ahmad_wahib.jpg
Foto: Wikipedia
Media · 8 menit baca

Wahib dan Catatan Akhir Tahun 2016

Tulisan ini mungkin akan sangat mendapatkan kritik dari banyak pihak. Tetapi karena kembali membaca Ahmad Wahib belakangan ini, saya pikir, tak apalah kegelisahan ini saya bagikan. Ahmad Wahib dan Gie juga melakukan hal yang sama. Ini bisa menjadi catatan harian yang harus kembali dipopulerkan dan dibagikan. Siapa tahu bisa jadi refleksi bersama.

Saya mencatat beberapa hal di diary saya yang tidak saya bagikan di media sosial, apa lagi diomongkan di grup WhatsApp, duh, berisik! Lagi pula pemikiran liar saya terlalu riskan, tetapi saya mencoba mengurainya di sini.

Sejak kecil, saya gemar memerhatikan segala sesuatu, menanyakan segala sesuatu. Ketika mencuatnya kasus Ahok dan penistaan agama, saya suka memendam emosi sendiri setiap membuka layar Facebook saya. Isinya orang perang agama, dukung Ahok atau kontra-Ahok. Satu lagi, golongan sekuler yang menjadikan agama guyonan.

Padahal menurut saya, tidak ada yang hebat dari si Ahok itu setelah saya 8 bulan bertengger di Balai Kota sebagai wartawati. Dia tidak spesial. Dan jujur saja, saya percaya bahwa masih ada orang lain yang lebih hebat dari dia di luar sana kalau ada kesempatan.

Kalau kamu pernah belajar Matematika, kamu tentu tahu, ada bulatan besar, lalu ada irisan. Saya pun memakai analogi itu untuk menggambarkan pesebaran teman-teman saya di Facebook. Ada yang Katolik, Kristen, Islam, Sekuler, dan Liberal. Plus yang mengaku tidak beragama. Ada yang Islam tapi sekuler, tapi liberal. Ada yang Katolik tapi cuma di KTP.

Saya menempatkan diri saya dalam himpunan Katolik yang punya teman Islam Liberal, Islam Fanatik, Hindu, Buddha, Khonghucu, bahkan Sekuler, dan bahkan Ateis. Saya orang yang senang berteman dengan siapa pun karena sangat ingin menciptakan perdamaian dengan persahabatan itu.

Ketika kita belajar komunikasi, kita harus tahu lawan bicara itu memiliki latar belakang seperti apa. Dengan demikian, kita bisa menebak bagaimana respons dia terhadap lingkungannya. Maka, ketika kasus penistaan agama mencuat, saya melihat sangat banyak orang memberikan status yang panas, lucu, nyeleneh, nyindir, tetapi juga logis.

Ada yang berpendapat, Ahok harus dihukum karena menistakan agama. Lalu ada juga beberapa teman Facebook saya yang pro-Ahok dan bahkan memuat (posting) segala macam rupa meme menghina kubu kontra-Ahok.

Ada juga kawan saya pro-Ahok dan mengatakan Ahok seperti nabi, seperti Yesus (ini yang sampai hari ini gue gak habis pikir) lalu memuat segala macam ayat agama Kristen yang menurut saya kurang bijaksana. Begitupun sebaliknya dari pihak kontra yang tak tanggung-tanggung menebar keinginan untuk memberantas Ahok dan kafir lainnya.

Kadang saya berpikir, kok orang-orang ini dengan berbagai latar belakang ini bisa ya membuat sebuah pernyataan dengan gampangnya? Belum lagi beberapa teman saya yang sesama muslim menghina sesama muslim yang mempermasalahan penistaan agama. Kok, berani-berani ya mereka?

Saya pun kembali menengok diagram himpunan pergaulan di Facebook. Wah, teman-teman saya ini mungkin mainnya kurang jauh kali ya. Mereka dengan gampangnya bisa menghina, mengejek, mengkritik pendemo, atau yang berbeda dari mereka karena mungkin lingkaran pertemanan mereka kaum Nasrani semua atau sesama sekuler semua atau sesama Islam Liberal. Jadi status-status begitu yang bakalan dapat likes tuh banyak banget.

Begitu pula teman-teman yang kontra-Ahok dan mendukung penistaan agama harus diselesaikan secara hukum. Mereka juga mainnya kurang jauh, kadang terlalu berani memberikan status keras seolah-olah tidak ada kawan Kristen dan Chinese lain yang membaca omongan viral mereka.

