Sudah pada bisa menyelam, belum? Yang bilang takut sama air, sudahlah tidak usah cemen! Sehari-hari minum air sampai dua liter, mandi pake sabun air bisa sampai 191,61 liter sehari, dan komposisi tubuh orang dewasa seperti kita 43 – 73% itu cairan. 

Sementara negeri tercinta, perairannya tidak tanggung-tanggung, 6.400.000 km2, hanya menyisakan 22,9% daratan. Air menjadi bagian dari kita, bagaimana bisa takut. “Takut tenggelam,” kata seorang teman. Ayolah, kalau menyelam kan memang mesti tenggelam. Kalau tidak tenggelam itu berperahu namanya. 

Di antara hal esensial kaitan kita dengan air, saya secara khusus ingin menggarisbawahi poin luasnya laut kita hingga 77,1%. Dengan dominasi seperti itu, wajiblah rasanya untuk mengenali bagian terbesar rumah Indonesia ini.  

Terdengar terlalu menyederhanakan mengaitkan selam dan mengenali kekayaan milik bangsa memang, tapi itulah interaksi langsung yang bisa anda lakukan untuk berkenalan lebih jauh. Bahwa selanjutnya anda memutuskan untuk mencintai trus menjaga laut, itu kita urus belakangan saja.

Berdasarkan pengalaman 15 tahun menjadikan selam sebagai hobi, saya ingin mengiming-imingi anda semua untuk memupuk alasan, kenapa perlu belajar menyelam?

1. Perairan kita surganya terumbu karang lo. 

Sudah tahu belum kalau perairan kita adalah pusat segitiga karang dunia? Kita memiliki spesies karang paling tinggi yaitu 569 jenis dari total 845 jenis karang di dunia. Ini bukan kata saya, tapi kata Prof. Dr. Suharsono, peneliti senior Pusat Penelitian Oseanografi LIPI. 

Dengan ragam seabrek-abrek begitu, tidak jarang kita menjumpai selayaknya taman di bawah laut, tapi yang tumbuh itu hewan, bukan tumbuhan. Seperti di Raja Ampat misalnya menyelam di satu lokasi saja, kita sudah bisa nemu 200 spesies lebih. Oh iya, jangan salah sangka lagi ya, karang itu hewan, bukan tumbuhan!.

Serius kalian puas hanya dengan menyusuri taman di darat saja? Tidak penasaran liat giant braincoralpaling besar sejagat di Teluk Buyat? Tidak sayang melewatkan pemandangan bawah laut kita yang mewah, yang saking mewahnya sampai dapat gelar the largest mega marine biodiversity.

Kita berkontribusi 10% terumbu karang dunia lo. Kita boleh buncit pada urusan laju ekonomi, tapi urusan terumbu karang, tidak ada yang tidak berpaling ke kita. Dipikirin baik-baik ya!.

2. Bisa lihat ikan yang tidak pernah terhidang di meja 

Menurut Sensus Biota Laut tahun 1990an - bukan cuma penduduk yang punya sensus, gaes - ada 147 spesies ikan di sini. Diantaranya sembilan spesies ikan sidat, 62 spesies ikan hiu, 64 spesies ikan pari, dan 12 spesies ikan terbang. Lebih banyak lagi jumlahnya yang disebut Ambari di Mongabay, ada 4.782 spesies ikan asli Indonesia, dan 3.534 hidupnya di laut. 

Pasti kalian seringnya nemu kerapu, kakap sama kuwe kan ya, sudah bentuknya itu-itu saja terhidang pula di meja makan. Belum pernah lihat bumble bee grouper yang bintil-bintil kuning? Atau lionfish yang durinya serupa bulu-bulu melambai atau weedy scorpion fish yang warnanya ngejreng tapi bentuknya macam bongkah batu kasar. Ini kalian bisa ketemu kalau menyelam di Ambon lo. 

Kayaknya ada yang diam-diam jawab, sudah pernah lihat tapi di akuarium dan itu tidak seru, anak muda! secara kalian pan tidak bisa masuk dalam akuarium mengambang cantik kayak mereka. 

