Filsafat berawal dari ketakjuban.

Saya mengamini apa yang dikatakan oleh Aristoteles di atas, filsafat memang berawal dari ketakjuban. 

Lantas, apakah ketika seseorang merasa takjub saat melihat sesuatu sudah bisa dikatakan sedang atau sudah berfilsafat? Saya jawab, sudah. Segampang itu? Tentu. Bukankah inti dari filsafat adalah berpikir?

Saat seseorang takjub terhadap apa yang ada dihadapannya, dari apa yang dilihatnya, berarti dia sedang berpikir, logikanya sedang berjalan. 

Berfilsafat sesederhana itu, tidak usah dirumit-rumitkan. Yang menjadikan filsafat itu rumit adalah pikiran Anda sendiri. Filsafat berawal dari rasa takjub, rasa ingin tahu (curiosity), dan keraguan yang dapat membuat Anda berpikir.

Contoh sederhananya, saat Anda duduk di taman, tiba-tiba lewat pria ganteng di depan Anda. 

Anda tentu terperangah melihatnya, timbul rasa takjub, maka akan keluar ucapan, “Wah, ganteng sekali, ya, laki-laki itu.” Lalu akan muncul rasa ingin tahu, “Siapa, ya, namanya?” Kemudian muncul keraguan dalam diri, “Apa dia mau berkenalan denganku?”

Seperti halnya Thales, seorang filsuf alam dari kota Miletos, Yunani, hidup pada abad ke 6 sebelum masehi, yang oleh Aristoteles beliau disebut sebagai filsuf pertama.

Atas ketakjubannya terhadap jagat raya, ia menyimpulkan dari hasil pengamatannya bahwa alam semesta ini prinsipnya (arkhe) bermula dari air. Semuanya berasal dari air dan akan kembali lagi menjadi air.

Ketakjuban Thales sehingga mengantarkannya pada kesimpulan bahwa alam semesta bermula dari air tentu bukan tanpa alasan. 

Guru dari Anaximandros tersebut adalah orang pesisir. Pandangannya tak pernah luput dari air, betapa air laut menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat di bibir pantai.

Air sumber kehidupan, untuk pelepas dahaga, untuk mandi, mencuci pakaian, membasahi tanah yang gersang, dan sebagainya. Dia juga seorang saudagar yang sering pergi berlayar dari satu pulau ke pulau lain.

Di Mesir misalnya, dia dibuat takjub bukan kepalang saat menyaksikan sungai Nil, di mana masyarakatnya bergantung kepada sungai tersebut dan dapat menyuburkan tanah di sepanjang alirannya. Begitulah Thales.

Dua filsuf alam terkenal lainnya, seperti Anaximandros, mengatakan asas atau prinsip alam semesta adalah to apeiron, yaitu tak terbatas atau tak terhingga, serta Anaximenes, berpendapat asas alam semesta berawal dari udara karena tanpa adanya udara manusia tak dapat hidup dan bernafas.

Ini adalah satu bukti kenapa kemudian saya mengamini perkataan Aristoteles di atas bahwa filsafat berawal dari ketakjuban. Jadi, tetaplah Anda rawat rasa takjub dan rasa ingin tahu Anda; jangan dibunuh!

Ketika Anda membunuh rasa itu, maka Anda ingin hidup yang Anda jalani biasa-biasa saja. Karena tak ada satu pun di dunia ini yang tak menakjubkan, yang tak membuat Anda berucap kagum, bukan?

Sampai di sini, apa Anda sudah mulai takjub dengan tulisan saya dan rasa ingin tahu Anda makin memuncak untuk mengetahui apa saja prinsip-prinsip yang harus diketahui dan diterapkan dalam berfilsafat?

Baiklah! Sebelum saya membabarnya, Anda perlu menjawab pertanyaan yang saya ajukan berikut. Menjawabnya cukup di dalam hati Anda saja, resapi dan merenunglah! 

Apakah Anda punya prinsip dalam menjalani kehidupan ini? Apa prinsip hidup Anda? Sejauh mana pengaruh prinsip hidup yang Anda miliki tersebut dalam membimbing Anda untuk mencapai kebahagiaan dan cita-cita Anda?

