index_27.jpg
Hasil gambar untuk batik jogja BATIK JOGJA, MAKNA DIBALIK MOTIF doddyrizqi.blogspot.com
Wisata · 6 menit baca

Yogya dan Batik

Semakin kemari, semakin tak terpisahkan kata Yogya (baca= Yogyakarta) dan batik, semacam dua mata uang, dimana yang satu sisi tak berarti jika tak ada sisi lainnya. Rasanya, hampir semua orang yang pernah berkunjung ke Yogya pasti membawa buah tangan berupa batik. Nampaknya, lirik lagu Slank yang “kota batik Pekalongan bukan Yogya” perlu di balik pelafalannya.

Sejarah Batik Budaya Asli Indonesia ini berasal dari budaya Jawa yang saat itu digunakan untuk pakaian para penghuni keraton khususnya Raja. Pertama kali batik ditemukan memang di Yogya hingga akhirnya menyebar ke daerah Jawa Tengah. Batik berasal dari bahasa Jawa yaitu amba dan titik.

Amba berarti menulis dan titik terknik pewarnaan malam yang menggunakan malam dengan cara di titik – titik. Menurut cerita sejarah keberadaan batik sudah dikenal pada abad ke 17 dan pada saat itu batik mulai dikembangkan lebih luas. Pada abad ke 17 nenek moyang membatik pada daun lontar dengan corak berupa simbol tanaman dan binatang.

Mari kita gali sedikit informasi singkat tentang Batik Jogja di bawah ini :

1) Motif Batik Kawung.

Motif Batik Kawung merupakan motif batik tulis dengan zat pewarna dari Napthol dan lebih banyak digunakan sebagai kain panjang. Makna filosofi dalam batik motif ini adalah sebagai lambang keperkasaan dan keadilan. Motif Batik Kawung pada umumnya berpola bulatan mirip buah kawung (yaitu sejenis kelapa atau kadang-kadang juga dianggap sebagai buah kolang-kaling) yang ditata rapi secara geometris.

Pada beberapa pengrajin kain batik Nusantara, motif jenis ini lebih benyak digambarkan sebagai lukisan bunga Seroja atau Lotus (Teratai) dengan empat lembar daun bunga yang sedang merekah. Bunga seroja atau lotus adalah bunga yang melambangkan umur panjang dan kesucian.

Biasanya motif-motif Kawung diberi nama berdasarkan besar-kecilnya bentuk buah, ada yang bulat-lonjong yang terdapat dalam suatu motif kain tertentu. Misalnya: Kawung Picis adalah motif Bati Kawung yang tersusun oleh bentuk bulatan-bulatan yang kecil. Sedangkan Picis adalah nilai mata uang yang memiliki bentuk-bentuk kecil dan unik.

Sedangkan Kawung Bribil adalah motif-motif Batik Kawung yang tersusun rapi oleh bentuk yang lebih besar daripada kawung Picis. Hal ini dikreasikan sesuai dengan namanya yaitu Bribil yang memakai mata uang berbentuk lebih besar daripada picis dan bernilai setengah sen. Sedangkan Kawung Sen adalah motif batik berbentuk bulat lonjong lebih besar daripada Kawung Bribil.

2) Motif Parang Kusumo.

Motif Batik Parang Kusumo adalah salah satu jenis motif dengan mengaplikasikan zat pewarna Napthol dan digunakan sebagai kain adat saat ada acara tukar cincin.

Dalam motif Parang Kusumo terkandung suatu makna bahwa sebuah  kehidupan harus dilandasi dengan perjuangan dan usaha yang nyata dalam mencapai keharuman lahir dan batin. Hal ini bisa dilambangkan dengan harumnya sekuntum bunga Kusuma di taman rumah anda.

Dalam falsafat pulau Jawa, suatu keberhasilan kehidupan dalam masyarakat dicerminkan dari keharuman pribadi masing-masing dalam menjalaninya setiap hari tanpa harus meninggalkan norma-norma dan nilai yang telah berlaku sejak nenek moyang mereka jaman dahulu.

Tentu saja usaha tersebut di atas adalah sesuatu hal yang sulit untuk direalisasikan tetapi pada umumnya orang Jawa berharap dapat menempuh suatu kehidupan yang sempurna lahir dan batin serta diperoleh atas jerih payah dari menerapkan pola tingkah laku dan pribadi-pribadi yang baik.

Motif Batik Parang Kusumo mempunyai makna bahwa hidup harus dilandasi dengan sebuah perjuangan untuk mencari kebahagiaan lahir dan batin. Seperti dijelaskan di atas bahwa ibarat keharuman sekuntum bunga Kusuma. Contoh yang nyata bagi orang Jawa asli adalah hidup dalam bermasyarakat haruslah menebarkan keharuman (kebaikan) pribadinya tanpa melupakan norma-norma yang berlaku dan sopan-santun agar dapat terhindar dari bencana lahir dan batin.

3) Motif Batik Truntum.

Motif  Batik Truntum adalah motif batik tulis dengan zat pewarna: Soga Alam dan digunakan saat ada upacara pernikahan berlatar belakang suku Jawa di kota Jogja, jadi lebih menonjolkan sisi nilai seni dari daerah dimana acara pernikahan tersebut digelar.

