Almarhum Dai Sejuta Umat, KH Zainuddin MZ, yang kemudian dipertegas oleh dai yang tak kalah kondangnya, KH Anwar Zahid, pernah membahas perdebatan “legendaris” tentang doa qunut dalam salat subuh. Menurut beliau berdua, baik yang membaca doa qunut maupun tidak sama-sama benar. Ketika jamaah bertanya, “Lantas siapa yang salah?” Secara kompak mereka katakan, “Yang salah yang tidak salat subuh”.

Rasanya kita perlu memakai jurus dua dai itu ketika memperdebatkan siapa yang lebih baik di antara Jokowi dan Prabowo. Mau menyodorkan data dan fakta apa pun, mau berargumen seperti apa pun, mau ngotot model bagaimana pun, nggak banyak berpengaruh bagi pendukung kedua kubu. 

Bahwa Jokowi telah membangun berbagai infrastruktur dan mengambil alih kepemilikan berbagai perusahaan asing akan sulit mengubah kampret jadi cebong. Begitu pula janji-janji Prabowo untuk membuat Indonesia menang dan keberpihakannya kepada nasib emak-emak yang dipusingkan dengan harga-harga yang terus naik juga akan susah mengubah cebong jadi kampret.

Jadi seperti kata Zainuddin dan Anwar Zahid, daripada terus saling ngotot, yakini saja capres yang Anda pilih nanti merupakan yang terbaik tanpa harus manas-manasi pihak lawan. Mau pilih capres nomor 1 tidak salah, menjatuhkan pilihan pada nomor 2 juga sah-sah saja. Kalau keduanya benar, lantas mana yang salah? Yang salah yang tidak menggunakan hak pilihnya.

Oh ya, saya sedang menganalogikan pilpres dengan doa qunut kok. Kalau Anda berpendapat tidak memilih juga termasuk pilihan, tentu itu hak Anda. Yang lebih utama adalah menciptakan suasana adem sembari menunggu 17 April mendatang. Siapa pun presidennya, asal bermain dengan cara-cara yang fair, dialah nanti yang menjadi pemimpin kita.

Berarti urusan capres beres ya? Kalau begitu, izinkan saya menyampaikan empat kiat dalam memilih wakil rakyat—orang orang yang konon mewakili kita.

Pertama, kenali sosoknya.

Melalui baliho atau banner yang bertebaran di sepanjang jalan, calon wakil rakyat ini mulai rajin memperkenalkan diri. Di antara sekian wajah tersebut mungkin ada yang sudah familiar dengan kita, lebih-lebih caleg tingkat kabupatan/kota yang luas wilayahnya tak seberapa. Salah satunya mungkin tetangga kita sendiri, atau tetangga kampung, atau tetangga kecamatan. Jika benar demikian, saya rasa tak terlalu sulit menentukan pilihan. Sebab kita sudah paham track record-nya secara nyata.

Misalnya ia tak pernah ikut kerja bakti, atau pintu dan pagar rumahnya selalu dikunci, atau pernah jadi bandar togel dan adu ayam, kita bisa langsung menyortirnya dari daftar pilihan. Namun jika sosoknya supel, atau hampir selalu ada ketika tetangga kesusahan, atau jarang absen saat dapat tugas ronda malam, kita pun pasti mantap memberikan suara untuknya saat pencoblosan tiba.

Pada pemilu yang lalu saya menggunakan cara ini. Saya pilih teman lama saya. Ia lucu, banyak akal, pernah jadi anggota band ecek-ecek yang manggungnya ketika Agustusan saja, serta beberapa kali ditolak cintanya seperti saya. 

Ia juga berpengalaman menjadi ketua RT—jabatan lillahi ta’ala yang lebih banyak repot dan tekornya. Pilihan saya makin bulat ketika melihatnya ikut memikul cangkul dan menggali kubur ketika tetangganya meninggal. Padahal saat itu wajahnya sudah terpampang di baliho pinggir jalan. Pada penghitungan suara, ia gagal menjadi wakil saya.

Kedua, perhatikan wajahnya.

Jean Haner, pakar baca wajah dan penulis buku The Wisdom of Your Face mengatakan, bentuk wajah dapat mengungkapkan kepribadian dasar dan pendekatan keseluruhan seseorang terhadap kehidupan. Dengan memperhatikan wajah, kita bisa menilai seseorang itu baik atau licik, welas atau culas, ramah atau pemarah. Contohnya seperti ini:

Suatu ketika kita datang di sebuah terminal dengan banyak orang yang tak kita kenal. Untuk memilih tempat duduk, tentu kita perlu melihat wajah-wajah mereka. Misalnya ada tiga bangku kosong, yang pertama di sebelah lelaki dengan mata tampak terus waspada dan mengawasi keadaan sekitarnya, kedua di samping wanita 65 tahunan yang beberapa kali terbatuk dan menyeka mulutnya dengan tisu, dan ketiga di sisi pria berbaju pink yang terlihat kemayu dan sesekali menggunakan HP-nya untuk berselfie, kira-kira Anda memilih duduk dekat siapa? Kalau saya jelas memilih dekat gadis mirip Luna Maya di belakang mereka bertiga. 

