Katanya, saat ini kita tengah berada di jaman millenial yang serba digital. Nyaris aktifitas sehari-hari dilakukan secara digital. Menggunakan teknologi canggih dan koneksi internet.

Pemandangan yang langka ketika pagi hari loper koran melempar lembaran kertas berisi berita terbaru ke setiap rumah, seorang bapak dengan ditemani secangkir kopi menggelar lembaran kertas berukuran besar tepat di depan wajahnya atau pak pos datang ke rumah untuk menyampaikan surat.

Di era digital ini, semua itu telah tergantikan dengan segala kemudahan digital. Tak perlu lagi berlangganan koran karena berita terbaru sudah dapat dinikmati secara cepat dan mudah serta gratis melalui aplikasi-aplikasi kanal berita di internet. Ritual membaca koran di pagi hari juga sudah dapat dilakukan dimana saja, di jalanan, di angkutan umum, di kantor, dll hanya dengan bermodalkan satu gadget yang didukung koneksi internet.

Untuk surat-menyurat ada berbagai pilihan yang ditawarkan di jaman digital ini, email, chatting, media sosial bahkan chatt live dengan aplikasi video berbasis android. Tak dapat ditampik, semua teknologi terkini di jaman millenial ini berlomba-lomba menawarkan konsep kemudahan, kecepatan dan terkini, sehingga ketika seseorang tidak memiliki kesiapan dengan teknologi digital bisa dipastikan akan berada di garis ketertinggalan.

Pemerintah juga tak mau ketinggalan memanfaatkan teknologi digital dalam setiap program pelayanan kepada masyarakat. Di setiap daerah, saat ini sedang ramainya digalakkan pemerintahan online atau biasa disebut e-goverment melalui aplikasi-aplikasi e-governance. Melalui aplikasi digital ini, segala bentuk pelayanan mulai dari laporan keuangan, laporan kinerja, laporan kegiatan, pelayanan masyarakat, pelayanan pengaduan, pelayanan informasi sampai pelayanan desa menggunakan koneksi yang bersifat online dan terintegrasi.

Jadi jangan heran ketika layanan pengaduan masyarakat sudah dapat dilakukan secara online, informasi perkembangan daerah juga dapat diketahui secara terbuka dan layanan-layanan bersifat administratif masyarakat lainnya dapat dilakukan dari jarak jauh.

Tentu saja dari satu sisi kita melihat ini adalah salah satu gejala modernitas dan meningkatnya pola pikir masyarakat dari yang sederhana dan konvensional ke arah lebih modern dan terbarukan. Penggunaan kertas dalam aktifitas sehari-hari sampai pada jalannya roda pemerintahan menjadi tergerus oleh penggunaan teknologi digital.

Ada Apa dengan Kertas?

Kini pertanyaannya adalah benarkah kertas sudah tidak digunakan di jaman millenial yang serba digital ini? benarkah teknologi digital dapat bekerja sendiri tanpa kehadiran kertas? ternyata faktanya tidak demikian. Kertas tetap menjadi komponen utama dalam setiap aktifitas kehidupan. Manfaat kertas tetap menjadi primadona di tengah arus teknologi yang serba canggih.

Manusia tetap menggunakan kertas, meski kini kertas sudah memiliki multifungsi bukan hanya sebagai media menulis atau membaca, tapi juga sebagai kertas pembersih (tissue), pengganti kantong plastik untuk belanja, pembungkus kado sampai kemasan makanan atau minuman ringan dan masih banyak lagi fungsi kertas lainnya.

Di lingkup kantor, penggunaan kertas juga masih cukup tinggi, sebab dalam setiap pertanggungjawaban pekerjaan selalu ada istilah “hardcopy” dan “softcopy” yang semuanya wajib dipenuhi dalam pola administrasi yang baik. Sudah barang tentu, kertas masih menjadi item yang harus dianggarkan ketersediaannya dalam proses pekerjaan.

