Saya bertemu dengan teman saya dari Papua. Tepatnya dari Asmat. Ia bilang, ia pemuda pertama dari Asmat yang berhasil masuk dalam pusaran mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Wow! benak saya. Baru saya bertemu. 

Setelah futsal bareng di sebuah lapangan indoor di Pogung dengan kawan-kawan yang juga satu passion, kami nongkrong di depan gedung milik perusahaan motor terkemuka. Di sebuah angkringan. Riuh rendah kendaraan, lalu lalang manusia duduk dan pergi, rayuan angin malam, bunyi nyaring pengamen, ikut meramaikan sekaligus menetramkan suasana tongkrongan.

Mulailah perbincangan, sekali pantik, dua kali pantik, tiga kali pantik, deraslah arus obrolan kami. Tentu, yang sangat menarik bagi kami adalah fnomena, peristiwa, kehidupan orang-orang dari luar pulau Jawa. Sehingga, banyak sekali runtutan pertanyaan yang keluar dari mulut orang-orang sekitar. 

Yang paling menarik adalah penjelasan kawan saya Jipits, tentang kehidupan orang-orang Asmat. Nampaknya, bagi mereka alam adalah saudara tua. 

Jipits bercerita tentang ramuan-ramuan obat yang bahan dasarnya adalah alam, yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menetralkan ‘ketidakseimbangan’ seperti malaria, bisa ular, pusing dan sebagainya. Pakai dokterkah? tanyaku. Kawanku itu bilang, tidak. 

Ia bercerita juga mengenai kemampuan orang Asmat dalam memanggil hewan. Mau apa yang kau panggil, buaya? babi hutan? biawak? mereka bisa memanggilnya dengan cara-cara tertentu. Rasionalkah? Rasional pun relatif, bergantung pada informasi, pengalaman, pengetahuan yang kita miliki. 

Ia juga bercerita tentang Organisasi Papua Merdeka, yang menurut kawanku ini adalah sekumpulan manusia yang mempunyai ilmu, yang tinggal di pedalaman-pegunungan, di sebuah desa yang selalu diselimuti kabut. 

Ia bercerita tentang banyak hal.

Tanya yang terlontar pertama kali dari kawanku adalah, adakah dokumen yang memuat perihal Papua dan ajaran leluhur tentang kemampuan atau tata cara mereka dalam nyawiji dengan alam? Jawabnya adalah, tidak. Lalu, bagaimana mereka mempertahankan kemampuan itu? Ia menjawab, “Satu desa tahu semua tentang cara-cara itu, meramukah, memanggil hewankah, semua torang di desai itu tahu.” Dalam logat Papuanya yang khas.

Hal yang berputar-putar di benak saya adalah, bila memang pembangunan dilakukan di Papua, apakah akan hilang budayanya yang bila dilihat oleh orang-orang kota, mereka langsung bilang, “apaan sih itu?”

Apakah budaya Papua akan berubah menjadi tradisi orang-orang kota yang diliputi kejemuan, keraguan, kebosanan? Apakah hutan-hutan yang digunakan sebagai media belajar orang-orang Asmat akan berubah menjadi gedung-gedung sekolah yang terpisahkan oleh realita atau kenyataan? 

Apakah falsafah keinfrastrukturan yang dianut saat ini mampu menjawab apa yang benar-benar orang Papua butuhkan? Atau, justru akan menggeser orang-orang Papua jauh dari budaya komunal, mendalam, dan bermartabat? 

Barangkali, pertanyaan-pertanyaan itu terlalu berlebihan, namun begitu, patut juga kita untuk curiga. Karena sejarah membuktikan, bahwa banyak sekali perubahan substansial, perubahan nilai, yang telah terjadi ditengah gelontoran dana yang mengalir mengatasnamakan pembangunan.

Seperti yang terjadi di tapal batas provinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan, tepatnya di ujung kaki pegunungan Latimojong yang sepi dan terpencil. Sebagaimana diulas oleh Mbah Topatimasang dalam esainya berjudul Robohnya Sekolah Rakyat, yang ditulis pada tahun 1983. 

Ia bercerita tentang kehidupan siswa dan guru yang komunal, yang berkerohanian kolektif, menyatu dengan alam. Kegiatan yang mereka lakukan setiap empat bulan sekali adalah masa kerja besar-besaran, kerja sama antara murid dan guru yang bahu-membahu membentuk sekolahnya kembali. 

Ada juga kegiatan panen yang lalu dikendureni bareng-bareng. Namun, tak ada badai, tak ada gempa, sekolah itu roboh, dirobohkan, berganti tanah. Kegiatan belajar pindah ke sebuah gedung sekolah yang umumnya kita temui. Berubahlah sistem, menjemukanlah kegiatan belajar. 

Dalam sebuah tulisan yang lain, berjudul Sekolah Anak-Anak Laut, diceritakanlah tentang sebuah sekolah di kepulauan Bajo, yang para murid harus mengantar jemput gurunya di pulau seberang. Hal yang unik adalah ketika murid diberi hukuman untuk mengambil ikan di laut karena terlambat menjemput guru. Murid-murid itu malah tertawa bahagia. Mereka senang bermain-main di laut, menantang ombak, mengusili ikan. Jangan-jangan, itulah sekolah sesungguhnya buat mereka?

Ada pula suku Marind di Merauke. Mereka yang awalnya hidup seimbang dengan alam, menjadi timpang dengannya. Kekurangan gizi pun mereka alami. Mengapa? Karena hutan tempat mereka meramu diambil alih oleh investor asing. Lahan yang awalnya digunakan sebagai subyek yang dapat 'merangkul' suku Marind, menjadi obyek yang ditempatkan dalam sistem pemuas hasrat. Apa memang itu yang dikehendaki Penguasa Semesta?

Bila memang pembangunan di daerah A misal, melibatkan kawan-kawan daerah A untuk memberi arti mengenai keadaan budaya, arti lingkungan, bagi pembangun, lalu pembangunan disesuaikan dengan falsafah daerah A, barangkali tidak akan lagi menjemukan. 

Namun, bila akhirnya pembangunan menggeser, bahkan mengubah falsafah kehidupan daerah A maka bukan tidak mungkin, manusia kehilangan dirinya. Larilah mereka ke kegelapan, bergaul dengan siksa duri tajam yang tak nampak, menabrak-nabrak pagar yang juga tak nampak, bahkan mencoba-coba untuk menghancurkan dirinya agar hadir lagi benih kesadaran. Mungkin, kita lihat saja nanti, apakah saudara-saudara kita di Papua akan meradang atau akan menerjang, atau justru ‘peot’ ?