Tembakau, emas hijau, sebuah komoditas. tumpuan hidup ribuan petani dan buruh pabrik rokok di Indonesia. Setiap tahunnya, pada musim tanam tembakau di Temanggung, ribuan tenaga kerja terlibat aktif dalam kegiatan sektor ekonomi ini. mulai dari pra sampai dengan pasca tanam tembakau.

Disaat musim tanam tiba, petani tembakau membutuhkan banyak tenaga kerja untuk mengolah tanah. Karena musim tanam tembakau yang bersamaan, biasanya petani tembakau Temanggung mendatangkan para pekerja pengolah tanah ini dari wilayah Kecamatan yang tidak menanam tembakau, bahkan sering juga mendatangkan pekerja dari luar Temanggung.

Setelah tembakau di tanam, biasanya masyarakat yang tinggal di daerah yang berbatasan dengan wilayah pertanian tembakau di Temanggung, ikut terlibat menjadi tukang anyam pelepah pisang dan anyam keranjang sebagai tempat tembakau yang telah diolah menjadi rajangan yang akan dikirim ke gudang tembakau milik pabrik rokok.

Pada musim tanam tembakau, selain tenaga kerja yang disebutkan di atas, tenaga kerja sebagai buruh petik, buruh angkut, buruh pengrajang, buruh pengering, dan pengangkut daun tembakau juga sangat dibutuhkan. Proses panjang inilah yang kemudian menjadi bukti bahwa tembakau adalah tanaman penopang ekonomi masyarakat di Temanggung.

Belum ketika kita berbicara tentang tenaga kerja sekunder yang terlibat dalam pembuatan rokok kretek. Semisal petani cengkeh, produsen kemenyan, produsen kertas, dan buruh pabrik rokok serta industri hasil tembakau. Hal ini menjadi bukti bahwa tembakau memiliki kekuatan ekonomi yang mengikat di dalam kehidupan masyarakat Temanggung secara lokal dan masyarakat Indonesia secara nasional, baik struktural maupun kultural.

Menurut Frans Rupang, Direktur Cukai, Direktorat Jenderal Bea Cukai 2010, “Indonesia memiliki sekitar 3.800 pabrik rokok termasuk kelas rumahan, jumlah ini terbesar di dunia, dan sekitar 3.000 pabrik rokok berada di dua provinsi. Jawa Tengah dan Jawa Timur, dua daerah itu Juga termasuk sebagai penghasil tembakau terbesar nasional ”.

Kemudian, Berdasarkan data dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) tahun 2016, Indonesia terdaftar sebagai produsen tembakau nomor 5 terbesar di dunia, dengan memproduksi 196.154 Ton setelah China (2.805.615 Ton), India (761.318 Ton), Brasil (675.545 Ton) dan USA ( 285.181 Ton).

Fakta-fakta di atas harus menjadi perhatian dan pertimbangan khusus oleh pemerintah akan nasib masyarakat yang bergantung pada ekonomi hasil tembakau jika regulasi kenaikan cukai rokok dan peraturan kesehatan nasional dan internasional terus dilaksanakan dan dikampanyekan, terlebih lagi menyangkut Kerangka Kerja Konvensi Pengendalian Tembakau (The WHO Framework Convention on Tobacco Control / WHO FCTC) yang menempatkan tembakau sebagai zat adiktif yang berbahaya bagi kesehatan.

Wanda Hamilton, dalam bukunya yang berjudul Nicotine War (2010), mengatakan bahwa kita tidak dapat menilai konvensi pengendalian tembakau hanya dengan melihat dari sisi kesehatan saja, dari sisi lain konvensi pengendalian tembakau ini merupakan pertarungan perusahaan-perusahaan raksasa global. Pendukung gerakan utama anti tembakau ini adalah tiga perusahaan farmasi kelas dunia yaitu: Novartis, Glaxo Wellcome dan Pharmacia & Upjohn. Perusahaan-perusahaan tersebut juga yang mendanai Free Tobacco Initiative/FTI, dan yang kemudian melahirkan WHO-FCTC.

Pada halaman resmi Initiative Bloomberg di https://tobaccocontrolgrants.org tercatat beberapa lembaga di Indonesia yang menerima dana hibah untuk program pengendalian tembakau. Lembaga-lembaga tersebut adalah:

  • Pusat Advokasi Pengendalian Tembakau, Asosiasi Kesehatan Masyarakat Indonesia-Jawa Timur.
  • Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Jakarta.
  • Lembaga Demografi, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.
  • Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular.
  • Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Bandung.
  • Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.
  • Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanudin (UNHAS) Makassar.
  • Indonesia Corruption Watch.
  • Forum Parlemen Indonesia tentang Penduduk dan Pembangunan.
  • Institut Pembangunan Sosial.
  • Asosiasi Kesehatan Masyarakat Indonesia, Kelompok Kerja Pengendalian Tembakau.
  • Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA).
  • Komisi Nasional Pengendalian Tembakau.
  • Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen, Semarang.
  • Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Bali.
  • Lentera Anak Indonesia.
  • OBAT Medicuss.
  • Pusat Pengendalian Tembakau Muhammadiyah (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang.
  • Pusat Pengendalian Tembakau Muhammadiyah (MTCC UMY) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
  • Yayasan Pusaka Medan.
  • Yayasan Pengembangan Media Anak.
  • Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia dan Pusat Studi Agama dan Masyarakat.
  • Pusat Dukungan Pengendalian Tembakau-Asosiasi Kesehatan Masyarakat Indonesia.
  • Dewan Pengawas Tembakau-Kenya.
  • Yayasan Swisscontact Indonesia.
  • Pusat Penelitian dan Pelatihan Statistik, Ekonomi dan Sosial untuk Negara-Negara Islam.
  • Sekolah Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana.
  • SAPA Indonesia.
  • Sahabat Cipta.
  • Raya Indonesia.

Program hibah di atas kesemuanya merupakan program untuk mendukung kerja konvensi pengendalian Tembakau / FCTC, terlepas tembakau mempunyai dampak buruk terhadap kesehatan masyarakat atau tidak, yang perlu diperhatikan adalah masa depan petani tembakau, petani cengkeh, pengangkut pabrik, dan semua tenaga kerja yang menggantungkan hidupnya kepada industri hasil tembakau.

Sebagai contoh ketika pemerintah menaikkan harga cukai rokok, maka perusahaan rokok akan memberlakukan PHK kepada buruh dan karyawannya, dan sama-sama kita tahu mereka mempunyai anggota keluarga yang harus dipikirkan periuk nasi serta keperluan hidup sehari-harinya.