Akhir pekan kemarin, jagat media sosial kembali panas, kali ini karena tagar #bekaluntuksuami menjadi trending topic di twitter. Bermula dari akun @rainydecember yang memposting foto bekal makanan yang dibuatnya untuk suami. Dalam postingannya tersebut, ia bermaksud untuk memberikan inspirasi ragam bekal makanan suami kepada netizen.

Betapa pun estetiknya bekal-bekal makanan yang diunggah oleh Mbak @rainydecember, tetap saja ada yang berkomentar nyinyir. Setelah saya rangkum beberapa di antaranya, netizen-netizen yang mendapat label ‘social justice warrior feminist’ ini menganggap bahwa seorang istri yang membawakan bekal kepada suami adalah budak patriarki, korban dominasi suami, dan bentuk inferioritas terhadap perempuan dalam rumah tangga.

Para SJW Feminis ini lantas mendapat serangan balik dari netizen lain yang tak sependapat dengan menyodorkan definisi feminisme yang mereka yakini, beberapa di antaranya ada yang menyatakan mulai muak dengan sikap SJW-SJW Feminis.

Gejala Maskulinitas Toksik yang Baru

Sejauh mempelajari teori Feminisme di bangku perkuliahan hingga sekarang, saya tak dapat menemukan definisi One True Feminism yang sahih. Feminisme terbagi menjadi beberapa gelombang, setiap gelombang mendefinisikan gerakannya masing-masing. Satu gelombang dengan gelombang yang lain bisa jadi memperjuangkan hal yang berbeda.

Saya bertaruh Anda pun memiliki konsepsi terhadap makna feminisme itu sendiri. Entah positif maupun negatif, makna tersebut kita dapatkan sebagai hasil input dari apa-apa yang kita alami, konsumsi, maupun pelajari. Namun untuk menyederhanakannya, mari kita buat satu konsepsi bahwa agenda feminisme secara umum ialah memperjuangkan kesetaraan hak dan melawan segala bentuk penindasan terhadap perempuan.

Lama-kelamaan, saya justru melihat sikap SJW-SJW Feminis yang kerap nyinyirin perempuan lain ini menjadi makin jauh dari cita-cita feminisme dan menyerupai maskulinitas yang toksik. Ketika seorang laki-laki tidak diperbolehkan terlihat rapuh demi membuktikan kelelakiannya, maka perempuan yang mengaku feminis tidak diperbolehkan untuk terlihat feminin untuk membuktikan kefeminisannya.

Keduanya sama-sama memuja maskulinitas dan memandang rendah feminitas. Seolah-olah feminitas adalah nilai yang harus disingkirkan. Makin maskulin makin baik.

Mungkin lebih parah dari maskulinitas toksik, karena perilaku tersebut dilakukan terhadap sesama perempuan tanpa sikap empati. Suatu sikap yang sangat bertolak belakang dengan jargon feminisme itu sendiri untuk saling mendukung dan memberdayakan satu sama lain.

Bersikap Feminis Sejak dalam Pikiran

Meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer dalam Tetralogi Buru bahwa kita harus bersikap adil sejak dalam pikiran. Kita juga perlu untuk bersikap feminis sejak dalam pikiran, sebab ia bukan hanya berupa identitas yang disematkan dalam tag name semata.

Terlepas pada Anda melabeli diri sebagai Feminis atau tidak, atau justru ikutan muak dengan label itu, membela hak dan melawan penindasan patriarki adalah sebuah misi kemanusiaan.

Menurut saya, perempuan tidak seharusnya dijauhkan dari pemikiran dan perasaannya sendiri demi memenuhi prasyarat menjadi feminis. Perempuan tidak boleh dipaksa untuk mengecilkan intuitif mereka agar dapat dinilai ‘subjektif’ dan ‘valid’.

Kalau kita menerima bahwa untuk dinilai valid harus memenuhi syarat maskulinitas tradisional, ya apalagi yang tersisa untuk diperjuangkan oleh kaum Feminis? Pada akhirnya kita seperti adu otot di ring tinju dan berakhir pada zero sum game.

Ketika laki-laki tidak perlu membuktikan diri mereka sebagai superman karena itu dianggap maskulinitas yang toksik, maka perempuan juga tidak perlu membuktikan diri mereka sebagai wonderwoman demi memenuhi arogansi feminisme. Mari menjadi wonderwoman yang didasari oleh kesadaran diri tanpa mengesampingkan rasa empati.

Memaksakan diri untuk tampil seperti laki-laki adalah bentuk konfirmasi bahwa kita menerima aturan main dan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh laki-laki. Mengapa para perempuan tidak boleh menciptakan realitasnya sendiri tanpa bayang-bayang patron laki-laki sebagai sosok manusia yang ideal? Seorang feminis akan menciptakan realitasnya sendiri tanpa mengikuti standar maskulinitas. Kefeminisan seseorang takkan menjadi rapuh karena itu.

Jadi sobat-sobat SJW Feminis, apa yang sebenarnya sedang kita bela? Hak-hak perempuan, ketidakadilan, atau sebuah arogansi identitas seorang feminis yang antipati?

Maka jika ada seorang perempuan yang penyayang, suka memasak, senang menjalankan peran istri maupun keibuan dengan sepenuh hati, ya sah-sah saja. Tidak lantas ia menjadi tidak feminis dan budak patriarki. Justru memaksa untuk mengikuti standar bahwa perempuan harus bersikap maskulin itulah sebenar-benarnya budak patriarki.

Perempuan yang galak, pandai bertarung, dan tidak suka memasak juga bukan berarti berkurang nilai keperempuanannya. Lagi-lagi, biarkan perempuan mendefinisikan realitasnya sendiri.

Tiga Pesan Baik

Membela kesetaraan gender bukan berarti menganggap bahwa feminitas itu tidak ada. Menyingkirkan feminitas adalah upaya melanggengkan maskulinitas yang menjadi bibit unggul dari budaya patriarki. Jika feminitas dipandang sebelah mata, berarti kita belum benar-benar khatam belajar.

Tetapi yang harus diingat, bersikap muak dengan SJW-SJW Feminis lantas mengecilkan gerakan feminisme hanya karena satu peristiwa tanpa mau membuka mata terhadap literasi feminisme dan mengabaikan perjalanan panjang sejarahnya juga sikap yang kurang bijaksana. Hal demikian apa bedanya dengan sikap arogansi dan antipati?

Bagaimanapun juga, diskursus gender adalah on going discourse yang membukakan jalan menuju keadilan antara laki-laki dan perempuan. Membawa diskursus gender ke ranah media sosial merupakan pertanda baik. Sebab selama ini wacana feminisme lebih sering muncul di bangku-bangku perkuliahan dan think tank daripada di warung sayur atau pos ronda yang justru lebih dekat dengan realitas masyarakat.

Maka dengan memasuki ruang-ruang diskusi di media sosial, semoga diskursus gender menjadi makin kaya dan organik.