Sejak awal, saya jadi bertanya-tanya tentang film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak. “Ada apa dengan Marlina?” Jawabannya saya dapatkan setelah menonton film dan menyimak pernyataan sang sutradara. Bertempat di XXI Plaza Indonesia Jakarta, ketika itu, sutradara Mouly Surya menyatakan bahwa judul film ini tidak lahir seketika.

Pencetus utama ide cerita film ketiga Mouly yang berlatar belakang Sumba ini adalah sutradara senior, Garin Nugroho. Mouly pada mulanya bukanlah perempuan yang familiar dengan geografis dan detil sosial-budaya Sumba, Nusa Tenggara Timur. Termasuk tidak mengenal tentang seluk-beluk karakter manusianya, dan apalagi kekhasan nama-nama Sumba. Berbekal mesin pencarian, dia tekun menelusuri. Sampai suatu saat menemukan sebuah video yang menginspirasi judul film ini.

"Ada video seorang guru SD, kalau enggak salah. Dia di ruang guru lagi joget disko, direkam, di-upload. (Dia) diprotes. Namanya Marlina," kata Mouly. Sosok guru SD dalam video yang dimaksud Mouly adalah Marlina Bili, seorang guru mata pelajaran Bahasa Inggris di sebuah sekolah yang terletak di Waingapu, Sumba Timur. Rekaman ini tersebar luas di media sosial dan sempat menjadi viral.

Di mata Mouly, sosok perempuan bernama Marlina Bili ini tidak biasa. "Waktu itu saya mendapat impresi yang cukup kuat ketika menonton video," ungkap Mouly. Kasus seperti Marlina Bili ini sungguh biasa terjadi dengan konteks berbeda. Marlina Bili dalam video itu menjadi sosok yang dihakimi massa. Aksi menarinya diprotes dan tidak direstui khalayak. Dengan kukuh, Marlina Bili menyatakan bahwa dia tidak merugikan siapapun dengan aksinya berjoget yang dilakukan di sela-sela jam istirahat.

Kemungkinan terkuat, kenapa video itu mendapat resistensi, adalah karena Marlina Bili seorang perempuan. Menjadi perempuan berarti menjadi manusia yang kadang tidak seutuhnya. Kebebasan aktualisasi dan cita-citanya sering tergadaikan oleh stigma masyarakat. Norma-norma sosial sering menempatkan perbuatan tertentu sebagai kategori normal dilakukan oleh laki-laki. Sebaliknya, perbuatan yang sama akan dianggap sebagai aneh atau melanggar, jika dilakukan oleh perempuan.

Standar baik-buruk, benar-salah, patut-tidak patut, sering memiliki standar ganda untuk hal-hal yang sebenarnya di luar wilayah kodrati laki-laki dan perempuan. Bahkan, sepanjang babakan sejarah, perempuan sering diperlakukan setengah manusia. Misalnya dalam tradisi anak perempuan yang harus dikubur hidup-hidup karena menjadi aib keluarga sampai tradisi perempuan yang harus dikubur hidup-hidup mengikuti jasad suaminya. Bahkan hingga urusan poligami.

Dalam film Marlina, realitas perbedaan manusia berjenis kelamin laki-laki dan yang berjenis kelamin perempuan digambarkan secara apa adanya. Perempuan misalnya hanya dipandang sebagai pelayan bagi urusan perut dan bawah perut. Adegan film yang dibuka dengan pemandangan indah padang sabana Sumba ini bermula ketika seorang pria datang ke rumah seorang janda yang baru saja ditinggal mati sang suami. Meskipun tidak berkenan, si janda harus melayaninya dan menghidangkan makanan.

Tak cukup sekedar melayani urusan perut, laki-laki bernama Markus itu bahkan meminta pelayanan tambahan, terkait urusan bawah perut. "Kau adalah perempuan paling berbahagia malam ini," kata Markus menggoda. “Malam ini kau beruntung mendapat bonus tujuh laki-laki,” ujarnya lagi memberitahukan bahwa sebentar laki, teman-temannya akan datang menyusul. 

