Banyak yang bilang jika bekerja di perusahaan yang dibangun dari investasi negara lain itu menyenangkan. Baik soal gengsinya, gaji, fasilitas perusahaan, dan lain-lain. Saya akui itu.

Meskipun bisa dibilang gaji saya juga belum melimpah ruah dan juga masih sering harus mencari pekerjaan freelance demi memenuhi hasrat saya untuk buku dan traveling, saya toh senang menjalaninya. Bekerja di mana saja asal caranya halal jelas menjadikan kita memperoleh rezeki yang berkah.

Saya sangat suka menulis dan bahasa asing. Makanya saya begitu gembira ketika akhirnya diterima bekerja di sebuah perusahaan Jepang. Bahasa yang saya pelajari, Inggris dan Jepang, terpakai semua dan saya bisa belajar ilmu baru. Namun, rupanya jago bahasanya saja tidak cukup. 

Menjadi seorang interpreter dan translator juga butuh kemampuan lain, yaitu bisa beradaptasi. Berikut ini saya jabarkan attitude apa saja yang harus dilakukan seorang interpreter pemula agar tidak kagok ketika baru bekerja dengan orang asing.

Benar-Benar Pahami Cara Berpikir Orang Asing dan Soal Negara Kita

Oang asing itu punya budaya dan kebiasaan yang jauh berbeda. Pahami itu dan juga jangan lupa perdalam lagi wawasan soal kebiasaan serta budaya bangsa kita sendiri.

Sering ketika saya bertugas menjadi interpreter, klien dari Jepang bisa bertanya tentang apa itu wayang, bagaimana musik dangdut di Indonesia, hingga soal sepele kenapa ada perempuan muslim yang memakai jilbab dan ada yang tidak. Hal-hal baru yang mereka dapati di Indonesia pasti akan ditanyakan kepada interpreter.

Tidak perlu paham sampai terlalu dalam, paling tidak kita tidak terbata-bata atau sekadar mengangkat bahu. Interpreter juga bisa dibilang sebagai duta bangsa dalam skala kecil.

Yang paling penting juga, beradaptasilah dengan kebiasaan mereka, terutama dalam hal pekerjaan. Misalnya, jadilah orang yang datang tepat waktu jika berurusan dengan orang Jepang.

Riset Kosakata yang Terkait dengan Pekerjaan

Siapa bilang riset itu hanya berguna untuk membuat skripsi? Justru ketika menjadi interpreter, maka penguasaan kosakata itu sangat penting.

Berbeda dengan translator yang bisa duduk sambil membuka kamus, jika menjadi interpreter, kesempatan membuka catatan akan sangat minim sekali.

Sebelum memulai pekerjaan, cek mendetail ruang lingkup yang akan diterjemahkan itu apa saja. Misalnya akan menjadi interpreter di dunia balap motor, maka cari kosakata di bidang mesin motor, istilah dalam dunia balap, dan sebagainya. Baca berulangkali sampai lumayan menempel di ingatan.

Melatih Lidah untuk Makanan Asing

Saat menjadi interpreter yang mendampingi tamu asing, biasanya kita juga akan diajak untuk makan bersama entah itu makan siang atau makan malam bersama klien yang lain.

Biasakan lidah kita untuk menikmati makanan negara lain yang mungkin pada mulanya tidak cocok. Tak harus bisa menyantap semuanya, pilih beberapa menu yang bisa kita nikmati.

Biasanya klien akan merasa sangat dihargai jika interpreter pun bisa menyantap menu dari negara mereka, kecuali untuk minuman atau makanan yang diharamkan buat muslim, maka sampaikan baik-baik jika kita tidak bisa memakannya.

Hindari Menanyakan Soal Pribadi

Meskipun telah berbincang akrab dengan klien, hindari untuk menanyakan soal usia, status pernikahan, dan agama. Hal ini termasuk topik sensitif yang masuk ranah privat dan jika ditanyakan bisa berpotensi menyinggung mereka.

Bukalah perbincangan soal musim di negaranya, budaya tradisional mereka, makanan favorit, atau kesannya selama di Indonesia.

Perbincangan kasual juga akan mencairkan suasana agar tidak terkesan kaku. Kita juga harus melihat karakter klien seperti apa. Ketika mereka terlihat lelah, biarkan klien beristirahat.

Jadikan Klien sebagai Mentor

Walaupun sudah mempersiapkan diri dengan kosakata dan pemahaman lengkap mengenai ruang lingkup pekerjaan yang sedang diterjemahkan, akan ada bagian-bagian yang tidak sepenuhnya kita pahami sebagai interpreter.

Ketika kita tidak tahu apa nama dan fungsi sebuah benda yang harus diterjemahkan, misal fungsi sebuah mesin, segeralah bertanya pada klien agar tidak terjadi kesalahan penerjemahan.

Di kala senggang, catatlah hal-hal yang belum dimengerti dan tanyakan kembali kepada mereka yang lebih ahli. Orang asing sangat menghargai interpreter yang mau belajar dan tidak sok tahu.

Bersikap Profesional, Tidak Bermuka Dua

Salah satu problem yang muncul ketika kita menjadi interpreter adalah berusaha bersikap netral di antara dua klien yang berbeda pandangan. Tugas interpreter adalah mengalihbahasakan bahasa asing ke bahasa Indonesia dan sebaliknya, yang kadangkala tidak selalu berjalan lancar.

Terutama di tengah meeting untuk pengambilan keputusan bisnis misalnya, akan ada kecurigaan dari pihak lokal atau pihak orang asingnya jika satu sama lain menyimpan rahasia.

Interpreter tidak boleh memihak. Jangan bocorkan rahasia kedua pihak. Bersikaplah profesional. Jikalau ada satu pihak yang berkata buruk, sampaikan pendapat tersebut dengan bahasa santun supaya tidak sampai menyinggung.

Itulah enam attitude yang harus dipahami oleh interpreter pemula. Bersikaplah baik dan perbanyak wawasan agar proses menerjemahkan menjadi lancar serta memuaskan klien. Selamat mencoba!