Ada beberapa pengalaman saya yang tidak terlupakan. 12 tahun lalu di Biak pertama kali mengambil foto di bawah air, dengan obyek tiga lionfish yang anteng seolah tahu dia akan difoto. Pernah juga di Tulamben tahun 2006, tahun pertama belajar menyelam, dibuat bengong karena berada dalam pusaran ribuan jackfishyang sedang schooling

3. Bisa tos sama mamalia laut. 

Eh literally jangan tos beneran kalau anda nanti menyelam dan ketemu paus, cukup dipandang-pandang dari jauh, maksimal didadah-dadah. Pertama, mereka dilindungi dengan peraturan berlapis, kedua, ukurannya bisa lebih besar dari perahu Nelayan 10 GT. Doi kibas ekor saja bisa terpental kita ya, selain anda belum tahu benar perangainya.

Perairan kita adalah jalur migrasi 34 spesies mamalia laut. Kata WWF, ada 7 spesies paus sikat, salah satunya paus balin yang panjangnya bisa sampai 18 meter, dan ada 27 spesies paus bergigi yang suka lalu-lalang, contohnya paus sperma yang panjangnya sampai 20 meter, yang jadi inspirasi film Moby-Dick. Ga usah tanya ada yang tidak bergigi ga, belajar selam aja dulu! Oh ya, lumba-lumba sama pesut masuk dalam kategori ini.  

Kalau nanti kalian sudah handal menyelam, makhluk-makhluk raksasa itu bisa dijumpai di Laut Sawu, Laut Arafuru, Laut Sulawesi, Perairan Pulau Komodo, sama Raja Ampat. 

Oh iya, selain paus ada lagi satu mamalia laut, dugong. Makhluk tambun yang kalem dan pemalu (ini tidak body shaming dugong kan ya?). Eh, awas lo kalau masih ada yang salah sebut, ikan paus, mereka bukan ikan tapi mamalia!.

4. Ada kapal tenggelam 

Sering nemu paragraf pembuka di buku sejarah atau buku geografi yang bunyinya begini, bahwa perairan kita adalah jalur pelayaran yang strategis berada pada persilangan dua benua dan dua samudera. Nah, salah satu bukti strategisnya adalah banyaknya kerangka kapal kuno karam di perairan kita. 

Apa hubungan dengan menyelam? Baca baik-baik ya, menyelam di kapal tenggelam bersejarah adalah penyelaman terbaik bagi seorang penyelam. Kenapa? 

Satu, rata-rata kapal karam terutama yang konstruksinya baja menjelma menjadi substrat terumbu karang dan habitat ikan. Kedua, perasaan thrilling – tepatnya semriwing, di bawah air itu juga bisa merinding lo – menyaksikan kuburan kapal dengan cerita sejarah yang melatarbelakangi keberadaannya saat itu. 

Anda pastinya dapat dua keuntungan, pemandangan ekosistem yang kaya dan pengetahuan sejarah maritim, kalian juga boleh menambahkan rasa semriwing itu tadi. Pernah satu waktu tetiba merinding pada saat mengobservasi laju korosi baja kerangka kapal Indonor di Karimunjawa, sampai akhirnya saya memberi kode ke buddy selam saya supaya mendekat. Indonoor adalah bekas kapal Norwegian Royal Family bermesin uap yang dibuat sekitar tahun 1940an. 

5. Laut Indonesia itu warisan kita turun temurun.

Kalau poin ini sih berbaur emosi ya, karena masa iya kita tidak kenal rumah sendiri. Siapa lagi yang diharapkan untuk peduli dan menjaga laut kalau bukan kita, anda. Sebenarnya menyelam hanyalah salah satu cara untuk mengenal laut, pastinya interaksi bisa langsung.

Laut kita bukannya baik-baik saja, banyak permasalahannya, ya sampah, perubahan iklim yang bisa membuat terumbu karang memutih, penangkapan ikan yang tidak bertanggungjawab. Banyak aspek yang perlu kita suarakan dengan lantang bahwa laut kita adalah rumah besar Indonesia, perlu dijaga dengan perilaku yang bijaksana, agar tetap baik bahkan lebih baik untuk kelangsungan bumi, manusia dan generasi.