Ketika Marlina menolak, Markus dengan sinis berujar, "Ah, kau perempuan, sukanya menjadi korban." Di mata Markus, perempuan hanya malu-malu, tetapi sebenarnya benar-benar menginginkan dan akan menikmati juga pada akhirnya. Ketika perempuan dianggap menikmatinya, maka itu bukan termasuk perkosaan.

Usai mengambil kehormatan atau harga diri Marlina, kawanan ini kemudian secara sepihak, mengambil paksa seluruh ternak Marlina. Terdiri dari sepuluh ekor babi, sepuluh ekor kambing dan tujuh ekor ayam. Ternak inilah harta paling berharga di satu-satunya rumah yang terletak di tengah padang sabana itu. Kondisi geografis ini membuat Marlina harus menghadapi sendiri setiap permasalahannya. Tanpa sosok laki-laki yang kerap dianggap sebagai tameng; suami, bapak, anak laki-laki, atau paman.

Di tengah kepungan tujuh laki-laki, seorang diri, di tengah malam, Marlina tidak punya pilihan lain, selain pasrah atau melawan. Dia memilih untuk menyusun siasat. Dihadapinya dengan tenang dan penuh perhitungan. Meracuni empat pria dengan sup ayam yang telah ditaburi racun.

Sementara, Markus sebagai pimpinan kawanan itu menunggunya di atas dipan. Tak punya pilihan, Marlina dipaksa melayani Markus. Ketika hubungan seksual yang sama sekali tidak dinikmati itu, Marlina menggunakan kesempatan dengan cermat. Sembari Markus melakukan penetrasi dari posisi di bawah, Marlina seketika mengambil pedang dan menebas kepala Markus dengan sekali tebasan sampai putus.

Marlina melalui malam itu bersama lima mayat kawanan perampok dan ditambah mumi suaminya yang berjongkok dan bersandar di pojok, seolah menyaksikan semua adegan yang terjadi. Menurut kepercayaan lokal, sesuai tradisi kematian Marapu, jenazah tidak langsung dikuburkan dalam sebuah prosesi yang mahal, tetapi terlebih dahulu diawetkan dalam posisi jongkok. Hal ini seperti halnya posisi janin dalam rahim. Prosesi ini sekaligus dimaknai sebagai kelahiran baru.

Setelah membunuh sebagai pilihan membela diri, Marlina tidak menjadi sosok pengecut dengan melarikan diri. Keesokan hari, dia memilih untuk mengadukan kasusnya ke polisi, meskipun harus menempuh jarak yang sangat jauh. Marlina punya kesadaran hukum di tengah budaya masyarakatnya yang suka main hakim sendiri.

Di tengah perjalanan, Marlina yang menenteng kepala Markus, bertemu dengan Novi, yang sempat meragukan alasan Marlina ke kantor polisi. Bahkan Novi menyarankan supaya Marlina ke gereja saja untuk melakukan pengakuan dosa.

Sosok Novi digambarkan mengalami permasalahan stigma yang kerap menimpa perempuan pada umumnya. Novi yang diperankan oleh Dea Panendra, sepanjang perjalanan, dengan gaya bertutur dan dialek yang khas dan jenaka, menceritakan tentang beratnya stigma terhadap perempuan yang sudah hamil hampir 10 bulan. 

Keterlambatan melahirkan dipercayai oleh masyarakatnya sebagai akibat melakukan selingkuh selama masa kehamilan. Novi telah berkali-kali meyakinkan suaminya untuk tidak mempercayai mitos hamil tua yang sama sekali tidak ilmiah itu. Namun umbu atau suami Novi justru memberinya tamparan dan pukulan.

Sementara Marlina menempuh perjalanan ke kantor polisi dengan kejaran dua anggota komplotan perampok yang masih tersisa. Sampai di tengah jalan, komplotan perampok itu berhasil menyusul truk yang ditumpangi Marlina. Beruntung, Marlina sedang menepi ke tengah padang untuk buang air. Truk yang dibajak itu pun berangkat dan meninggalkan Marlina seorang. Tak kehabisan akal, Marlina memanfaatkan seekor kuda yang tertambat di padang itu. Kuda itulah yang dijadikan tunggangan.

