28793.jpg
Foto: http://news.liputan6.com
Politik · 3 menit baca

Vonis Ahok dan Tumbuhnya Politik Harapan


Saat Ahok kalah dalam Pilkada Jakarta dan dimenangkan Anies-Sandi, banyak orang yang mengira Ahok akan ditinggalkan, baik oleh pendukung maupun partai yang mengusungnya. Asumsi ini setidaknya disebabkan oleh dua hal. Pertama, kekuatan politik uang. Pasca rezim Orde Baru, politik uang memainkan peranan dominan dalam memenangkan salah satu pasangan calon dalam Pilkada maupun Pilpres.

Tanpa adanya sokongan dana jangan berharap orang bisa memenangkan kompetisi pemilihan. Asumsi politik uang ini menjadi jamak dalam logika masyarakat untuk menguatkan pasangan calon yang diusung. Kedua, menguatnya populisme Islam.

Dengan naiknya kelompok konservatif dalam panggung nasional yang dikendarai oleh Anies-Sandi dan tim pemenangan pemilu dan efek brutalitas ruang publik dengan menancapkan sentimen agama dan etnik sebagai mesin mobilisasi suara, kondisi ini menciptakan ketakutan dan teror bagi mereka yang memiliki pandangan dan pilihan yang berbeda.

Dua pandangan itu ternyata salah. Dukungan kepada Ahok justru semakin menguat, tidak hanya di dunia maya, melainkan juga di ruang publik. Ratusan karangan bunga yang dikirimkan di Balai Kota menjadi tanda penguatan dukungan tersebut. Alih-alih semakin ditinggalkan, vonis hukuman 2 tahun penjara oleh Majelis Hakim kepada Ahok makin melibatkan gandakan orang untuk terlibat mendukungnya agar dibebaskan dan menuntut upaya keadilan yang menimpanya.

Orang tidak lagi melihat Ahok sebagai sosok individu tetapi sebagai representasi mengenai kebhinekaan yang dibayangkan untuk selalu tegak di Indonesia di tengah menguatnya upaya menanamkan ideologi Islamisme ke ruang publik.

Di sisi lain, di tengah apatisme terhadap politik lokal dan nasional yang menunjukkan kebobrokan melalui korupsi dan pengabaian tanggung jawab pemimpin kepada anggota masyarakatnya, vonis Ahok ini memunculkan politik harapan di tengah kerja-kerja administrasi sosial, keberanian, dan tanggung jawabnya dalam membangun serta memberikan perubahan Jakarta menjadi lebih baik, saat ia menjabat Gubernur DKI.

Wajah politik harapan ini bisa dilihat dengan dua dua hal. Pertama, dukungan yang diberikan anggota masyarakat di Jakarta, pelbagai daerah, dan dunia internasional dengan menyalakan 1000 lilin harapan agar Ahok segera dibebaskan. Kedatangan mereka untuk berkumpul dan menyatakan sikap itu bukan dipicu oleh politik uang, melainkan oleh hati nurani yang merasa ditindas oleh hukum yang seharusnya menegakkan keadilan bagi siapa saja tanpa pandang bulu.

Kedua, tumbuhnya keberanian dari individu masyarakat yang sebelumnya diam dalam melihat kesewenang-wenangan ruang publik dengan menggunakan baju agama dalam melancarkan aksi tujuan politiknya. Politik harapan ini merupakan awal benih-benih solidaritas lintas etnik, agama, dan kelas. Mereka tergerak untuk terlibat karena bagian dari warga negara yang juga memiliki Indonesia, tanah air bersama, dengan ragam agama, budaya, etnik, dan keyakinan.

Karena itu, ketika ada ancaman pembubaran oleh sekelompok oknum di Yogyakarta terkait dengan upaya mendukung Ahok di perempatan Tugu, hal itu tidak mengendorkan semangat anggota masyarakat untuk tetap menunjukkan sikapnya dalam mendukung agar Ahok dibebaskan.

Memang, terlalu menyepelekan persoalan dan mempersempit definisi, kalau melihat Indonesia hanya dari kasus Ahok. Ada banyak figur dan tokoh yang memberikan kontribusi penting untuk Indonesia pasca rejim Orde Baru. Namun, harus diingat, Ahok merupakan martir yang dikorbankan atas nama politisasi agama dan oligarki kepentingan politik yang berada di belakangnya.

Kasus Ahok juga menjadi penanda ancaman bagaimana ruang publik Indonesia ke depan di tengah keberagamaan yang dimiliki Indonesia.

Di tengah situasi tersebut, mengutip penjelasan Amin Mudzakkir (2017), Peneliti LIPI, “Sama seperti Gusdur, Ahok hanyalah manusia biasa. Tapi, dalam diri mereka tercermin mimpi-mimpi yang selama ini kita baca di buku-buku dan kitab suci. Mimpi-mimpi tentang kesetaraan, keadilan, dan kebenaran. Melalui dua sosok inilah mimpi-mimpi ini bisa direalisasikan, meskipun berakhir tidak dengan kemenangan”.

Dengan demikian, melalui nyala lilin di pelbagai daerah, setiap individu sedang melawan sekaligus menyalakan harapan bahwa perjuangan keras politik kewarganegaraan baru saja dimulai.

Di sini, Ahok mewariskan ketauladan berpolitik tentang mimpi-mimpi generasi muda yang membayangkan tanah airnya di masa depan dengan kedamaian, toleransi dan harapan dalam membangun solidaritas atas nama Indonesia, tanpa beban politik kebencian yang diwariskan oleh petualang politik yang menggunakan jubah agama dan kesantunan.

Ahok juga merepresentasikan bahwa selama menjadi warga negara Indonesia, setiap individu memiliki hak bersuara dan bisa memberikan kontribusi penting untuk Indonesia. Pengkotak-kotakkan merupakan cara usang yang harus dibuang dalam limbo gelap sejarah.

Nyala lilin sebagai bentuk dukungan ini yang akan terus bergerak mengetuk nurani-nurani personal kita untuk mengingat bahwa kita adalah “satu nusa dan satu bangsa” dengan Pancasila sebagai kesepakatan bersama dalam membangun Indonesia.