Ya, seperti halnya hidup, berfilsafat juga butuh prinsip. Lantas, apa saja prinsip-prinsip dalam berfilsafat?

Pertama, menghilangkan sifat serbatahu. Sesuatu yang berlebih-lebihan itu tidak baik, termasuk merasa diri tahu segalanya, merasa tahu terhadap apa yang akan dipelajari. Jatuhnya nanti sombong.

Padahal, sebanyak yang Anda tahu, sebenarnya masih banyak yang belum Anda ketahui. Bersikaplah tawadhu’ seperti yang dilakukan oleh Socrates, “Satu-satunya hal yang aku tahu adalah bahwa aku tidak tahu apa-apa.”

Seseorang yang ingin belajar filsafat harus bisa mengendalikan diri. Hal ini diperlukan agar tidak terjerumus kepada pembenaran diri, yaitu menganggap pendapatnyalah yang paling benar, sedangkan yang lain salah, sehingga saling bertukar pandangan tidak lagi terwujud.

Puncaknya, tidak ada titik temu, yang ada hanyalah debat kusir. Apabila adanya kecongkakan, sombong, merasa mahatahu, hati-hati! Anda sudah melanggar prinsip-prinsip dalam berfilsafat. Segeralah bertobat!

Kedua, setia pada kebenaran (for truth only). Tujuannya adalah melahirkan keberanian untuk mempertahankan kebenaran. 

Tidak hanya itu, setia pada kebenaran akan melahirkan kejujuran. Mengutip perkataan Voltaire, “menemukan hal yang benar dan mempraktekkan hal yang baik adalah dua tujuan utama filsafat.”

Ketiga, memahami persoalan-persoalan filsafat dan berusaha mencari jawabannya. Dengan memikirkan persoalan-persoalan filsafat, dapat melatih daya berpikir dan mengasah intelektual karena untuk memecahkan suatu permasalahan realitas butuh latihan berpikir secara serius.

Keempat, melakukan latihan intelektual, latihan berpikir secara berkesinambungan. Jalannya adalah dengan cara mengungkapkan secara lisan maupun tulisan. Tulisan saya yang sedang Anda baca ini adalah sebentuk latihan intelektual dan latihan berpikir, yaitu melalui cara menulis (tulisan).

Selain itu, salah satu cara yang paling mudah untuk memecahkan persoalan filsafat adalah memecahkan persoalan diri sendiri. Misalnya, kenapa saya harus belajar? 

Atau bagaimana konsep tentang kebebasan, apakah pengertian kebebasan yang telah mapan yang dipahami jamak orang dapat memuaskan pemikiran Anda? Jika belum, bagaimana konsep kebebasan itu sesungguhnya?

Kelima, membuka diri. Maksudnya, seseorang yang hendak belajar filsafat harus membuka pikirannya (open mind it) seluas-luasnya, tidak berpikiran sempit, tidak memihak. Sebab, filsafat ranah kajiannya sangat luas sekali yaitu terkait seluruh lini kehidupan manusia.

Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Tak sayang maka tak cinta. Tak cinta maka tak bisa yang-yangan, eh. Iya, yang-yangan dengan filsafat maksudnya. 

Sebagai seorang yang sejak sembilan tahun belakangan ini bergelut dengan filsafat apalagi sekarang sebagai seorang pengajar filsafat, maka sedikit banyaknya saya sudah memakan pahit manisnya filsafat.

Ada yang mengalamatkan filsafat dapat membuat orang gila, sesat dan bahkan ada yang mengharamkan. Bagaimana bisa filsafat dapat menyesatkan, membuat orang gila, sedangkan yang bersangkutan belum berkenalan dengan makhluk yang bernama filsafat ini?

Filsafat tak menuntut apa pun, kecuali berpikir dan merenungi apa pun yang ada di sekitar kita. Don’t judge book by the cover!

Terakhir, mengutip perkataan Betrand Russel, “jangan takut memiliki pemikiran-pemikiran gila karena setiap pemikiran yang saat ini diterima, dulunya juga dianggap gila.”