Sesampai di kantor polisi, Marlina ditelantarkan. Dia harus menunggu polisi bermain ping pong. Laporan Marlina tidak langsung dipercayai. “Tapi tidak jadi diperkosa toh?” kata seorang polisi enteng dan meragukan laporan Marlina. Khas pandangan laki-laki yang tidak bisa merasakan bagaimana berada di posisi korban. Lalu dia berkilah, bahwa untuk laporan perkosaan harus terlebih dahulu olah TKP dan melalui serangkaian pemeriksaan visum. Alat untuk visum baru ada sebulan kemudian.

Marlina dengan kematangannya sebagai perempuan merdeka memilih kembali pulang. Tidak menempatkan dirinya sebagai korban yang kalah dan pasrah. Apalagi memainkan peran blaming the victim. Di tengah respon negara yang abai menjaga hak warganya, sosok seperti Marlina wajar saja memilih untuk membela diri, menjaga eksistensi, dan menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri. Marlina sudah tidak punya sosok suami dan tidak juga negara sebagai tameng tempatnya berlindung.

Film ini juga menggambarkan betapa sebenarnya, hanya perempuan yang sepenuhnya bisa saling memahami, menolong, dan memberdayakan perempuan. Sama sekali lepas dari bayang-bayang laki-laki. Pahlawan perempuan datang dari sosok Novi dan Topan, seorang anak perempuan penjual makanan di depan kantor polisi yang membantu Marlina.

Topan mewakili anak perempuan kelas 2 yang harus berpikir dan bertindak lebih dewasa dan harus membantu orang tua berjualan. Kontras dengan kondisi teman sebayanya yang laki-laki dengan leluasa menikmati bermain bola di depan warung Topan dan kantor polisi.

Sementara Novi, merupakan sosok yang membantu menebas satu sosok terakhir komplotan perampok ketika memperkosa Marlina di kamarnya. Semenit setelah menebas lelaki itu, Novi harus menghadapi sakitnya prosesi melahirkan di hadapan Marlina dan mumi serta mayat perampok. Satu-satunya kamar di rumah Marlina itu menjadi saksi kelahiran dan sekaligus kematian.

Saya berpendapat bahwa film ini mendapatkan kesempurnaannya karena disutradarai oleh perempuan itu sendiri. Mendeskripsikan sudut pandang dan paradigma perempuan. Selama ini, penggambaran perempuan sering dilakukan oleh laki-laki dengan perspektif dan penafsiran laki-laki yang sering subjektif. Peran ini termasuk sebagai transetter.

Fatima Mernissi menyebut bahwa ketertindasan perempuan dalam panggung sejarah disebabkan oleh tidak tersedianya akses bagi perempuan untuk terlibat dalam memenuhi tiga hak yang kerap menjadi domain laki-laki. Yaitu hak membentuk budaya (transetter), hak menjadi mufassir (tokoh agama), hak mengambil keputusan politik dan hukum (penguasa).

Film ini menjadi salah satu film yang sangat layak ditonton. Selain dari segi muatan, sisi audio hingga teknik pengambilan gambarnya juga berbeda. Film ini lebih mengedepankan kesempurnaan permainan emosi, gestur, dan mimik, seperti layaknya perjunjukan teater.

Momen kontemplatif juga kerap muncul menyesuaikan suasana psikologis Marlina yang kesepian dan banyak sisi perenungan setelah semua kejadian yang dialaminya. Alunan alat musik daerah dan lagu ‘Lahape Jodoh’ khas Sumba yang dipadukan dengan music scoring menambah nuansa penggambaran yang mendalam. Tanpa terasa, 93 menit durasi film, berlalu dengan sangat cepat. Ditambah lagi dengan pemandangan alam yang memanjakan mata.