Apa yang anda pikirkan ketika mendengar kata “remaja” atau apa yang anda lakukan ketika anda masih remaja (jika anda sudah melewati fase tersebut)? Remaja menurut WHO adalah mereka yang berusia 10 sampai dengan 19 tahun.(1)

Masa remaja identik dengan bersenang-senang, menonton film favorit bersama sahabat, jalan-jalan ke tempat wisata, bermesraan dengan kekasih.

Tetapi apa jadinya jika ada seorang remaja yang memiliki pemikiran brilian untuk anak seusianya? Pasti mengagumkan. Apalagi jika remaja tersebut bisa menuangkan gagasannya ke dalam tulisan yang  juga cerdas. Tentu akan menjadi nilai tambah baginya.

Itulah yang ditunjukkan oleh Afi Nihaya Faradisa. Gadis remaja asal Banyuwangi yang baru lulus SMA dan berusia 19 tahun tersebut dikenal luas oleh publik setelah memposting tulisan yang berjudul “Warisan”. Seakan memahami konflik-konflik yang terjadi karena isu SARA belakangan ini, Afi menggugah kesadaran banyak orang melalui tulisannya itu.

Dalam waktu yang sangat singkat, Afi menjadi simbol pluralisme. Afi adalah wakil dari generasi milenial yang diharapkan menginspirasi banyak orang di masa depan sehingga perseteruan akibat identitas tak lagi terjadi.  Tawaran terus berdatangan kepada Afi untuk menjadi pembicara di berbagai seminar, menghadiri talkshow di stasiun televisi swasta sampai diundang menjadi pemateri di salah satu perguruan tinggi ternama di tanah air. Saya dan sebagian orang yang sepemikiran dengan  Afi pasti merasa bangga dengan dia. Terlebih lagi latar belakang keluarga Afi yang menuntutnya untuk berusaha keras mendapatkan apa yang dia inginkan.

Di tengah popularitasnya, Afi ditimpa isu yang tidak mengenakkan. Tulisannya yang berjudul “Belas Kasih dalam Islam” ditengarai menjiplak tulisan seorang pengguna Facebook bernama Mita Handayani yang berjudul “Agama Kasih” yang diposting di Facebook pada tanggal 30 Juni 2016 silam. Ini dikonfirmasi oleh Mita Handayani dalam akun Facebooknya bahwa benar dia telah mengunggah tulisan berjudul “Agama Kasih”.(2) Statement Mita memang tidak menyudutkan Afi yang telah menjiplak tulisannya. Menurutnya semua orang pernah berbuat salah dan jangan terlalu menyalahkan Afi.

Respon yang sangat bijaksana dari Mita Handayani. Tetapi yang saya sayangkan adalah mengapa Afi tidak mengakui bahwa dia menyalin tulisan milik Mita? Mengapa dia menutup akun facebooknya tanpa itikad baik mengklarifikasi?  Mengapa Afi justru terkesan meminta Mita yang mengkonfirmasi soal plagiarisme seakan-akan Mita yang telah menjiplak tulisannya?

Bagaimana sebaiknya kita menyikapi hal ini?

Plagiarisme & Tulisan

Plagiarisme didefenisikan sebagai tindakan mencuri dan mempublikasikan ekspresi, bahasa, pemikiran dan ide penulis lainnya dan mengakui bahwa tulisan tersebut adalah miliknya.(3) Istilah plagiarisme sendiri  banyak digunakan dalam ranah akademik dan jurnalistik.(4) Jika mengacu pada hukum di Indonesia, soal hak cipta yang diatur dalam UU No. 19 Tahun 2002, ciptaan berupa tulisan yang dilindungi berupa buku, pamflet, layout karya tulis yang diterbitkan dan karya tulis dalam ilmu pengetahuan. Seseorang juga baru dikatakan memiliki hak cipta atas ciptaannya jika sudah mendaftar pada Direktorat Jenderal. (5)

Cukup sulit memang mengatakan tulisan di Facebook sebagai plagiarisme yang melanggar hukum karena memang tidak ada landasan hukum mengenai hal tersebut lantaran bukan tulisan ilmiah. Tetapi kita bisa membahasnya sebagai tindakan yang melanggar etika kepenulisan. Orang yang pernah membuat tulisan meskipun tidak bersifat ilmiah pasti memahami bahwa menulis tidaklah mudah.

