Legenda sepakbola, Johan Cruyff berpulang. Kanker paru-paru menjadi penyebab pria kelahiran Amsterdam 25 April 1947 meninggalkan pecinta sepakbola di seluruh dunia. Meminjam istilah “the king is dead, long live the king” –raja telah berpulang, hidup raja- dalam tradisi kerajaan Barat, maka Johan Cruyff juga demikian. Walau ia telah meninggalkan jagat persepakbolaan, namun ia tetaplah hidup.

Dunia sepakbola mengenang Johan Cruyff. Apa yang telah dilakukan, menjadi warisannya dalam sepakbola. Tak tanggung-tanggung, fans Barcelona mengusulkan nama stadion kebanggan mereka, Camp Nou, untuk diganti dengan nama Cruyff. Kabar penggantian nama markas klub juga muncul dari Ajax Amterdam. Nama Johan Cruyff Arena disebut-sebut bisa menggantikan nama markas Ajax kini, Amsterdam Arena.

Gerakan ‘Cruyff turn’ adalah contoh dari hal yang menjadikan mantan punggawa El Barca dan Ajax ini dikenang. Karir sepakbolanya telah menjadikan ia abadi. Pertanyaannya, mungkinkah ‘Cruyff-Cruyff’ lain terlahir dari rahim ibu pertiwi?

Pertanyaan ini patut diketengahkan, mengingat sepakbola adalah olahraga yang paling digandrungi masyarakat kita. Dan kini, sepakbola kita mandek tanpa kompetisi !

Sebagai pecinta sepakbola –dan saya yakin pecinta lain seantero negeri- tentu menyayangkan kisruh yang menghinggapi sepakbola Indonesia. Ini mengingatkan saya pada nasib klub kota kelahiran, Persibo Bojonegoro.

Keberhasilan Persibo menjuarai Divisi Utama musim 2009/2010 dengan mengalahkan Deltras Sidoarjo, mengantarkan klub kebanggaan masyarakat kota ledre ini bisa berlaga di kasta tertinggi persepakbolaan Indonesia kala itu, Liga Super Indonesia.

Namun sayang seribu sayang. Kebanggaan atas prestasi Persibo kian luntur tatkala konflik mendera persepakbolaan nasional yang berujung pada dualisme kompetisi, Liga Super Indonesia dan Liga Primer Indonesia. Persibo (dan dua klub lain) memutuskan untuk hijrah ke Liga Primer. Liga yang sedari awal sarat polemik ini, akhirnya juga berdampak buruk pada kelanjutan derap langkah Laskar Angling Dharma –julukan Persibo.

Pasca Liga Primer dibubarkan, dan Liga Super menjadi kompetisi resmi, Persibo Bojonegoro mendapatkan sanksi dari PSSI. Keanggotaan kampiun Piala Indonesia 2012 ini bermasalah di induk sepakbola nasional.

Pertengahan tahun lalu, kisruh dalam persepakbolaan nasional juga hadir lagi. Tertanggal 17 April 2015 Kemenpora mengeluarkan surat pembekuan PSSI. Disusul pada tanggal 30 Mei 2015 induk sepakbola dunia, FIFA, juga menjatuhkan sanksi kepada PSSI.

Dari permasalahan yang muncul, tersirat sebuah pesan ada ketidakseriusan dalam mengurus sepakbola. Kini tugas itu ada di pundak Tim Transisi. Tim yang dibentuk dengan tujuan agar sepakbola nasional menjadi lebih baik. Penuh harapan, Tim Transisi bisa bekerja secara maksimal. Tak boleh ada lagi ‘korban’ sebab kisruh sepakbola.

Kita tentu tak ingin para orang tua melarang anaknya untuk berkarir di dunia sepakbola sebab anggapan masa depan yang suram. Kita tentu bangga jika dari rahim ibu pertiwi terlahir seorang –atau bahkan lebih- yang namanya dikenang dalam persepakbolaan dunia.

Kita tentu bangga saat ada ‘Johan Cruyff Indonesia’. Harapan itu bisa terwujud dengan jalan serius dalam mengurus sepakbola. Untukmu Cruyff, kau telah menghadirkan pesan keabadian dalam sepakbola. RIP, Cruyff.