Apakah sahabat Qureta suka mengonsumsi kue tradisional Indonesia? Jika iya, kalian tergolong salah satu pencinta kebudayaan Indonesia. 

Meski beragam kue dari luar negeri sudah masuk dan bersaing dengan kue tradisional di Indonesia, kita harus tetap menjaga kue tradisional sebagai warisan leluhur dan identitas bangsa.

Setiap provinsi pasti memiliki kue tradisional. Coba sahabat Qureta bayangkan kenikmatan rasa kue tradisional dari daerah kalian! Hmmm... nikmat, bukan? Nah, ternyata kue tradisional khas Jambi rasanya juga tidak kalah enaknya loh.

Kue dalam bahasa Jambi adalah joda. Wah, bahasanya unik ya. Saya tiba-tiba jadi teringat film India. Kalau sahabat Qureta main ke Jambi, kalian harus mencoba joda-joda unik berikut!

1. Yoda Kote

Sahabat Qureta pernah memakan kue tradisional berbentuk hidung manusia? Bila belum, kawan-kawan perlu main ke Jambi, khususnya di Kabupaten Sarolangun, sebab kue ini merupakan kue khas daerah sana. 

Kue yang bernama yoda kote atau biasa disebut kue hidung ini termasuk jajanan tradisional yang bisa dijual sebagai takjil di bulan Ramadhan.

Warna khas lapisan luarnya yang hijau adalah perpaduan antara tepung ketan, daun pandan, dan santan kental. Sementara isi bagian dalamnya terbuat dari parutan kelapa muda yang dimasak dengan gula aren. Kue ini biasanya dibungkus di dalam plastik.

Kue yoda kote yang nikmat ini biasanya sering juga dibawa sebagai oleh-oleh. Menurut sejarahnya, awal mula pembuatan kue ini dilakukan oleh orang mudik, tepatnya di daerah Pelawan, Kabupaten Sarolangun, Jambi. 

Kemudian ternyata citarasanya bisa diterima masyarakat umum sehingga kue ini masih banyak diminati hingga saat ini.

Sumber: Tribun Jambi (yoda kote)

2. Cepak Kapung

Pernah mendengar kue bernama cepak kapung? Bila belum, kalian tentu perlu mencicipinya sebab citarasanya yang manis, kenyal, dan lumer menimbulkan efek tenang dan membuat ketagihan. 

Kue ini ada yang dibuat berwarna putih, ada juga yang berwarna hijau. Isi dalamya yang berwarna cokelat terbuat dari santan dan gula aren. Biasanya kue ini banyak dijual pada saat bulan Ramadhan saja.

Kue cepak kapung ini adalah kue khas di daerah Terusan Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi. Kue ini tidak ada di provinsi lain loh. Hanya spesial ada di Jambi. 

Waktu saya kecil dahulu, pakcik pernah mengajakku ke rumah nenek buyut yang ada di sana. Saya memanggilnya dengan sebutan nyai. Nyai bilang kue ini memiliki filosofi tersendiri.

Sumber: imcnews.id (cepak kapung putih)

Sumber: Tribun Jambi (cepak kapung hijau)

Kue berbahan dasar ketan ini dibuat secara manual/tanpa alat cetak kue, yakni dengan jari-jari nyai yang sudah menua. Kuenya memiliki wadah dan isi. Kata nyai, wadah kue ini sama halnya dengan akhlak manusia, sementara isinya adalah perlambang ilmu yang bermanfaat. 

Oh iya, nyai bilang kalau wadah kue dibuat kurang bagus, maka ia akan bocor. Nah, makanya kue ini diberi nama cepak kapung.

Kue ini hanya tahan satu hari saja, jadi saat itu saya dan pakcik lekas menghabiskannya. Kata nyai kita tidak boleh membuang-buang makanan sebab membuang makanan itu perbuatan tidak terpuji. 

“Anak pintar membuang makanannya ke dalam perut, bukan ke tong sampah,” ucap nyai.

3. Takik Beruk

Saat pertama kali mendengar nama takik beruk, saya tiba-tiba teringat monyet-monyet di kebun binatang. Akan tetapi, ternyata takik beruk adalah kue tradisional khas Jambi yang berasal dari Dusun Sungai Arang, Kecamatan Bungo Dani, Kabupaten Muaro Bungo.

Kue tradisional ini tergolong unik. Bila biasanya, kue tradisional dibungkus dengan daun pisang, kue takik beruk dimasukkan ke dalam tanaman kantung semar. 

Tumbuhan kantung semar ini diperoleh dari rawa-rawa sekitar Sungai Arang atau juga di Sungai Arang itu sendiri. Oh iya, takik dalam bahasa melayu Jambi berarti cangkir. Takik beruk sama artinya dengan cangkir monyet.

Bahan dasar untuk membuat takik beruk adalah ketan yang dipadu dengan santan dan garam. Sementara untuk varian rasanya sendiri beragam, kawan-kawan. Ada yang berupa tepung lalu dicampur dengan daun pandan atau srikaya. 

Ada juga yang terbuat dari ubi dan gula merah, namun bungkusnya tetap saja dari kantung semar. Mula-mula adonan dimasak, setelah matang dan agak hangat lalu dituangkan ke kantung semar yang telah dibersihkan!

Kue tradisional ini biasanya disajikan pada hari-hari khusus, seperti isra’ mikraj, maulid nabi, hari raya keagamaan, dan pesta pernikahan. Hmm....rasa manisnya sungguh menggoda. Aku baru kali ini makan kue dari tumbuhan kantung semar.

Sumber: Kemendikbud.go.id

4. Celokote

Satu lagi kue tradisional Jambi yang unik bernama celokote.  Kue berbahan dasar ketan ini berasal dari Desa Terusan Kabupaten Muaro Jambi. Bentuknya mirip sekali dengan pastel, hanya saja warna kue celokote adalah hijau. Kue celokote ini ada isinya juga loh yakni, parutan kelapa yang dicampur gula aren.

Kebanyakan kue tradisional Jambi memang berwarna hijau. Warna ini didapat dari daun pandan yang banyak dibudidaya oleh masyarakat Jambi. Selain itu, warna hijau pada kue melambangkan kesuburan, yakni Provinsi Jambi diberkahi kesuburan alam perkebunan, yang bisa dimanfaatkan oleh penduduknya.

Jika Sahabat Qureta penasaran dengan rasanya yang manis dan empuk, kalian bisa membelinya di Pasar Terusan. Namun, kue tradisional ini tidak banyak dijual bebas di toko-toko kue modern.

Kue tradisional celokote ini merupakan resep turun-temurun dari leluhur yang sudah ada sejak lama, yakni sejak zaman penjajahan. Dahulunya, kue ini pernah menjadi primadona. Namun, seiring berjalannya waktu, sudah banyak sekali kue-kue modern yang masuk sehingga kue celokote tidak sepopuler masa lalu.

Besok kalau sudah kembali ke Jakarta, aku akan menceritakan nikmatnya kue ini ke teman-temanku. Meski di Indonesia sudah banyak makanan dari luar yang masuk dan disukai oleh banyak peminatnya, kita selaku generasi penerus bangsa harus tetap mencintai kuliner tradisional dari kota kita sendiri.

Mengapa harus demikian? Sebab ini sebagai wujud bahwasanya kita mencintai negara kita. Kue tradisional adalah identitas keberagaman negara Indonesia.

Sumber: imcnews.id (celokote)