Kadang saya berpikir, orang memasang status, pernah berpikir dampaknya secara psikis ke pembaca gak sih?

Nah, sementara gue? Seperti yang saya sebutkan di atas, pertemanan saya seperti lingkaran yang banyak irisannya. Itu membuat saya lebih memilih mengamati fenomena, melihat dalam diam kicauan lini masa ketimbang berkomentar. Sebagai anak komunikasi, hasil yang ada adalah sulit berkomunikasi.

Saya tidak ingin menyinggung siapa pun. Seorang komunikator tidak pernah bertanggung jawab atas persepsi yang dihasilkan kepada si penerima pesan. Maksudnya begini, eh, jadinya begitu.

Saya sempat offline dari Facebook pada November lalu, sampai sahabat saya bingung. Saya bilang, saya lelah dengan digitalisasi penebaran kebencian. Tidak ada yang cukup baik dan waras.

Bapak saya sering berkata, “Jangan pernah utak-atik kepercayaan orang.” Itulah yang menjadi pegangan saya, dengan harapan, tak perlu lagi ada orang yang mengutak-atik kepercayaan saya.

Sejak kecil, saya sering bertanya kepada Ibu saya, “Ma, kenapa gereja dibom? Mengapa kita ke gereja harus dijaga polisi?” Mama saya menjawab banyak hal, tetapi intinya saya tahu, saya minoritas. Harus jaga sikap.

Suatu kali saya sempat gerah. Saya mengkritik sesama umat Kristiani yang selalu memuat soal ayat agama untuk membela Ahok. Ayat Alkitab-lah, inilah, itulah. Saya ingat yang likes saat itu banyak sekali. Beberapa sepakat, ada baiknya tidak membawa urusan agama. Itu arena own business, private sector.

Kritik itu ternyata membuat salah seorang teman kantor saya (Kristiani) tersinggung. Menurut dia, orang Kristen tetap berhak untuk mendoakan Ahok. Saya pikir, oke, uji coba saya berhasil. Ternyata kawan sekantor saya, seorang Kristiani. Dia tersinggung.

Saya membaca lagi soal sekularisasi menurut sudut pandang Wahib. Entah mengapa, saya rasa, dia cukup waras menjadi teman diskusi saya. Membaca Wahib membuat otak saya bercabang banyak kesimpulan. Saya jadi bimbang, apakah sikap minoritas untuk diam saja harus terus berlanjut?

Yang terjadi sekarang ‘kan tidak begitu, bahkan ada gerakan kebhinnekaan yang membuat saya sampai bingung lagi, yang masih kurang jelas dari kebangsaan Indonesia itu apa sih? Berarti dalam masalah seperti ini kita harus diam saja atau harus gimana? Di saat saya bisa mengajak orang untuk berpikir, tetapi saya memilih diam, bukankah saya ikut melanggengkan kejahatan?

Sekularisasi itu sudah saya pahami berbeda dengan sekularisme. Saya berada dalam posisi tidak mendukung sekularisme. Tetapi sekularisasi adalah sebuah pemanusiaan atas keyakinan. Secara singkat, sekularisasi adalah terhapusnya campur tangan “agama” (sebagai fenomena sosial atau das sein) dalam pemecahan langsung masalah-masalah sosial.

Saya punya sahabat seorang muslim yang saya kategorikan dalam himpunan Islam Fanatik. Bukan Liberal, dia antiliberal. Saya menerima banyak penjelasan tentang alasan dia tidak suka liberalisme. Entah dia juga paham atau tidak perbedaan sekularisme dengan sekularisasi.

Lalu, Ahok ini masalah sosial bukan? Saya jadi serius mempertanyakan konteks ini loh.

Masalah sosial itu justru terjadi pascakasus Ahok. Pengeboman gereja yang menewaskan seorang anak, rencana pengeboman dari Bekasi, dan masih banyak rumor lain. Kita mencoba melawan argumen itu dengan kerja sama antarumat beragama lewat jargon toleransi. Apa sih toleransi itu? Saya sungguh mempertanyakan kembali makna kata yang satu itu.

Omong-omong tentang masalah sekularisasi, saat yang sama, kawan saya (seorang muslim) mengirimkan foto dari instagram. Gambar Habib di uang Rp50.000. Spontan saya mengakak. Saya tercekat ketika di grup kawan saya yang lain (seorang muslim juga) malah menuliskan “Takbir” dengan kata “Take beer”. Saya pikir, wah, parah, tapi lucu gambarnya.

