Setelah dibentuk di tubulus seminiferus melalui proses spermatogenesis, aku dulu ditembakkan keluar melalui lubang di tengah glans ayah. Aku adalah satu di antara berjuta sel ayah. Aku gotong royong bersama jutaan teman. Ada yang gugur, itu bukan karena mereka kalah, tapi karena kualitas ridho mereka yang tak kuasa rela bersaing dengan sesama teman lainnya. 

Setelah sampai di persimpangan leher rahim (servik uteri), aku dan temanku memutuskan bercanda bersama. Bentuk kita lucu. Kita sama-sama mengikuti arus untuk bergerak maju. Akrab sekali waktu itu. Uterus adalah taman kita.

Akhir-akhir ini banyak sekali motivator yang menghina teman-temanku dulu. Motivator berkata bahwa teman-temanku lemah dan kita (aku) adalah pemenang. Tega sekali mereka. Akhirnya aku menyimpulkan, ada dua jenis motive yang disampaikan para motivator, yaitu motive persaingan dan keikhlasan. 

Yang paling banyak akhir-akhir ini adalah persaingan. Tidak bermaksud menghujat, tapi aku yakin teman-temanku dulu tidak begitu. Kita tinggal di rahim yang penuh solidaritas bukan persaingan. Harusnya motivator tidak boleh secara kejam menyamaratakan. Kultur gerombolan sperma di tiap uterus itu beda.

Ada film proclaimer yang mengisahkan perjalananku dan teman-teman dulu. The Great Sperm Race dari Channel4 menggambarkan kami harusnya tidak mesti benar begitu (silakan searching). Itu hanya simulasi saja. Kalaupun begitu, itu pasti bukan gerombolanku. Nasionalisme kami dulu adalah nasionalisme keikhlasan. Saling bahu-membahu. 

Bisa jadi yang terlahir di dunia ini adalah mereka yang paling tidak paham ilmu ikhlas. Suka nyikut teman-temannya. Jadi kejadian di tuba fallopi tidak seradikal itu. Aku dan temanku tidak pernah dorong-dorongan seperti di film itu. Kami berdiskusi. Kebetulan aku yang paling ngeyel. Jadi temanku legowo, sekali lagi, mereka ridho;

"Silakan kamu dulu. Kita tidak tahu nanti akan jadi seperti apa. Baik-buruknya, benar dan salahnya kita tak bisa sentuh. Kamu saja. Jangan sampai hanya urusan ini, pertemanan kita menjadi korbannya. Kalaupun kamu takut dan tak mau, biar aku saja.."

Nada suara itu dilantunkan syahdu, pelan dan tidak menggurui. Jadi aku harus mempertanyakan kualitas gerombolan sperma mana yang dimaksud motivator? Jika itu kualitas mereka sendiri, bisa benar. Atau bisa jadi lebih ngeri. Bisa saja itu lahir dari gerombolan sperma yang sadar akan pendidikan politik. Ini bagus. 

Tapi celakanya, politiknya adalah politik pragmatis. Jadi bisa dibayangkan kalau dulu sebelum sampai di tuba fallopi mereka sikut-sikutan. Saling lempar hoax. Kepura-puraan sebagai teman. Fitnah saben hari, bahkan sampai tataran persekusi. Naudzubillah.

Kalau sejak menjadi sperma kita sudah hidup di budaya bobrok semacam itu, pasti kita adalah produk kebobrokan juga. Kita paling culas dan paling tega di antara mereka para sperma lainnya. 

Lalu muncullah manusia-manusia yang suka pamer. Hedonis. Hidup tidak akrab dengan keringat orang pinggiran. Sombong. Tidak akrab dengan kesederhanaan. Kadar ambisi pribadinya lebih besar daripada ambisi berbagi (filantropy). Seminar kiat-kiat sukses yang tidak mendasari pendidikannya dari budi, semakin mempertegas itu. Budaya para spermaku dulu tidak mengajarkan begitu. 