Jika demikian, ada apa dengan kertas ? lantas mengapa kertas seolah hendak “disingkirkan” di era millenial? kekhawatiran akan nir kertas dijawab dengan serbuan kehadiran teknologi digital yang sedikit banyak bukan hanya meminimalkan penggunaan kertas tapi juga mengkontruksi cara berpikir masyarakat untuk “dipaksa” menerima kehadiran teknologi digital dan melupakan manfaat kertas yang dianggap kuno.

Revolusi Industri Era Millenial

Nampaknya konsep revolusi industri yang berkembang pada abad ke-18 kembali berulang di era millenial. Meski dengan objek yang berbeda, namun memiliki kerangka konsep yang mirip. Jika revolusi industri pada awalnya bertujuan utama mengganti tenaga kerja manusia dan hewan menjadi tenaga mesin, maka di era sekarang revolusi terjadi untuk mengganti fungsi keberadaan kertas menjadi fungsi digital.

Dengan dalih menyelamatkan hutan, dimana merupakan habitat pepohonan sebagai bahan utama pembuatan kertas, para aktivis hutan menyuarakan tentang bahayanya hutan gundul akibat penebangan hutan yang besar-besaran yang salah satunya berorientasi pada bisnis industri kertas.

Mereka menganggap bahwa industri kertas dapat menjadi ancaman bagi keberlangsungan hutan di Indonesia. Akibatnya, banyak hutan yang tak lagi berpohon sehingga rawan terjadi bencana alam seperti banjir bandang, tanah longsor dan perubahan iklim secara signifikan.

Jelas aksi ini semakin mengkerdilkan fungsi kertas bagi kehidupan, padahal realitanya manusia tidak dapat terlepas dari penggunaan kertas dalam kehidupannya. Karena itulah, seiring waktu munculah jawaban atas semua aksi mendukung nir kertas dengan hadirnya teknologi digital sebagai bentuk revolusi yang digadang-gadang dapat menggantikan posisi kertas secara menyeluruh.

Perlahan namun pasti, masyarakat dan sektor industri lainnya di doktrin untuk mengurangi penggunaan kertas sebagai salah satu upaya mendukung program Go Green terutama penyelamatan hutan Indonesia melalui penggunaan teknologi canggih dengan iming-iming kemudahan, kecepatan dan keterkinian. Pada akhirnya, harus diakui serbuan teknologi digital mampu menggeser fungsi kertas terutama sebagai media menulis dan membaca meski tidak menyeluruh.

Hal ini bisa kita lihat, fakta dimanapun, kapanpun masyarakat lebih banyak berinteraksi dengan gadget ketimbang buku tulis atau buku bacaan. Kecenderungan masyarakat lebih akrab dengan gadget ketimbang buku menjadi indikator bahwa revolusi di era millenial ini mengalami keberhasilan.

Kertas Menyelematkan Bumi?

Banyak pendapat yang berbeda dari masing-masing ahli. Para ahli dan aktivis hutan berpendapat bahwa penggunaan kertas yang berlebihan dapat merusak hutan. Seperti data dari WWF Indonesia (2010) yang menyatakan bahwa 74% dari total emisi gas rumah kaca Indonesia dihasilkan dari kegiatan penebangan dan pembakaran hutan sehingga menyebabkan hujan asam dan dan polusi yang mengakibatkan berbagai keluhan kesehatan seperti pencemaran udara, ISPA, paru-paru, infeksi pada mata dan kulit, asma, dll.

Berbeda dengan para aktivis hutan, baru-baru ini kita justru dihadapkan pada fakta tentang kampanye “diet kantong plastik”. Kampanye ini selanjutnya juga didukung oleh para pengusaha waralaba dengan “tidak menggratiskan” kantong plastik sebagai wadah belanjaan dengan harapan masyarakat enggan menggunakan kantong plastik.

