Dalam filsafat masih ada banyak hal yang belum dijelaskan pada kita semua, seperti mengenai hakikat tuhan. Sekarang ini kita diperhadapkan dengan sebuah keyakinan yang hampir seluruh umat manusia meyakininya bahwa tuhan itu ada. Namun dalam filsafat ada beberapa filsuf yang meragukan keberadaannya.

Protagoras entah mengapa meragukan bahwa tuhan itu benar benar ada. Adapun Diagoras dari Melia dan Theodorus dari Kirene yang sangat tidak yakin bahwa tuhan itu ada.

Jika kita membaca buku atau tulisan-tulisan mereka, hampir semuanya membahas tentang tuhan mulai dari bagaimana wujud tuhan, di mana dia bersemayam, dan apa yang sedang dia lakukan saat ini.

Pendapat-pendapat mereka tak jarang mengundang banyak pro dan kontra serta perdebatan di antara para filsuf pada masa itu. Dan bagian yang menjadi perdebatan para filsuf yaitu apakah tuhan sama sekali tidak aktif dalam semua kejadian di alam semesta ini atau sebaliknya.

Ini merupakan pembahasan yang tidak habis-habisnya dengan tujuan untuk mencapai ketetapan yang mutlak. Jika tidak maka manusia akan berada dalam kesalahan yang besar dan tidak mengetahui apa yang justru penting diketahui.

Ada beberapa filsuf yang menganggap bahwa tuhan tidak benar benar bertanggung jawab atas urusan manusia. Namun jika pendapat para filsuf itu benar apa gunanya ketakwaan, kesucian dan agama?

Namun jika tuhan memang bertanggung jawab atas urusan manusia apa gunanya ketakwaan itu sedangkan ketakwaan merupakan sikap adil seseorang kepada tuhan. Tapi hari ini apa yang tuhan berikan padamu? karena kau tidak ada komunikasi dengan dia.

Apa artinya kesucian, bukankah itu tentang cara kita menyembah kepadanya? tetapi lagi-lagi buat apa kita menyembah jika kita tidak pernah menerima kebaikan apapun darinya?

Tetapi jika ketakwaan itu kita hilangkan, baik kesucian maupun perintah dalam agama juga akan menghilang. Jika keduanya menghilang maka kekacauan dalam kehidupan akan terjadi. Lantas bagaimana menyikapi hal ini yang selalu membuat kebingungan pada filsuf-filsuf selama bertahun-tahun.

Dibalik beberapa pendapat dan argumen yang dikemukakan di atas, ada juga beberapa filsuf yang beranggapan sebaliknya. Ada yang berpikir bahwa seluruh dunia diarahkan dan dikendalikan oleh Tuhan.

Mereka tidak berhenti sampai disitu saja, mereka para filsuf ini berpendapat bahwa Tuhan turut serta dalam semua urusan manusia serta menjaga kelestarian umat manusia. Mereka berpikir bahwa semua buah-buahan, hasil bumi, dan sebagainya itu merupakan rancangan dari tuhan yang memang sengaja dibuat untuk digunakan manusia.

Tapi jika tuhan memang benar-benar perancang semua ini apa sesungguhnya yang dia libatkan dalam pekerjaan yang besar ini. Bagaimana bisa udara, api, air, dan angin patuh pada kehendaknya? Peralatan apa yang dia gunakan untuk membangun semua ini?

Jika Plato mengatakan bahwasanya tuhan itu abadi tidakkah kalian berpikir bahwa dalam filsafat alam semua yang berawal pasti juga akan berakhir. Lalu apa yang dia libatkan dalam proses pembuatan ini semua?

Jika memang dia abadi mengapa dia membuat dunia ini fana dan tidak abadi seperti tuhan Plato? Akankah dia membuat ini semua dan tidur dari masa ke masa sehingga tidak ada campur tangan dengan urusan yang ada di dunia ini.

Apa yang mendorong tuhan menciptakan semua ini? Jika ini alasan tuhan agar dia bisa lebih baik dalam kediamannya, maka pasti sebelum adanya semua ini, tuhan berada dalam suatu kesengsaraan yang gelap yang kemudian dia disenangkan oleh semua karyanya yang telah dia buat untuk menghilangkan kesengsaraannya itu.

Atau mungkin seperti yang dikatakan filsuf-filsuf bahwa dia menciptakan semua ini demi makhluk ciptaannya yang bernama manusia?.