Penulis harus mendapatkan ide & membuat sudut pandang agar tulisan tidak bersifat klise, menyusun argumen-argumen, mencari referensi untuk memperkokoh argumen yang telah dibangun dan menyajikannya agar menarik minat para pembaca. Menghasilkan tulisan yang baik dan menarik tidak terjadi dalam satu kedipan mata. Bahkan beberapa penulis membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk melahirkan sebuah tulisan.

Ini didukung oleh sebuah jurnal berjudul Writing Skill yang ditulis oleh Kellogg  tahun 2008 (6) bahwa belajar menulis sebuah tulisan yang efektif dan koheren adalah sesuatu yang sulit. Untuk mengembangkan skill menulis dibutuhkan 3 tahapan yaitu

  • Pemula: menulis sesuatu yang diketahui oleh penulis
  • Lanjutan: transformasi gagasan menjadi tulisan dari apa yang diketahui penulis untuk kepentingan penulis
  • Akhir: transformasi gagasan menjadi tulisan dari apa yang diketahui penulis untuk kepentingan para pembaca

Sikap Permisif & Kehancuran

Tidak sedikit pihak yang membela Afi dalam hal ini dengan mengajukan argumen bahwa Afi masih remaja, tidak perlu membesar-besarkan masalah yang ini dan berikan kesempatan bagi Afi. Untuk yang terakhir, penulis setuju.

Sekilas pembelaan-pembelaan tersebut terkesan manis. Tetapi jika kita mau merenungkan lebih dalam, pembelaan hanya menunjukkan sikap permisif terhadap tindakan penjiplakan yang layak disebut pencurian. Diakui atau tidak, kesalahan yang dilakukan oleh Afi tetaplah harus dikritisi dan memaksanya untuk berbenah diri. Bagaimanapun, Afi sudah menjadi public figure. Apa yang dia lakukan, katakan dan tuliskan akan dilihat oleh umum dan bukan tidak mungkin ditiru khalayak. Popularitas merupakan tanggung jawab yang besar dan Afi harus menerima konsekuensi dari apa yang dianugerahkan kepadanya.

Apa yang penulis sampaikan bukanlah sebuah kecemburuan akan pencapaian Afi. Ada sebuah pepatah bahwa racun tidaklah selalu pahit dan obat tidak selalu manis. Bersikap permisif terhadap tindakan Afi, memberinya harapan dan sanjungan, pembenaran yang terus menerus justru akan menghancurkan Afi sendiri. Memberinya racun.  

Jalan menuju kebijaksanaan, menurut Confusius, yang paling pahit adalah melalui pengalaman. Jika teguran terhadap Afi adalah pengalaman pahit baginya maka itu kelak akan menjadi jalan kebijaksanaan bagi Afi. Anggaplah ini sebuah proses.

Saya berharap Afi akan tumbuh menjadi perempuan yang bijaksana. Sesuai petuah Ali bin Ali Thalib bahwa jika seseorang memiliki pengharapan yang baik terhadapmu sahakan memenuhi harapan tersebut. Semoga Afi mampu memenuhi harapan saya.

Salam sayang untuk Afi   


Referensi

  1. Kementerian Kesehatan RI. 2015. Situasi Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta
  2. Mita Handayani. 2017. https://web.facebook.com/photo.php?fbid=1674674029506905&set=a.1388001711507473.1073741828.100008929718959&type=3&theater. Diakses pada tanggal 2 Juni 2017 pukul 10.00 WIB.
  3. Oxford English Dictionary (1999)
  4. O'Connor, Z (2015) Extreme plagiarism: The rise of the e-Idiot?, International Journal of Learning in Higher Education, 20 (1), pp1-11.
  5. Republik Indonesia. 2002.  Pasal 35 UU No. 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta. Sekretariat Negara, Jakarta.
  6. Kellog, R.T. 2008. Training Writing Skills: A Cognitive Development Perspective.  Journal of Writing Research 1-26. Saint Louis, USA.