munculnya Islamofobia.

Adapun problem palestina mencerminkan kebiadaban kaum Yahudi (Israel) terhadap Islam. Dua wajah ini seakan membius dan menguras perhatian seluruh umat manusia. Tetapi, bentuk ancaman kemanusiaan yang lebih besar sebenarnya adalah menguatnya sistem ekonomi politk neo-liberalisme dalam era yang disebut sebagai globalisasi modal.

Ancaman globalisasi kapital merupakan bentuk mengguatnya ekonomi dan politik yang berwatak persaingan bebas. Persaingan ini merupakan kembalinya paham kolonialisme dan imprialisme yang sudah lama mati. Rakyat kecil akan semakin tertindas dan mengalami pemiskinan total.

Batas-batas kemanusiaan mulai meluntur dengan adanya tuntunan globalisasi. Sehingga kewaspadaan perlu ditingkatkan atas skenario sistenatik globalisme neo-liberal dalam rangka melucuti peran dan fungsi agama. Sehingga nantinya dapat membentuk sistem ekonomi berkeadaban dan berkeadilan.

Globalisasi membawa agama secara sistematik menjadi pecundang, karena differensiasi fungsional dan fragmatis kultural yang telah menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Hasilnya adalah praktik kemanusiaan dan pemiskinan masyarakat kalangan bawah.

Peran dan fungsi agama dalam pentas dunia global perlu dipertanyakan kembali. Apakah agama bisa menjadi alternatif penyembuhan bagi manusia dari cengkeraman kemiskinan, pengangguran, dan ketidakadilan? Fenomena keagamaan dewasa ini seakan-akan menegaskan momen kritisnya  (critical juncture) dalam menghadapi persoalan manusia.

Kedudukan agama di tengah masyarakat telah ternodai dengan perbuatan tercela. Bahkan agama seola-olah justru menjadi bagian pemicu persoalan daripada menyelesaikan berbagai permasalahan. Sebut saja seperti maraknya aksi radikalisme yang berjuang pada terorisme, bom bunuh diri, peperangan, dan penindasan.

Penentang agam-agama pada awalnya bukanlah terletak pada model baru keagamaan berupa penyembahan kepada Tuhan. Melainkan kekhawatiran mereka adalah agama tersebut akan mengganggu dan mengacaukan stabilitas sosial-ekonomi kapital yang mereka bangun yaitu akumulasi kekayaan untuk mengekalkan kekuasaan dan praktik penindasan.

Selain itu, Agama dalam realitas sosial ini justru lebih terlihat sebagai “komoditi seni” yang menjadi tontonan menghibur. Agama terkesan hanya sebuah cerminan kepercayaan individual dengan segala ketentuan penghayatannya. 

Paling agama diperlukan dalam peringatan-peringatan tertentu yang sifatnya euforia dan seremonial. Euforia merupakan perasaan nyaman atau perasaan gembira yang berlebihan. Sifat tersebut terlihat jelas pada aktivitas-aktivitas sosial seperti perayaan agama pada bulan-bulan suci, pernikahan, dan ritual saat orang meninggal.

Agama diciptakan bukan untuk menjadi sebuah “berhala baru”, tempat ratapan atas kesengsaraan manusia yang dipuja-puja. Tetapi, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, agama difungsikan sebagai pembina sekaligus penyempurna akhlak dan moral manusia. Berarti memberikan spirit pembebasan terhadap realitas kemanusiaan yang menindas.

Paradigma pemikiran dan penghayatan keagamaan yang terlalu teosentris merupakan anggapan bahwa segala hal yang dikerjakan manusia adalah untuk kepentingan Tuhan semata.  Kemudian mengkesampingkan nilai-nilai kemanusiaan. Mengabdi kepada Tuhan dalam bentuk ritual ibadah dipandang sebagai bentuk peneguhan eksistensi Tuhan.

Selain faktor ekonomi, politik, budaya dan pendidikan, agama menempati posisi strategis dalam melahirkan perubahan sosial. Semestinya agama mempunyai perhatian untuk melakukan perlawanan terhadap segala bentuk eksploitasi. 

Agama dituntut kepekaannya untuk menolak segala hal yang tidak sesuai dengan kemasalahatan dan akal budi. Tetapi justru agama sering lunglai dan tidak responsif dihadapan gagahnya realitas sosial.

Problem kemanusiaan saat ini seperti, kemiskinan dan pengangguran secara nyata semakin menyempurnakan penderitaan dan kelaparan. Sehingga agama tidak lagi harus berbicara sesuatu hal yang melangit, menjadi euforia bagi umat manusia untuk berangan-angan mendapatkan kebahagiaan di akhirat.

Tantangan keberagamaan tidak lagi bersifat doktrinal, melainkan tantangan yang bersifat empirik berupa problem kemanusiaan. Seperti konflik sosial, kekerasan, ketimpangan, kelaparan, dan ketidak adilan menjadi realitas yang harus dihadapi oleh manusia.

Agama harus senantiasan memberikan napas pembebasan terhadap pemeluknya. Agama harus sanggup menterjemahkan dirinya dari bahasa langit, menuju bahasa bumi. Kemudian ini nantinya dapat sesuai dengan realitas kehidupan manusia. Agama sebagai institusi dominan dalam diri manusia, sehingga ini mampu menjawab tantangan dan problematika kehidupan manusia.

Agama yang selalu berani memberikan kriteria moral pada setiap keadaan, dengan menunjukkan keadaan ideal sesuai dengan nilai-nilai kemanusian. Agama tidak hanya menuntun kepatuhan belaka. Akan tetapi juga pergulatan untuk mewujudkan tatanan yang lebih bertanggmg jawab. Melalu perspektif inilah pesan-pesan suci agama akan relevan dengan perwjudan keadilan sosial dan ekonomi.