Ketik untuk memulai pencarian

Wahai Imamku, Percepatlah Salat Tarawihmu!

Wahai Imamku, Percepatlah Salat Tarawihmu!

anak sholat. google image

Dalam menjalani ritus khas bulan Ramadan, sudah menjadi tradisi di musala kami, yaitu merotasi pergantian imam tarawih seminggu sekali. Minggu pertama, biasanya Imam yang masih baru dan segar. Dan minggu selanjutnya imam-imam veteran. Namanya juga masih baru, butuh yang namanya adaptasi dan hampir pasti ada suatu insiden dalam masa itu.

Mulai dari kelupaan saat membaca surat Alquran, kelupaan menghitung jumlah rakaat, sampai menyalahi aturan non-formal musala; kelamaan. Ndilalah, imam tarawih kami yang baru ini merupakan kriteria imam yang terakhir. Imamnya ganteng sih, tapi ritme salat tarawihnya agak lama dari imam biasanya.

Jadi ceritanya begini. Setelah menjalani beberapa rakaat salat, beberapa makmum sudah terlihat lunglai dan kurang semangat. Begitupun aku. Sangat sulit menengahi duel di dalam hati antara tidak sabar dengan tetap menjaga kekhusyukan salat.

Follow Qureta Now!

Tidak sabar karena salatnya agak lama, karena bilangan salat tarawih kui buanyak buaanget, Cak!. Dan berusaha khusyuk karena sedang menghadap kepada Tuhan. “Modyarr! ini kalau tidak ada yang mengingatkan mas imam yang ganteng ini, besok bisa sepi musala kita,” kataku dalam hati.

Mungkin karena doa orang banyak atau pegimane tidak tahu. Saat hendak takbir untuk mulai salat lagi, beberapa makmum masih dalam posisi duduk sebab tahu akan berdiri agak lama. Tak disangka tak dinyana terdengar suara anak perempuan dari barisan paling belakang.

Dari suaranya, umur pelaku ini sekitar 7-8 tahunan. Dengan nada imut dedek cherrybelle, jeketifortieg atau cengkok manja embak-embak tutorial hijab. "Semangat, semangat, semangaat!!!" Jiwaku tersegarkan mendengarnya, "Akhirnya, ada yang mewakili saya."

Saya kira imamnya cukup peka. Selanjutnya ritme salatnya dipercepat. Seketika makmum kembali bersemangat dengan ditandai teriakan “amin” yang menggetarkan. “AAAMMEEN!” Tapi baru empat rakaat, kembali imam melambat. Dan sekali lagi anak yang di belakang tadi memberi aba-aba, "Semangat, semangat, semangaaat!"

Sungguh saya tidak mempermasalahkan peristiwa tersebut. Tapi suasana setelahnya. Biasanya, dengan imam yang cepat selesai, masih longgar untuk bersegera pulang, beberapa makmum masih tinggal untuk sekadar berkeluh kesah, beretorika, mendengarkan anak-anak tadarus, atau hanya menghabiskan makanan untuk anak-anak yang tadarus.

Tapi karena imam yang kecepatannya tidak sesuai ekspektasi makmum, membuat para jamaah langsung bergegas pulang. Sepi seketika.

Maka dengan ini, saya memohon kepada imam salat, yang agak khusyuk dan hati-hati membaca surat Fatihah untuk mempercepat salatnya. Bukan apa-apa sih. Tapi ketahuilah, Mas Imam. For your information saja, makmummu sudah terlatih berlari dari kenyataan. Dan, Mas, hey mas.. iya kamu, Mas. Lihat sini. Nah... “Salat tarawih yang agak lama kiranya membawa lebih banyak madharat daripada manfaatnya, Mas.” Noted!

Dari alasan syiar musala kita, jika musala sepi, kas juga sedikit, dan kran yang rusak bakal tak diganti. Belum lagi isi hati para makmum yang....sudahlah. Dari segi konteks sosio-geografis, masyarakat desa kita banyak yang lulusan STM, jadi dalam hal agama kami masih merupakan masyarakat awam. Sudahlah, Mas. Kalau dijelentrehkan juga agaknya kurang sopan. Pokoknya itu tadi, imam tarawih itu harus smart!

Mohammad hasan

Masih nyantri. Dan pengangguran berbasis Syariah

Comments

Iin Meyer's picture
Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016