Motif batik Truntum merupakan sebuah simbol cinta yang tulus tanpa syarat antara sepasang pengantin baru dan mereka yang sedang menjalani masa-masa berpasangan. Biasanya disertai sebuah harapan bahwa hubungan tersebut akan kekal abadi, dimana semakin lama akan terasa semakin subur berkembang (tumaruntum).

Karena maknanya tersebut,  truntum pada umumnya dipakai oleh orang tua pengantin pada hari utama pernikahan mereka. Harapannya adalah agar cinta kasih yang tumaruntum ini akan selalu menghinggapi kedua mempelai.  Kadang  dimaknai  pula  bahwa  orang tua berkewajiban untuk “ menuntun” kedua mempelai untuk memasuki kehidupan baru disertai doa restu.

4) Motif Batik Tambal.

Motif Batik Tambal adalah motif kain batik tulis dengan memakai zat pewarna Soga Alam. Unsur motif yang digunakan adalah ceplok, parang, meru, dll. dengan lebih banyak menonjolkan ciri khas kerokan. Lebih banyak dimanfaatkan sebagai kain Panjang, makna filosofi dalam motif kain ini adalah adanya kepercayaan bila orang sakit mengenakan kain ini sebagai  selimut ketika mereka tidur pada waktu malam hari, sakit yang sedang diderita oleh orang tersebut akan cepat sembuh oleh kehangatan yang disumbangkan dari kain batik ini karena tambal di sini memiliki arti menutup atau menambal sehingga diharapkan terbentuk sebuah semangat baru.

5) Motif Batik Pamiluto.

Motif kain batik Pamiluto menggunakan zat pewarna berupa Soga Alam yang sering digunakan sebagai kain Panjang saat menggelar acara pertunangan bagi masyarakat asli kota Jogja dengan berlatar belakang budaya Jawa yang sangat kental. Unsur motif yang terkandung di dalamnya adalah Prang, Ceplok, Truntum dan yang lainnya. Sementara filosofi dalam kain batik ini adalah Pamiluto berasal dari kata Pulut yang berarti perekat, dalam bahasa Jawa diartikan Kepulut/ tertarik.

Disamping anda mengenal 5 motif kain batik khas kota Jogja seperti tersebut di atas, kota Yogyakarta juga mempunyai banyak motif lainnya yang dapat menjadi ide lahirnya batik-batik kontemporer saat ini.

Batik sebagai karya tradisional Indonesia sudah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Yogya. Selain karena memiliki nilai seni yang tinggi dan sejarah yang tidak ternilai, batik mampu memberikan penghidupan yang layak bagi masyarakat kota Gudeg tersebut.

Kini, batik Yogya telah mendunia. Hampir di setiap tempat kita menjumpai orang-orang yang mengenakan batik Yogya dengan berbagai motif, bentuk, atau mode. Seiring kemajuan zaman, batik telah menjadi komoditi yang menggiurkan.

Seiring perkembangan zaman dan semakin nendunianya batik, motif batik Yogya juga mengalami perkembangan dari sisi variasi corak maupun warnanya. dari batik klasik yang sarat dengan makna filosofi ke arah batik modern/ kontemporer yang lebih kaya warna.

Pada 2 Oktober 2014 di Tiongkok, World Craft Council (WCC) menetapkan Yogya sebagai Kota Batik Dunia. Namun belum banyak warganya maupun warga Indonesia secara umum yang mengetahui hal itu. Penobatan Yogya sebagai Kota Batik karena Yogya dianggap memiliki batik yang khas dan mampu mengembangkannya untuk perkonomian masyarakat.

Pada tahun 2015 saja sudah terdapat ratusan industri batik yang tersebar di seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogya dengan berbagai skala, mulai dari kecil, menengah hingga besar, dengan mendapat predikat kota batik dunia, diharapkan para pegiat industri batik kita semakin bersemangat.

Dengan dinobatkannya Yogya sebagai kota batik dunia oleh WCC, diharapkan masyarakat kita lebih dapat mencintai kreasi produk negeri sendiri, dan karya batik Yogya dapat lebih dikenal oleh masyarakat dunia.

Namun perlu diingat, selama empat tahun sejak dinobatkan, Yogya akan dipantau eksistensinya oleh WCC dalam batik sehubungan dengan predikat yang diberikannya. Gelar Yogya sebagai kota Batik Dunia yang diberikan oleh WCC, dapat dicabut dan dialihkan ke daerah lain.

Hal itu jika dalam waktu empat tahun setelah penetapan, ternyata tidak ada dampak positif ke semua pihak. Kalau gelar tersebut tidak dijaga dan dimanfaatkan, akan dicabut lagi serta diberikan ke kota lain. Dampak positif tersebut terutama pada perajin dan tujuh kriteria yang didasarkan sebagai penetapan kota batik. Tujuh kriteria itu antara lain nilai sejarah atau historisnya, originalitas, batik yang non kimia dan ramah lingkungan, mentrasfer kepada generasi penerus, budaya, konsistensi nilai dan ekonomi para perajin batik.

Maka perlu semua fihak untuk menjaga dengan melibatkan semua instansi dan masyarakat agar mempertahankan keaslian batik Yogya. Jadi, bagi kamu yang menyukai batik, tidak ada salahnya memakai batik Yogya. Bukan hanya karena karya batik Yogya yang sudah terkenal, atau karena Yogya telah dinobatkan sebagai kota batik dunia. Tetapi kamu harus lebih aware dengan produk dalam negeri karena orang luar pun mengakui budaya batik Yogya, masa kita gak?