Menuju akhir tahun 2018, dunia permusikan, perfilman dan perorangtuaan atau peroldschoolan diguncang dengan sebuah film biopic yang diperankan oleh pemuda ganteng berkepala tiga, Rami Malek. Film itu tidak lain dan tidak bukan adalah Bohemian Rhapsody, film yang berkisah tentang sebuah band yang kayaknya rock n roll dan kayaknya opera, Queen.

Siapa sih yang gak kenal Queen? Salah satu lagunya, We Will Rock You misal, sering dipakai anak-anak pramuka buat yel-yel dengan penuh semangat karena mudah dihafal dan diutak-atik selalu gathuk seabsurd apapun lirik yang dikarang. Padahal anak-anak pramuka itu lahir jauh setelah pentolan dan nyawa dari Queen, Freddy Mercury wafat tahun 1991. 

Dari kasus tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa generasi milenial yang gak tahu Queen berarti sering bolos pramuka. Atau mungkin mereka anak-anak yang gak pernah nonton final piala dunia karena lagu We Are The Champions selalu jadi backsoundnya.

            Bagi yang tersinggung karena sering bolos pramuka, tenang. Tulisan ini gak bakalan bahas itu. Jangan berhenti membaca. Tulisan ini pengennya sih membahas apa saja faktor-faktor yang membuat anak muda milenial kemungkinan gak bakalan bosen walaupun sudah berkali-kali nonton film Bohemian Rhapsody. Pasalnya saya sendiri sudah tiga kali nonton dan saat poster Bohemian Rhapsody sudah gak ada di aplikasi Tix, saya kecewa berat. Ada juga oknum dosen saya yang nonton sampai tiga kali. “Rekor bulan ini” kata beliau seakan-akan perbuatan beliau itu keren.

            Film yang rilis sejak tanggal 24 Oktober ini sendiri memiliki rating yang cukup bagus di IMDb, yaitu 8.3/10 dan berhasil meraup keuntungan kotor senilai 141.7 juta dollar atau senilai Rp. 2 triliun di awal penayangannya. Itu kalau dipakai buat biaya nasi bungkus peserta demo kayaknya bakalan dapet lauk tenderloin dengan kematangan well done, juicy, jadi tambah semangat demonya. Belum lagi baru-baru ini Rami Malek, pemeran Freddy Mercury dalam film tersebut berhasil memenangkan penghargaan golden globe sebagai actor terbaik.

            Dengan nama besar Queen yang sudah dibangun sejak tahun 70an sampai sekarang, pencapaian seperti itu memang gak perlu diherankan. Gak ada yang gak kenal Queen, walaupun sebatas tahu satu atau dua lagu. Waktu hari pertama rilis, saya nonton di salah satu bioskop di Jogja tengah malam. Studio waktu itu sepi sekali. 

Ada sekitar sepuluh orang penonton dan itu kebanyakan orang-orang berpenampilan oldschool yang kayaknya hidup di jaman kejayaan Queen. Tetapi, waktu saya nonton untuk terakhir kali, studio penuh dengan anak-anak muda milenial yang pada bawa pasangannya masing-masing. Semua orang pasti tahu Queen.

            Dari situ, saya melihat ada beberapa faktor yang membuat anak muda, walaupun gak lahir di jaman Queen, tetap ketagihan nonton Bohemian Rhapsody. Berikut faktor-faktor tersebut:

1. Penataan musik yang asik banget

Ketika nonton Bohemian Rhapsody, sejak detik pertama kita bakalan disuguhi musik-musik orisinil Queen. Bahkan pembukaan 21 Century Fox dengan musik tet tet tet tet operanya yang legendaris itu dimodifikasi sedemikian rupa dengan lengkingan gitar khas Brian May, gitaris Queen. Lalu di awal film, penonton langsung disuguhi dengan lagu somebody to Love yang cocok banget dengan sinematik nya. 

Tidak berhenti di situ, lagu-lagu Queen akan terus diputar dengan sambung-menyambung. Meski begitu, penyajiannya tetap logis misal digambarkan saat konser, rekaman, atau saat penciptaan lagu. Inilah yang membedakan musikal Bohemian Rhapsody dengan Kuch Kuch Hota Hai yang kesenggol dikit auto nyanyi.

2. Pengaruh orangtua

Generasi milenial mungkin memang gak hidup di masa kejayaan Queen. Tapi bisa jadi mereka tahu Queen karena orangtua mereka Fans fanatik garis keras Queen yang setiap pagi muter lagu Queen buat ngeramein suasana sarapan. Sehingga kenangan-kenangan masa kecil yang secara tidak langsung ditanamkan oleh kedua orangtuanya kembali muncul. Dan sesungguhnya mengenang masa kecil yang indah itu ena.

3. Memang fans Queen

Walaupun anak-anak muda ini memang gak lahir pada era Queen. Tapi bisa jadi mereka adalah anak-anak berhati mulia yang memakai mesin waktu untuk kembali ke masa lampau untuk menyaksikan konser amal Live Aid hingga jatuh cinta dengan penampilan Queen yang legendaris itu dan memutuskan untuk mundur lagi ke masa awal Queen dan menyaksikan perkembangannya. Bisa jadi kan? Masak gak percaya sama mesin waktu? ehe

4. Biar kelihatan keren

Walaupun gak paham sama sekali sama filmnya, gak ngerti Queen beneran ada atau cuma fiksi, tapi tetep aja bisa kelihatan keren. Foto tiket lalu dibikin story Whatsapp dengan bumbu kalimat “Udah ngefans Queen sejak kecil” biar kelihatan otak retro, berpengetahuan luas tentang musik, dan oldschool. Hal itu lalu dilakukan berulang-ulang biar kerennya berlapis. Sekarang terlihat tua itu keren, bro.

5. Cinta buta

Ada sepasang pemuda yang berpacaran. Salah satu dari mereka ingin terlihat keren dengan nonton Bohemian Rhapsody. Maka orang pertama yang ingin mereka pameri kekerenan mereka adalah “pacar”. Mereka akan ajak pacar mereka nonton Bohemian Rhapsody di bioskop dan karena cinta mati, yang diajak mau-mau aja walaupun gak ngerti. Alhasil film Bohemian Rhapsody menjadi film penuh kenangan manis bersama pacar dan akhirnya ketagihan buat nonton.

6. Gak pernah bolos pramuka

Bicara tentang kenangan, anak pramuka otaknya pasti penuh dengan kenangan. Mulai dari cinta sebatas patok tenda, tepuk pramuka, sandi rumput, hingga yel-yel We Will Rock You yang selalu bisa diutak-atik gathuk. Kenangan-kenangan itulah yang mungkin saja membawa mereka ingin lagi dan lagi nonton Bohemian Rhapsody.

Yang jelas, Bohemian Rhapsody merupakan film tersukses tahun ini bagi saya. Karena disitu terkandung kenangan-kenangan yang luar biasa. Lagu-lagu yang luar biasa nikmat didengar juga direkam ulang. Bagi fans Queen, keberhasilan pemilihan pemeran juga bisa dibilang cukup sukses, Overall film ini cocok ditonton oleh semua orang baik yang mengenal Queen, maupun yang sering bolos pramuka dan gak pernah nonton final piala dunia.