Penggunaan kantong kertas dan kemasan kertas juga cukup gencar dilakukan sebagai upaya solusi dari “diet kantong plastik”. Hal ini dilakukan setelah diketahui bahwa penggunaan kertas dianggap jauh lebih baik ketimbang penggunaan bahan plastik. Secara alami, butuh 1000 tahun bagi plastik untuk dapat terurai di tanah dan 450 tahun untuk terurai di air. Bahan kandungan plastik yaitu polycarbonate juga sangat berbahaya bagi kesehatan karena dapat memicu kerusakan genetik, kanker, obesitas, diabetes, dll.

Selain itu, data menunjukkan bahwa ratusan ribu mamalia laut mati setiap tahun karena memakan kantong plastik yang dibuang ke laut (Qamar Schuyler, Biological Science). Dengan demikian jelas bahwa penggunaan plastik bukan hanya berbahaya bagi lingkungan tapi juga bagi kesehatan sehingga penggunaan kertas lebih disarankan karena memiliki tingkat resiko berbahaya yang lebih rendah ketimbang plastik.

Dalam hal ini kita harus setuju bahwa tingkat negatif penggunaan kertas jauh lebih rendah daripada plastik. Meski sama-sama material anorganik dan bersifat recyclable, namun proses pengolahan ulang kertas relatif tidak selama material plastik.

Sehingga jika proses produksi kertas dari awal hingga akhir dilakukan dengan prosedur yang benar dan mengikuti prinsip ramah lingkungan (khususnya hutan) maka kertas dapat dikategorikan sebagai salah satu material pendukung penyelamatan bumi.

Kertas dan Teknologi Digital Berjalan Beriringan

Kenapa tidak? di satu sisi kita tidak bisa terhindar dari teknologi digital karena kita memang hidup di era millenial yang mau tidak mau suka tidak suka harus dihadapi jika tidak ingin tertinggal.

Namun di sisi lain kita juga tidak bisa menghilangkan kertas dalam kehidupan. Ada beberapa fungsi dasar kertas yang belum bisa tergantikan oleh teknologi digital, seperti kertas untuk tissue, wadah belanjaan, kemasan produk, tertib administrasi perkantoran, kertas pembungkus kado, kertas pembersih, dll.

Jika keduanya berjalan sesuai dengan porsinya masing-masing maka tak seharusnya ada lagi kekhawatiran akan nir kertas. Penggunaan kertas yang dianggap konvensional sebenarnya merupakan cikal bakal perkembangan teknologi modern saat ini. Jadi, dengan alasan apapun kertas tidak dapat dikesampingkan apalagi dihilangkan fungsinya dalam kehidupan.

Budaya literasi yang tengah disosialisasikan oleh pemerintah adalah langkah nyata bahwa kebutuhan akan kertas melalui aktifitas membaca buku merupakan upaya penyeimbang di tengah derasnya arus globalisasi dengan teknologi serba digital. Dalam hal ini, lagi-lagi kertas menjadi komponen utama yang harus dilestarikan.

Bijak dalam Menggunakan Kertas

Langkah terakhir mensikapi penggunaan kertas dan meminimalkan negative effect nya bagi kehidupan adalah dengan berperilaku bijak baik pada masyarakat maupun kalangan pelaku industri kertas itu sendiri. Apa saja perilaku bijak tersebut?

  • Menggunakan kertas seperlunya
  • Membuang sampah kertas pada tempat yang telah disediakan
  • Mengikuti atau bergabung dengan komunitas “daur ulang kertas” agar dapat berkreatifitas secara mandiri dalam mengolah sampah kertas
  • Bagi para pelaku industri kertas harus benar-benar menjalankan SOP yang telah ditetapkan
  • Pelaku industri kertas terbuka menerima kritik dan saran dari para aktivis lingkungan hutan selanjutnya bekerjasama bersama-sama membuat solusi terbaik agar industri kertas tetap berkontribusi dalam perjalanan peradaban tanpa merusak alam

Perilaku bijak ini bukan saja menjadi kewajiban pemerintah maupun pelaku industri semata tapi juga seluruh lapisan masyarakat, sehingga ketika kita menggunakan kertas dengan sebaik-baiknya maka itu artinya secara tidak langsung kita telah turut serta merawat hutan Indonesia. Sederhana bukan ?