Saya pun iseng karena kembali ingin uji coba, kalau bercandaan kayak begini, “Take beer”, saya masukkan ke Facebook, responsnya seperti apa ya? Sekalian, saya mau menyusun ulang himpunan pergaulan saya di Facebook.

Ternyata benar saja, saya langsung mendapat kritikan tak tanggung-tanggung dari mantan dosen-dosen saya di kampus, dan seorang kawan wartawan. Well, uji coba saya berhasil. Analisis saya soal pertemanan saya yang begitu plural ini ternyata benar, masih ada yang tersinggung. Dia merasa kalimat “Take beer” tidak tepat, loh. Jangankan Anda, saya sendiri merasa demikian sebagai Katolik. Makanya, saya mau survei langsung di media sosial.

Lucunya, saya mencatat juga siapa saja yang merespons meme si Habib dan caption “Take beer”. Beberapa teman bahkan memasang emoticon laugh. See? Di balik keseriusan orang pada agama, orang agama lain gak memusingkan itu. Sense untuk respeknya gak ada.

Mungkin itu yang terjadi sebaliknya kalau gambar Yesus diutak-atik atau gambar Maria diutak-atik ditulis “pelacur” dan lain-lain. (Pernah ada loh kasus itu, tapi siapa marah Bunda Maria dihina?) Makanya, saya pikir, paling lucu orang yang memilih jadi Ateis begitulah. Semua agama bisa mereka utak-atik seenak udelnya. Hahahaha. Urusanmu ndewe juga kalau kiamat gimana, tuh? Hahahaha.

Saya pun berkesimpulan, yang pecah pada pemahaman agama itu sesama Islam atau bagaimana atau memang semua agama perlu disekularisasi biar pemaknaannya lebih duniawi ketimbang harfiah? Karena nyatanya yang mengatakan “Take beer” teman saya loh. Bukan saya. Sungguh amit-amit kalau saya kena kasus penistaan agama juga kayak si Ahok itu. Hahahaha. Saya malah jadi tertawa sendiri.

Mau tak mau, saya harus mengacungkan jempol atas prinsip ayah saya, “Jangan pernah utak-atik kepercayaan orang.” Bapak saya orang yang sejak kecil selalu berkata, “Agama adalah urusan saya dan Tuhan. Kamu tidak bisa memonopoli hak Tuhan atas diri saya, begitupun saya tidak bisa mengambil hak Tuhan.”

Buat saya, masalah keyakinan orang jangan pernah kamu gugat. Mungkin kayak kata Gus Dur yang mengutip ayat Alquran, “Agamamu ya agamamu, agamaku ya agamaku.”

Ayah saya mewariskan banyak buku di rumah. Berbagai jenis buku politik dan agama. Islam dari yang Liberal sampai yang paling Fanatik sekalipun. Dia berteman dengan orang-orang yang liberal sampai yang paling keras. Saya harus berterima kasih karena saya tidak perlu uji coba lagi, ayah saya benar.

Panasnya Indonesia itu sama panasnya dengan kondisi dunia. Kekerasan yang daya baca di Suriah juga bikin saya ketar-ketir, apakah akan ada imbasnya ke Indonesia? Bisa jadi, kalau kita tak mawas diri. Apa lagi, banyak argumen bahwa perang di Timur Tengah harus tetap dikondisikan perang agar harga minyak kembali stabil.

Batu bara kembali melonjak. Semata-mata ini masalah kapitalisme yang setengah hidup dan mencari nafasnya. Ya, namanya juga rumor, entah benar atau tidak, tetapi ada baiknya dicerna sebagai tabungan membaca pola-pola dinamika di dunia. Let's try to act locally, think globally, bukan sebaliknya.

Well, bergaul dengan semua orang berbagai jenis membuat saya masih harus terus mencari bentuk diri sendiri. Seperti kata Wahib, dia bukan Komunis, Liberal, Nasrani. Dia me-Wahib. Aku juga ingin meng-Gloria-kan diriku sendiri.

Tegangan-tegangan dengan menjadi wartawan itu terus meningkat setiap hari. Ini bisa jadi pelumas untuk membentuk diri menjadi pribadi yang humanis. Tiada henti saya pikir, hidup saya tidak bisa disamakan dengan kehidupan orang lain. Begitu juga kehidupan kamu. Jadi mari kita jalani kehidupan dengan banyak berefleksi.

Sebentar lagi saya akan meninggalkan Jakarta dengan tenang. Beberapa hari saya akan menghirup udara lain. Natal sebentar lagi, dan semoga damai di bumi itu menjadi nyata.