Hanya Allah yang mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Yang jelas, sampai ajalnya dia tetap seorang muslim, kita wajib menyelenggarakan shalat jenazahnya dengan baik (Buya Hamka)

Rasanya saya keliru menduga. Saya pikir, sesudah coblosan Pilgub DKI Jakarta pekan kemarin, ruang publik juga timeline medsos akan terus ayem hari-hari ini. Setidaknya, jedah tenang sejenak hingga kampanye memasuki pemungutan suara putaran kedua nanti. Lebih disyukuri lagi, jika situasi bisa terus menenteramkan seterusnya.

Energi sosial telah banyak terkuras. Bahkan, seringkali hanya untuk perkara yang tak perlu terlalu diributkan sebenarnya. Masih banyak urusan yang lebih krusial dan mendesak lekas digiatkan sepenuh keseriusan, demi memajukan kesejahteraan masyarakat bawah ke depan.

Hingga menyeruak viral informasi yang memantik kegaduhan anyar, ternyata dugaan saya mbleset bukan 0% lagi, tapi sudah tembus 100%. Yaitu, tentang spanduk tolak menyalatkan jenazah pendukung penista agama di beberapa masjid.

Spanduk macam itu tersebar di tiga wilayah Karet Setiabudi, Jaksel, berdasar pemberitaan media online. Masing-masing ketiganya di area masjid Al-Jihad Jalan BB 9A, masjid Mubasysyirin Jalan Karet Belakang Selatan 1 dan masjid Al-Ikhlas Jalan Karet Belakang IV (Detik.com).

Di pihak lain, dalam tulisan Muis Sunarya berjudul Kenapa Orang Islam Jadi Begini? tercantum gambar temuan spanduk serupa di masjid Jami' As-Sa’adiyah Lubang Buaya, Jaktim (Qureta). Selain itu, ada pula masjid yang tercatut isu sama yakni, masjid Al-Waqfiyah di bilangan Jalan Salemba Bluntas, Jakpus.

Jajaran pengurus masjid terakhir sudah menyampaikan klarifikasi bahwa kabar yang sempat beredar di medsos itu hoax. Bahkan, pihak terkait samasekali tak keberatan apalagi menolak, saat cawagub Djarot sembahyang Jumat di masjid tersebut (Kompas).  Entah bagaimana dengan masjid-masjid di wilayah Jakarta lainnya.

Ketika membaca sederet wartanya, saya hanya bisa melongo layaknya sedang mannequin challenge jadinya. Namun, bukan dengan ekspresi takjub. Saya hanya tidak tahu apa harus merasa sedih, senang, atau miris untuk beberapa menit. Dan saya harus wow gitu?

Usai menyimak saya lantas duduk di lincak di beranda rumah. Sambil menatap rerumputan yang kuyup, setelah dibilas hujan sore tadi. Butirannya yang tersisa bergelayut di pucuk dedaunan. Hembusan aroma harum tanah semakin menyegarkan pikiran dan hati.

Namun, saya tak punya kepercayaan diri untuk bertanya pada rumput yang bergoyang. Saya khawatir hamparan perdu yang terlihat meringkuk, barangkali kedinginan tersebut buru-buru ikut mengacungkan maklumat ”Boikot Pertanyaan Spanduk Larangan Mensalatkan Jenazah Pendukung Ahok” ke arah saya.

Ogah pula saya ambil pusing, apakah pemasangan spanduk kontroversial itu buntut dari aksi 212 Jilid II terbaru belaka? Saat penyampaian tiga tuntutan melalui DPR yang sialnya tak menuai publikasi media sebombastis aksi-aksi sebelumnya.

Dua di antaranya berkenaan kasus penodaan agama yakni, menuntut penahanan dan pencopotan jabatan Ahok karena statusnya sebagai terdakwa. Sedangkan tuntutan lainnya, stop ”kriminalisasi” terhadap ulama, ketika sejumlah elit GNPF terjerat kasus hukum.

Jika memang iya, mengapa lantas melampiaskan begitu rupa? Padahal, seperti kita mafhumi sejak dini hari menjelang aksi, tiba-tiba Ibukota dilanda banjir yang sedemikian menyita perhatian khalayak luas hari itu. Kemudian mencuat istilah ”Banjir 212” karena saking dahsyatnya. Siapa yang memobilisasi banjir tersebut, yang juga lumayan massif di berbagai daerah?

Soal perspektif hukum agama kaitan larangan menyalatkan jenazah pendukung Ahok lantaran dicap munafik, biarlah para kalangan lain yang membedahnya. Toh di era kekinian seperti sekarang, banyak orang yang mumpuni untuk melakukan kajiannya dengan beragam referensi yang sahih.

Walau dirasakan spanduk boikot itu menyiratkan sekurangnya dua sikap berlebihan, kita tak perlu mempertanyakannya. Pertama, semisal bagaimana pemancangnya tahu bakal ada saudara seagama sendiri –hanya gara-gara stempel pendukung Ahok dan munafik– yang meninggal dunia dalam waktu dekat di lingkungan setempat?

Apakah mereka yang rumangsa bertauhid sampai detik ini memang sudah tidak bersepakat lagi, bahwa urusan kapan dan di mana ajal menjemput hanya Gusti Tuhan yang Mahatahu? Tak pandang tempat prestisius, usia, predikat sosial dan lainnya. Bahkan, takdir kematian manusia yang digariskan oleh-Nya samasekali tak bergantung apapun faktor penyebab antara.

Kedua, bagaimana pengerek spanduk itu bisa sedemikian mentholo terhadap jenazah yang nyata-nyata terputus dengan segala sangkut-paut kehidupan duniawi selain tiga perkara dalam syariat? Termasuk kehilangan hak memberikan suaranya dalam ronde kedua Pilgub DKI Jakarta mendatang, saat diyakini pasti meninggal sebelum coblosan.

Dengan perkataan lain, jangan khawatir dengan sebarannya, lebih-lebih terprovokasi. Mengapa? Awalnya karena sebenarnya gelaran sembahyang jenazah tak harus di masjid. Sah-sah saja menggelarnya di tempat lain, terpenting dalam keadaan suci dan bukan di jalanan umum.

Bila terindikasi akan mendapat penolakan ketika hendak menyalatkan jenazah di masjid, karena tudingan munafik dan sebagainya, masih bisa melaksanakannya di musala-musala terdekat. Seumpama hal itu pun dihalang-halangi, silahkan cukup mengerjakannya di rumah duka bersangkutan.

Lebih jauh, masih tersedia alternatif lain menyalatkan jenazah. Syariat menyediakan pilihan shalat ghaib. Mengingat, hak jenazah selain hendaknya lekas dimandikan, juga sebaiknya segera dikuburkan. Ketika  rampung penguburannya, bisa menghadiahinya dengan salat ghaib tanpa menghadap jenazahnya.

Demikian sejatinya ajaran Islam senantiasa membentangkan jalan kemudahan, terhadap berbagai persoalan maupun kebutuhan umat. Islam justru tak menghendaki penyusahan dan menambah ribet sekalian pemeluknya. Gusti Tuhan pun Mahamemudahkan bukan pembikin susah. Jadi, abaikan saja spanduk macam itu, gitu aja kok repot!