Sabtu (25/11) pagi itu, cuaca amat cerah. Sedikit berbanding terbalik dengan cuaca beberapa hari belakangan yang terus mendung bahkan disertai hujan yang deras. Cuaca ini memberi angin segar bagi segerombolan anak muda yang tergabung dalam Traveling and Teaching 11  (TnT) 1000 guru Semarang. SD Negeri Wotgalih 03 menjadi lokasi kegiatan TnT kali ini.

Akses menuju sekolah yang memprihatinkan, mulai dari jalanan yang curam hingga berlumpur, terutama di musim hujan menjadi tantangan tersendiri bagi para tim TnT kemarin. Kehadiran VES Community menjadi sangat vital dalam proses perjalanan menuju sekolah dan saat meninggalkan sekolah.

Kegiatan yang berlangsung pada 24-26 November 2017 itu menghimpun puluhan anak muda yang datang dari beragam latar belakang dan beragam kota. Semuanya punya alasan masing-masing mengapa mengikuti kegiatan ini. Ada yang mengikuti guna mengobati rindunya, ada yang penasaran dengan isi kegiatan ini, hingga ada yang ingin mengisi akhir pekannya. Namun, semua pulang dengan perasaan yang sama, yakni kegembiraan.

Pulau Jawa kerap kali dipandang sebagai daerah yang maju ketimbang daerah lain. Namun, siapa sangka di balik gemerlap kota dan kemajuan di berbagai bidang sejatinya ada satu bidang yang menyimpan kisah pilunya sendiri. Pendidikan di pulau Jawa sesungguhnya masih bermasalah. 

Pernyataan di atas rasanya cukup beralasan, terutama berangkat dari pengalaman selama kegiatan TnT kemarin. Bagaimana tidak, akses menuju sekolah yang memprihatinkan yang harus dilalui para guru nyatanya telah menjadi tantangan sehari-hari bagi para tenaga pengajar di sana. 

Sebuah usaha dan dedikasi yang saya rasa pantas mendapat ganjaran dari para pemangku kepentingan di pemerintahan daerah maupun pusat. Masalah tak berhenti di situ, sesampainya di sekolah pada malam hari kami dihadapkan pada sebuah gedung sekolah yang tampak bagus. Sekolah ini baru saja direnovasi, begitu keterangan yang saya dapatkan dari tim survey 1000 Guru Semarang. Sayangnya, jumlah ruang kelas justru tidak mencukupi. 

Beberapa kelas harus berbagi ruangan dan tidak ada sekat sama sekali yang memisahkan antar kelas. Bisa dibayangkan bagaimana situasi belajar mengajar yang dihadapi oleh anak-anak ini setiap harinya, bukan?

Kurang lebih ada 34 anak yang belajar di sekolah ini. Mereka semua tinggal di sekitar SDN Wotgalih 03. Jumlah anak tiap kelasnya berkisar 3-5 siswa/i, jumlah yang terbilang sedikit untuk satu angkatan. Hal ini rupanya tak menghambat anak-anak ini untuk tetap datang ke sekolah dan menimba ilmu. Bahkan mereka nampak sigap tatkala menjalankan peran sebagai petugas upacara.

Seusai upacara bendera yang sekaligus memperingati Hari Guru, dimulailah kegiatan teaching oleh para volunteer  1000 Guru Semarang. Beberapa kelas harus mengalah untuk belajar di halaman sekolah agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan lebih kondusif. 1000 Guru Semarang mengangkat tema kepahlawanan sebagai bahan ajar dalam kegiatan ini. Para volunteer pun diberi kebebasan mengemas isi kegiatan mengajar kali ini.  

Ada satu permasalahan mendasar yang dijumpai hampir oleh semua volunteer. Adik-adik di SDN Wotgalih 03 rupanya belum familiar dengan Presiden dan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia.

Malu-malu, bisik-bisik, saling tunjuk mewarnai kegiatan pagi itu. Sebuah sifat khas anak-anak yang selalu menjadi tantangan tersendiri bagi para volunteer tiap berdinamika dengan anak-anak. Beruntunglah kegiatan 1000 Guru selalu menjadi sebuah kegiatan yang menggembirakan tidak hanya bagi anak-anak, namun juga bagi semua orang yang terlibat dalam 1000 Guru.

Para volunteer diharapkan mampu menciptakan kegiatan belajar yang menyenangkan sebagai penghibur bagi anak-anak. Karena lewat proses belajar yang menyenangkan akan didapat semangat belajar yang sesungguhnya.

Anak-anak dan impian merupakan suatu hal penting yang terus digelorakan oleh 1000 Guru. Anak-anak diajak untuk berani bermimpi dan terus menghidupi mimpinya lewat pendidikan.

Disediakanlah sebuah pohon impian, anak-anak menuliskan mimpi dan cita-cita mereka pada sebuah kertas berbentuk daun yang kemudian ditempelkan pada pohon impian. Pohon ini sebagai pengingat bagi mereka bahwa setiap mereka punya mimpi, punya sebuah tujuan yang akan mereka gapai kelak. 

Tidak ada mimpi yang terlalu kecil, tidak ada mimpi yang pantas ditertawakan. Sejatinya mimpi anak-anak adalah mimpi yang paling mulia.

Selepas semua kegiatan mengajar, diadakan kegiatan donasi. Setiap anak mendapat tas baru beserta perlengkapan tulis dan botol air minum. Bukan perkara materi yang menjadi sorotan di sini. Kehadiran donasi sejatinya diharapkan mampu memberi motivasi lebih bagi anak-anak untuk terus menghidupi mimpinya dengan tetap datang ke sekolah.

Seusai semua kegiatan, para volunteer meneruskan perjalanan menuju tempat wisata Guci. Hari terakhir kegiatan disi dengan banyak hal, mulai dari pentas seni hingga sesi sharing dan evaluasi. Semuanya bahagia mengingat tawa dan canda selama berada di SDN Wotgalih 03 namun perasaan sedih pun tak dapat ditutupi melihat kondisi akses maupun sekolah di sana. 

Semua yang datang mengikuti kegiatan dengan berbagai alasan pada akhirnya tumbuh dengan perasaan yang sama, yakni kerinduan. Kerinduan untuk kembali dan melakukan sesuatu yang lebih, tidak hanya untuk SDN Wotgalih 03 namun juga untuk sekolah-sekolah lain.

Kegiatan TnT 1000 Guru senantiasa melibatkan anak muda untuk tidak hanya mengenali diri, mengendalikan diri, namun juga mengajak setiap orang untuk mampu memberi dirinya bagi orang lain. Rasa-rasanya tindakan memberi diri merupakan wujud pengorbanan yang paling agung yang dapat dilakukan setiap orang. Tinggal bagaimana kita berani memulainya atau tidak. 

Bukan tidak mungkin, anak-anak yang mengalami setiap manfaat program TnT juga akan tumbuh dengan perasaan yang sama; saya pernah merasakan indahnya berbagi, maka saya juga akan melakukan hal yang sama.

1000 Guru Semarang, "Sudah Move on kah kamu?"