“Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah.”

― Milan Kundera

Buku dan manusia merupakan sahabat sejati yang kemarin, hari ini dan besok akan tetap langgeng persahabatannya. Semua tokoh besar dunia pasti akrab dengan buku. Bung Hatta bahkan mengatakan: “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”

Bagi saya, buku merupakan barang yang luar biasa menarik bahkan dari bentuk fisiknya, dan tentu saja isinya. Mahasiswa tentunya dekat dan mencintai buku. Di platform YouTube mulai bermunculan channel-channel yang menyuguhkan konten review buku. Media sosial Instagram juga mulai ramai dengan postingan review-review buku. Toko-toko buku kecil mulai bermunculan dan berhasil menarik banyak peminat. Dilihat dari peristiwa tersebut, minat baca di Indonesia saat ini sudah mulai berkembang dan bangkit dari ketertinggalan.

Sayangnya, kecintaan kita terhadap buku yang mulai tumbuh akhir-akhir ini terganggu oleh adanya razia-razia buku bertema kekirian di Kediri dan menyusul di Sumatera Barat. Buku-buku sejarah seperti Kronik ’65 karya Kuncoro Hadi, Islam Sontoloyo milik Soekarno, bahkan buku karya Soe Hok Gie, mahasiswa yang kontra dengan PKI pun ikut disita dan diamankan oleh oknum militer. 

Oknum tersebut melakukan razia dengan dasar Ketetapan MPRS No.XXV/MPRS/1996 tahun 1996 tentang pembubaran Partai Komunis Indonesia. Ketetapan MPRS tersebut mencakup pelarangan terhadap penyebaran dan pengembangan paham Marxisme-Leninisme atau akrab disebut komunisme.

Pelarangan terhadap suatu organisasi menurut saya tentunya sah-sah saja apalagi jika telah terbukti mengganggu keamanan negara dan melanggar hak asasi manusia. Namun bagi saya, pelarangan terhadap suatu organisasi tidak perlu diikuti dengan pelarangan berlebihan terhadap rakyat untuk mengetahui seluk beluk organisasi tersebut. 

Kita seharusnya berhak membaca buku-buku demi memperluas cakrawala pengetahuan. Kita seharusnya berhak untuk melek sejarah. Kita seharusnya berhak untuk melek ilmu. 

Apakah dengan membaca buku tentang Marxisme-Leninisme akan membuat seseorang membangkitkan kembali ideologi komunisme dan melakukan pemberontakan? Tentu saja tidak. Jaman sudah berubah, masyarakat sudah cerdas untuk memilah mana yang baik dan buruk, dan kapitalisme sudah mendarah daging. 

Marxisme-Leninisme yang dogmatis dan diusung PKI itu sudah tidak relevan untuk masa sekarang dan bahkan komunisme akhir-akhir ini menjadi bahan tertawaan banyak pihak termasuk munculnya meme-meme satir di sosial media karena dipandang absurd.

Ada beberapa hal yang saya takutkan dari razia buku-buku tersebut. Yaitu meredupnya minat baca masyarakat, sensor berlebih dari pihak penerbit karena takut akan terjaring razia, dan pengetahuan yang kurang terhadap sesuatu yang dilarang. 

Kebencian menjadi satu-satunya dasar suatu kalangan untuk melarang ideologi tertentu. Ketika ditanya apa isi ajaran dari ideologi tersebut, mereka tidak mengerti. Alhasil, komunisme, misalnya, malah akan menjadi mitos dan semakin menarik perhatian masyarakat.

Penggunaan terhadap sumber-sumber berbau komunis sebenarnya diperbolehkan untuk kepentingan penelitian. Jika buku-buku itu malah diberangus total, dari mana kita bisa mendapatkan referensi dan ke mana hasil penelitian tersebut didistribusikan mengingat buku-buku yang diberangus juga merupakan hasil dari penelitian yang akademis? 

Belum lagi jika dilihat dari peristiwa razia yang terkesan dilakukan tanpa riset yang mendalam terlebih dahulu sehingga buku-buku yang tidak berbau komunis pun ikut terjaring. Hal ini tentunya cukup meresahkan bagi seorang mahasiswa seperti saya dan mungkin mahasiswa lainnya yang open minded terhadap semua ideologi.

Bagaimanapun, semuanya telah terjadi. Mahasiswa mungkin hanya mampu menyuarakan pendapatnya baik dengan tulisan opini semacam ini, demonstrasi, petisi dan lain sebagainya. Tidak terlalu banyak hal yang dapat kita lakukan mengingat adanya peraturan yang mengikat. Juga, isu-isu ancaman kebangkitan komunisme yang menciptakan ketakutan di tengah masyarakat sehingga persoalan ini menjadi sensitif untuk diangkat. 

Saya sendiri menyikapi peristiwa ini dengan tetap membaca buku. Saya tetap membeli buku-buku yang asli agar penerbit-penerbit tetap hidup. Saya juga mengunjungi toko buku favorit saya. Saya tetap membuka mata dan hati terhadap semua ideologi, mengkampanyekan semangat membaca pada orang-orang di sekitar, dan menulis opini semacam ini. Karena saya sadar, perubahan dapat dimulai dari diri sendiri.

Pelarangan terhadap buku-buku sudah lama dan banyak terjadi di Indonesia. Pramoedya Ananta Toer merupakan salah satu korban dari pemberangusan buku. Namun, karya beliau justru meledak di masa sekarang. Kita dapat dengan bebas menikmati, bahkan dalam bentuk film, apa yang dahulu pernah dilarang. Beliau menjadi bukti bahwa semakin diberangus semakin besar minat masyarakat terhadap suatu karya sastra dan ilmu pengetahuan. Karya-karyanya pun semakin abadi.

Seperti kata Roem Topatimasang dalam bukunya yang berjudul Sekolah Itu Candu, “Setiap tempat adalah sekolah. Setiap orang adalah guru. Setiap buku adalah ilmu.”