Memilih caleg pun bisa dilakukan dengan cara demikian. Jika kita tak pernah tahu atau malas mencari informasi tentang kiprahnya, kita bisa menentukan pilihan berdasarkan aura wajah. Jangan lupa, mintalah bantuan hati nurani untuk ikut menimbang. Hati nurani itu adil dan bersih. Ia tak mudah terpedaya. Termasuk wajah-wajah palsu yang dibungkus senyuman. 

Sepertinya, cara kedua ini juga nggak terlalu sulit kita lakukan.

Ketiga, jangan mudah termakan janji.

Anda pernah memberi hutang pada seseorang? Bagaimana janjinya ketika berhutang? Sanggup mengembalikan kapan? Karena kita—saya anggap saja—orang baik dan bukan debt collector, tentu kita segan menagihnya meski telah lewat batas waktu pelunasan. 

Kita lebih memilih geregetan di dalam hati saat ia tak segera membayar hutang, namun kerap memosting acara makan-makan dan plesiran. Hanya gara-gara hutang, kita khawatir hubungan dengan kawan renggang. Apalagi jika mendengar cerita tentang orang yang berhutang sering kali lebih galak daripada yang memberi hutang.

Janji memang mudah diucapkan, tetapi juga mudah dilalaikan. Saran saya, jangan pilih caleg karena janjinya, apalagi janji yang tidak masuk akal. Misalnya waktu kampanye di hadapan petani berjanji memperjuangkan harga jual panen yang tinggi, namun di hadapan warga berjanji untuk mati-matian memperjuangkan harga beras yang murah. Kan nggak masuk akal.

Kata sebuah meme, janji itu seperti balon: indah, warna-warni, bisa terbang tinggi, tapi nggak punya isi.

Keempat, jangan mudah memilih artis 

Pernahkah Anda mendengar cerita HIM Damsyik, pemeran Datuk Maringgih dalam sinetron Siti Nurbaya yang beken di era 90-an dipukul emak-emak? 

Kala itu, ketika Damsyik sedang jalan-jalan di sebuah pertokoan, seorang emak yang geregetan melihat perannya di TVRI tiba-tiba menampolnya sambil memaki-maki. Padahal Damsyik tak bersalah apa-apa. Ia hanya sial karena memerankan Datuk Maringgih yang kurang ajar dan tak tahu diri. Sudah tua, mentang-mentang, memanfaatkan kekayaannya untuk jadi rentenir, dan menjadikan anak gadis si penghutang sebagai jaminan. Gara-gara itu, si gadis yakni Siti Nurbaya, harus berpisah dengan Samsul Bahri kekasihnya. Akibat depresi, Samsul pun bunuh diri. 

Memang pantas jika Datuk Maringgih ditabok emak-emak. Masalahnya, mengapa tabokan itu justru harus dirasakan HIM Damsyik? Contoh tersebut menunjukkan kekurangmampuan sebagian masyarakat dalam membedakan yang nyata dan pura-pura. 

Jika ini masih terjadi, beruntunglah artis yang mendapat peran protagonis, misalnya pemeran Ibu yang teraniaya dalam sinetron Azab. Meski berkali-kali difitnah dan disakiti tetangganya, ia tetap sabar, ikhlas, dan memaafkan. Bahkan ketika si tetangga meninggal dan lubang makamnya menciut hingga siap menjepitnya, ibu itu justru mendoakan agar sang mayat tak menerima siksaan. Doa ibu didengar dan liang kubur kembali melebar.

Masyarakat yang tak mampu membedakan kenyataan dan akting peran pasti akan berempati dan memilihnya. Jika demikian, artis yang nyaleg ini seperti peribahasa sambil menyelam minum kopi, sudah dapat duit atas kerja artisnya, dapat simpati pula dari calon pemilihnya. Puwenaaaak.

Oleh sebab itu, kita harus sadar bahwa para pesohor itu sesungguhnya belum siapa-siapa. Ia baru bisa dikatakan hebat jika di luar dunia aktingnya juga aktif di kegiatan sosial atau peka terhadap masalah-masalah di lingkungan sekitarnya. Satu hal sederhana tapi utama, simaklah kehidupan pribadi atau keluarganya. Jika adem ayem dan tak tersentuh gosip miring, bolehlah Anda menjatuhkan pilihan padanya.

Demikian 4 kriteria memilih wakil rakyat versi saya. Tentu Anda masih bisamenambahkan kriteria-kriteria lainnya. Saya tidak marah jika tips ini Anda abaikan. Saya juga tetap menghargai jika Anda lebih memilih manut dan taklid buta pada perintah guru atau ulama-ulama Anda. Saya pun tak bakal nggondok jika Anda dengan sudut bibir terangkat bertanya balik pada saya, “Hmmm, wakil rakyat. Rakyat yang mana?”