Aristoteles bukanlah orang pertama yang melakukan penyelidikan kausal atas dunia sekitar kita. Terlepas dari Aristoteles, penyelidikan mengenai alam identik dengan pertanyaan dan penyelidikan mengenai sebab dari alam semesta.

Dalam phaedo, misalnya, Plato menunjukkan bahwa apa yang disebut penyelidikan terhadap alam semesta terdiri dari pencarian sebab bagi segala sesuatu, alasan mengapa segala hal muncul, mengapa segala sesuatu ada.

Akan tetapi, para filsuf sebelum Aristoteles termasuk Plato hanya melakukan penyelidikan terhadap sebab atas fenomena yang ada tanpa memberikan penjelasan secara sistematis mengenai apa sesungguhnya yang dimaksud dengan “sebab” itu sendiri. Menurut Aristoteles, hal ini menjelaskan mengapa penyelidikan para filsuf sebelumnya, meskipun menghasilkan wacana yang penting, tidak sepenuhnya berhasil.

Dalam Posterior Analytics, Aristoteles menempatkan suatu hal yang penting sebagai landasan atas pengetahuan yang benar. Menurutnya, kita dapat memiliki pengetahuan mengenai segala sesuatu hanya jika telah memahami bagaimana sesuatu tersebut muncul atau terjadi..

Menurut Aristoteles, dalam memahami atau menyelidiki sebab segala sesuatu dicirikan dengan pertanyaan "mengapa". Pertanyaan “mengapa” tersebut menyiratkan sebuah upaya dalam menemukan sebuah penjelas serta bermanfaat untuk memikirkan penjelasan atas segala sesuatu.

Dalam Fisika II buku 3 dan Metafisika V buku 2, Aristoteles memberikan penjelasan mengenai empat sebab. Keempat sebab tersebut bersifat umum dan mutlak berlaku untuk mencari penjelaskan segala hal termasuk dalam memahami tindakan manusia. Aristoteles membagi ke empat sebab sebagai berikut:

  • Sebab Material: sebab material berusaha mempertanyakan apa yang menjadi bahan dasar dari sesuatu. Misal, kayu adalah bahan dasar adanya meja.
  • Sebab Formal: sebab formal terkait erat dengan struktur atau bentuk suatu hal.
  • Sebab efisien: suatu prinsip yang menjadi sumber kejadian menjadi faktor yang menjalankan atau menggerakkan kejadian. Misalnya adalah tukang meja yang menjadi penggerak pertama suatu meja.
  • Sebab final: sebab final mempertanyakan tujuan suatu hal terjadi.

Keempat jenis sebab tersebut saling terkait dan tidak dapat dipisahkan dalam memahami suatu hal. Misalnya pada penggambaran pematung oleh Aristoteles yang membuat patung menggunakan bahan dasar perunggu.

Akan tetapi, perunggu tidak dapat dilihat hanya sebagai bahan dasar pembuatan patung, melainkan juga memperlihatkan subjek perubahan. Perubahan tersebut terkait dengan sebab formal dimana perubahan bentuk yang terjadi merubah bentuk awal perunggu menjadi bentuk baru, yaitu patung. 

Selanjutnya penjelasan yang memadai mengenai pembuatan patung juga memerlukan sebuah prinsip sebagai penggerak pertama dalam menghasilkan sebuah patung. Bagi Aristoteles, prinsip tersebut adalah seni Patung. Tidak ada yang meragukan bahwa seni patung adalah prinsip bagi adanya sebuah patung.

Menurut Aristoteles, seni dalam pembuatan patung termanifestasi dalam seorang pengrajin patung. Manifestasi tersebut berisi pengetahuan yang spesifik dalam pembuatan patung. Dapat dikatakan bahwa dalam hal sebab efisien bagi pembuatan patung, pengrajin patunglah yang dipilih Aristoteles sebagai sebab efisien yang paling akurat.

Sebab efisien juga membantu kita untuk secara langsung memahami apa yang diperlukan serta bagaimana proses sesuatu hal dapat terjadi. Akan tetapi, bisakah penjelasan tersebut dipahami tanpa mengacu pada hasil akhir dari sesuatu hal? Jawabannya tentu tidak. Hal ini terkait dengan pertanyaan mengenai proses sesuatu.

Dalam proses terjadinya sesuatu, secara tidak langsung menjelaskan tujuan dari dilakukannya proses tersebut. Sehingga sebab akhir sebagai tujuan tak bisa dielakkan.

Empat sebab yang diperkenalkan Aristoteles tersebut memberikan penjelasan teleologis mengenai suatu hal. Penjelasan teleologis tersebut tidak terkait dengan konsep psikologis seperti keinginan, keyakinan dan niat. Penjelasan teleologis bagi Aristoteles digunakan untuk memahami alam di mana tidak melibatkan keyakinan, atau hal semacam itu.

Dalam fisika, Aristoteles menyusun seluruh penjelasannya mengenai empat sebab dengan mengembangkan prinsip-prinsip yang lebih spesifik dalam mempelajari alam. Menurut Aristoteles, keempat sebab tersebut menjadi inti penting dalam memahami fenomena yang terjadi di alam. Dari fenomena alam tersebut akan membawa kepada kita pada pertanyaan apa sebenarnya sebab bagi alam semesta.

Bagi Aristoteles, cara terbaik memahami fenomena alam semesta adalah dengan memahami bagamana tubuh kita bergerak, sehingga bagi orang yang melakukan penyelidikan terhadap alam semesta juga arus memberikan penjelasan tentang perubahan alami yang ada pada tubuh kita. Hal ini terkait dengan faktor-faktor yang terlibat dalam sebuah proses perubahan, baik itu materi, bentuk dan akhir dari perubahan tersebut.

Dalam kaitanya dengan alam, Aristoteles tidak mengatakan bahwa keempat sebab tersebut saling terkait dan terlibat dalam suatu penjelasan akredatif. Akan tetapi, Aristoteles mengatakan bahwa dalam memahami segala fenomena yang ada, keempat sebab tersebut diperlukan sebagai referensi.

Dalam penyelidikan terhadap manusia, manusia sepenuhnya berkembang dalam wujudnya sebagai manusia dan wujud ini merupakan akhir dari perubahan manusia. Bagi Aristoteles, secara formal perubahan manusia adalah sekaligus merupakan tujuan atas perubahanya. Dengan demikian, dalam memahami manusia, Aristoteles menggunakan tiga jenis sebab. Hal ini dikarenakan sebab formal sekaligus merupakan sebab akhir sesuatu hal.

Akan tetapi, menurut Aristoteles, para filsuf sebelumnya hanya mengenal materi dan sebab efisien. Hal ini menjelaskan mengapa meskipun Aristoteles menyatakan bahwa dalam memahami manusia sebab formal dan sebab akhir adalah identik, namun dirinya tetap mempertahankan pernyataannya mengenai sebab akhir yang bersifat independen dan sejati.