Gatal juga tangan saya untuk tidak menulis tentang “kebenaran” yang disampaikan adik kita, Afi Nihaya Faradisa, asal Banyuwangi ini. Bukan hendak menggugat, menghakimi atau menulis “kebenaran” tandingan terkait “Warisan” yang menyedot perhatian banyak kalangan.

Saya merasa tidak tega dengan Faradisa ketika sejumlah pihak mendukungnya habis-habisan sekaligus ada pula pihak yang terang-terang menjadi haters, hingga mengirim ancaman fisik dan ancaman pembunuhan padanya.

Faradisa dan kita semua sedang hidup di tengah cuaca ekstrim yang serba tidak menentu. Ekstrim merasa paling benar sehingga ekstrim pula menentang pihak yang dituding salah. Bibit tanaman kebaikan yang disemai di tengah cuaca ekstrim itu akan pontang-panting, hingga akar tanaman yang masih muda, akan tercerabut dari tanah. Lantas layu sebelum berbunga dan berbuah, lalu mati.

Selain lugu dan polos, Faradisa terlalu jujur mengungkap bahan dasar kebenaran di tengah situasi komunikasi sosial yang hari ini dicekam perang kebenaran melawan kebenaran. “Warisan” menjadi tema perbancingan yang dirasuki oleh situasi itu.

Ibarat secangkir kopi panas, orang meributkan bahan dan unsur apa yang berjasa di dalamnya: gula, air, kopi, sang pengaduk kopi, cara menyajikannya, suasana di ruangan? Terjadi adu argumen kebenaran antara bahan dan unsur-unsur itu hingga tak terpikir lagi untuk nyruput kopi panas. Orang-orang malah berdebat, menggunakan sikap dan cara berpikir bahwa masing-masing dari mereka adalah gula, kopi, air, cangkir.

Bahan dasar kebenaran yang saya maksud adalah serupa bahan dan unsur yang tersaji dalam secangkir kopi. Atau kalau memakai analogi struktur ruangan rumah, bahan dasar kebenaran ini kita masak di dapur. Outpunya adalah secangkir kopi keadilan, kopi kebersamaan, kopi kesejahteraan, kopi pemberadaban yang disajikan di ruang tamu.

Pada beberapa bagian tulisan “Warisan”, Faradisa menampilkan bahan dasar kebenaran agama—yang  menurutnya bisa diracik menjadi secangkir kopi toleransi—adalah warisan dari kedua orangtua dan lingkungan. Sikap adik kita ini tidak salah, tapi juga tidak seratus persen benar. Kita perlu belajar tentang personalitas dan identitas manusia agar lebih jernih memandang warisan tanpa tanda kutip.

Sayangnya, masyarakat langsung terbelah—share tulisan “Warisan” tak terbendung, demikian pula yang kontra dan berusaha meluruskan. Yang merasa “Warisan” sesuai dengan aspirasi pemikirannya mendukung habis-habisan. Yang merasa ada ganjalan-ganjalan, ketidakbenaran, menampilkan reaksi kontra habis-habisan.

Dan di tengah itu semua, kita sesungguhnya sedang mengurung kebenaran—menciptakan tembok pembatas, atas bawah, kiri kanan, untuk mengelilingi keluguan dan kepolosan adik kita, tanpa kesanggupan menampung, mengayomi, mengasihi sambil menemainya berjalan menguak cakrawala kebenaran yang lebih luas dan dalam.

Sikap pro dan kontra kita terhadap “Warisan” serta kepada sejumlah persoalan yang membelah kita, nyaris seratus persen. Kalau pro, ya pro seratus persen. Kalau kontra, ya kontra seratus persen. Baik pihak yang pro dan kontra, sama-sama berteriak dan mengepalkan tangan demi membela kebenaran.

Padahal Faradisa atau diri kita bukan Faradisa atau diri kita yang kemarin. Diri kita besok pagi bukan diri kita malam ini. Kebenaran faktual-alamiah diri kita terus bergerak dan berkembang—tidak mandeg, stagnan, dan statis. Terlebih lagi kebenaran yang kita masak secara terus menerus menjadi “makanan” atau “minuman” yang menyehatkan hubungan bebrayan sosial, akan terus mengalami dinamisasi perubahan. Cakrawala kebenaran selalu memanggi-manggil.

Namun, sejumlah pihak, baik yang mendukung maupun yang menentang, membekukan “Warisan” pada pencapaian, misalnya angka tujuh. Stop di angka tujuh. Mengikatnya di angka tujuh. Menyuntikkan formalin agar abadi di angka tujuh. Apa yang disampaikan Faradisa menjadi kebenaran final.

Memang, sejumlah pemikiran adik kita perlu dikoreksi. Namun, apakah tidak terbayang di benak kita bahwa sebagai manusia Faradisa memiliki potensi dan kesempatan yang sama dengan kita untuk terus menempuh safari eksternal-internal menuju cakrawala kebenaran, dengan sejenak berhenti di terminal kematangan dan kedalaman?

Pada posisi angka tujuh, terbentang segala kemungkinan untuk menemukan delapan, merasakan sembilan, menghayati sepuluh dan seterusnya. Sambil jangan lupa di dalam tujuh terkandung muatan bibit kesadaran enam, benih penghayatan lima, akar pengalaman empat dan seterusnya.

Kalau melihat nasi jangan melupakan beras, gabah dan padi, sambi memproyeksikan sejumlah kemungkinan menjadi nasi goreng atau nasi bakar. Tafsir tentang kebenaran akan selalu mengalir dan bergetar. Mengurung dan menghakiminya akan mengundang kiamat.

Faradisa dan kita semua lebih baik fokus memasak bahan dasar kebenaran lalu menyajikannya sebagai makanan dan minuman yang dimuati nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Adapun kita memiliki ruang dapur yang berbeda, itu wajar dan biasa-biasa saja. Di ruang tamu kita berkumpul dalam suasana toleransi sambil menyajikan masakan yang menyehatkan, mengamankan, menggembirakan satu sama lain.

Ruang tamu itu adalah negeri Nusantara, NKRI tercinta.