Tanah Indonesia harusnya tanah paling fertil dan melting pot para sperma yang jujur dan ikhlas. Wajar jika dunia internasional mengenal watak orang Indonesia itu ramah. Suka mangku dan mengayomi. Harusnya kualitas ini yang harus sering diperkenalkan. Di-install sejak dini dalam pola pikir anak-anak baru. 

Tapi kenapa justru akhir-akhir ini lebih akrab dengan 3 G ( Gold, Glory, Gospel). Apalagi ketika Gospel (spiritualitas) diletakkan paling akhir, bukan sebagai struktur utama. Sementara Gold (harta) dan Glory (tahta) diagung-agungkan padahal sejatinya itu fana. Itu semua kualitas penjajah. Bukan kita, Indonesia.

"Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi muda, dan tersial adalah umur tua." - Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran

Aku yakin background kata-kata itu muncul dari kejengahan hidup. Manusia-manusia yang tinggal adalah bibit sperma yang diliputi ambisi maya. Lihatlah, betapa orang mudah mengumbar diksi yang tidak menentramkan. Sontoloyo, tampang udik, cebong, kampret, IQ jongkok dan segunung lainnya. 

Ironisnya, itu disampaikan dengan lantang, bangga, dan penuh kesombongan. Wajar apabila ada sperma yang mengeluh "nasib baik itu tidak dilahirkan". Ini bukan perkara pesimisme hidup. Bukan. Ini perkara kontemplatif yang tidak sederhana. Dalam filsafat taraf pemikiran ini disebut being realized

Dengan akalnya, manusia harusnya bisa tahu mana yang abstrak dan logic. Persaingan adalah hal yang tidak logic. Karena secara instingtif manusia cuma butuh cinta dengan basis kerelaan bukan keterpaksaan. Banyak cabang filsafat yang membicarakan ini. 

Tapi aku tidak ingin ke situ. Cukup Socrates yang mati menenggak racunnya sendiri. Cukup Sokrates yang tidak bisa muridnya Cicero untuk paham kepedihan dunia. Cukup Socrates yang tidak mau berlama-lama hidup. Indonesia bukan Sokrates. Dan tidak akan mau menulis jenis Apologia Socrates yang baru.

Untuk itu, wahai anakku kelak, Meskipun bangsamu dari wakil rakyatnya lebih bobrok dari bangsanya Socrates, jangan jadi Socrates. Anakku akan aku ajari untuk tidak mengatai teman-temannya. Mulai dari teman mikroskopisnya (sperma) atau teman sepermainannya di luar. 

Anakku akan lebih sering aku ajari untuk berkolaborasi. No Competition. Bahkan terhadap hal baik pun anakku akan aku ajari untuk bersabar. Kadang aku ngomong sama anakku yang belum tercipta ini:

"Satu-satunya yang boleh kamu lawan dan tundukkan adalah dirimu sendiri. Boleh berambisi tentang hal di luar diri, tapi jangan sampai kehilangan diri. Maka mengenali diri itu yang utama wahai anakku yang belum tercipta. Barangsiapa mengenal dirinya dia mengenal kebenaran."

Boleh berkompetisi, asal jangan kehilangan kualitas komedi. Boleh berkompetisi asal jangan lupa melakukan romantisasi. 

Kemarin aku mendengar beberapa partai saling serang. Saling lapor melaporkan. Sedikit-sedikit UU ITE. Sedikit-sedikit hate speech. Tidak pernah aku melihat kenyataan negeriku se-alim bayangan Pancasilak-u. Ternyata ini akarnya karena terjadi sejak dalam sperma. 

Negeri compang-camping oleh isu intoleransi, eksremisme dan radikalisme. Negeri tidak bisa memahami dan memetakan penetrasi modal yang sehat dan menyakitkan. Negeri gampang terlena oleh janji-janji.

Orang pamer kekayaan di TV mudah sekali. Menyebut "Lu miskin" mudah sekali. Mengatakan "Karena lu miskin makanya 80 juta kau sebut mahal", mudah sekali. Mereka berlomba kaya sambil menikam lainnya. Kalau yang lainnya tidak menikam, setidaknya mereka menikam pola pikir mereka sendiri.

Oh! Miskin sekali jiwaku. Aku ingin kembali ke masa itu!? Oh gerombolanku.