julian_assange_august_2014.jpg
Gambar: wikimedia.org
Media · 3 menit baca

Wikileaks dan Idealisme Sunyi Seorang Julian Assange


Wikileaks adalah kisah tentang bagaimana mewujudkan sebuah idealisme. Bagi sebagian kalangan, idealisme hanyalah mimpi orang-orang naif yang tidak bisa menerima kenyataan. Namun siapa sangka, betapapun sulit dipercaya, dalam kesendirian idealismenya, seorang Julian Assange berhasil membangun organisasi nirlaba raksasa lintas teritori berbasis teknologi digital.

Saat ini, Wikileaks dikenal sebagai organisasi kontroversial. Di satu sisi, Wikileaks dikecam karena kerap membocorkan dokumen-dokumen penting yang bersifat sangat rahasia. Sasaran Wikileaks bukan hanya instititusi-institusi negara, tetapi juga institusi-institusi swasta yang mengelola dana publik. Di sisi lain, Wikileaks dikagumi karena kredibilitas dan konsistensinya dalam membongkar konspirasi-konspirasi koruptif yang kerap berlindung di balik istilah "rahasia negara" atau "rahasia perusahaan". 

Aktivitas Wikileaks yang kontroversial ini berpijak pada rumusan visi Assange yang bekerja dalam dua ranah, publik dan privat: Dalam ranah publik, Assange berpendirian bahwa setiap institusi publik harus transparan--"Sebening kaca", dalam istilah Assange. Tidak ada yang boleh ditutupi dari mata publik, karena kerahasiaan adalah ruang nyaman bagi para pelaku korupsi. 

Menurut Assange, transparansi adalah kondisi yang niscaya agar akuntabilitas publik terwujud. Institusi-institusi pengelola dana publik, negara maupun swasta, adalah lembaga-lembaga yang (seharusnya) bekerja semata-mata untuk kepentingan publik dan karena itu harus mempertanggungjawabkan seluruh aktivitasnya pada publik.

Yang menarik, istilah "publik" dalam wawasan Assange adalah masyarakat global, bukan semata-mata warga dari suatu negara.Teknologi telah menciptakan dunia tanpa batasan. Berbagai bentuk konspirasi jahat, seperti dapat dilihat dalam banyak kasus yang diungkap Wikeleaks, juga kerap melibatkan aktor-aktor global dan memiliki dampak terhadap publik dalam skala global.   

Berkebalikan dari sikapnya dalam ranah publik, dalam ranah privat, Assange membela mati-matian privasi individu. Tidak boleh ada institusi pemerintah atau swasta yang masuk ke wilayah individu, apalagi memata-matainya. Privasi, bagi Assange, ibarat sebuah topeng yang melindungi setiap individu dari pihak-pihak eksternal yang mengancam kebebasannya.

Lebih jauh, menurut Assange, privasi individu juga berfungsi sebagai instrumen penting dalam upaya Wikileaks mewujudkan dunia sebening kaca. "Berikanlah seseorang sebuah topeng", kata Assange, "maka dia akan berkata dengan jujur". Visi ini menjadi dasar bagi Assange untuk membuat teknologi keamanan super-canggih untuk melindungi para informan Wikileaks yang membongkar konspirasi-konspirasi koruptif.

Sudah banyak diketahui sepak terjang Wikileaks dalam membongkar berbagai mega-skandal yang kerap melibatkan organisasi-organisasi dan tokoh-tokoh penting dunia. Selain menyasar institusi-institusi publik, misalnya dalam kasus pembocoran dokumen CIA oleh Snowden dan dokumen-dokumen tim kampanye Hillary Clinton dalam Pilpres AS 2016,  Wikileaks juga menyasar institusi swasta pengelola dana publik. Salah satunya adalah lembaga perbankan di Swiss, yang banyak mengelola dana hasil korupsi, perdagangan narkoba, dan kejahatan kerah putih skala global.

Tapi di luar capaian itu, ada beberapa hal yang paling menarik perhatian saya terkait aktivitas Wikileaks, terutama dalam kaitannya dengan idealisme Assange.

Saat ini Wikileaks memang adalah organisasi raksasa dengan ratusan staf tersebar di berbagai negara. Tapi awalnya, Assange memulainya sendirian. Sendirian dalam artian harfiyah, bukan metafor.

Assange menciptakan ratusan akun dengan beragam nama untuk mengesankan ia didukung infrastruktur organisasi yang kuat. Padahal dalam praktek ia bekerja sendirian. Mengembangkan website Wikileaks sendirian, mencari informasi sendirian, mengupload & me-manage konten sendirian---setidaknya sampai kurun waktu tertentu sebelum Assange bertemu mitra pertamanya, Daniel Schmidt.

Hal lain yang juga menarik ialah keyakinan Assange tentang kekuatan voluntarisme sosial. Wikileaks hidup dari donasi, pekerja-pekerjanya adalah sukarelawan tak bergaji, bekerja semata-semata demi idealisme, termasuk Assange. Setidaknya sebelum Wikileaks berkembang seperti sekarang.

Tidak mudah membangun jaringan voluntarisme, apalagi pada skala global. Tidak banyak orang mau bekerja tanpa dibayar. Tidak banyak juga orang percaya pada kekuatan gagasan. Dan lebih sedikit lagi orang yang tetap setia pada sebuah visi tanpa berpaling karena tawaran uang.

Mungkin itu alasan kenapa awalnya Assange melakukan banyak hal sendirian. Ia harus memvoluntirkan diri sebelum meyakinkan orang lain untuk bervoluntarisme untuk sebuah gagasan. Ia harus sangat yakin bahwa orang-orang yang akan menjadi timnya adalah loyalis gagasan.

Pada akhirnya, sebagai penutup, bagi siapapun yang sedang berjuang dalam kesendirian, ingatlah Assange. Hal-hal besar berawal dari ketulusan dan konsistensi dalam memperjuangkan sebuah idealisme, bahkan ketika itu semua harus Anda lakukan sendirian.