tumblr_nce1o5w77n1rtweeho1_1280.jpg
www.tumblr.com
Media · 5 menit baca

Untukmu Para Penulis Muda Qureta

Tulisan ini saya duga tidak akan lolos seleksi kurasi. Ataupun jika lolos seleksi oleh para kurator, juga tak akan ditayangkan di laman utama situs. Saya berpikir demikian lantaran mungkin ada sesat pikir yang tertuang dan tidak tertolerir dalam tulisan singkat saya ini.

Sesat pikir saya dikarenakan tak mampunya saya menyelami secara utuh maksud dan alam pikiran beberapa penulis muda. Mungkin itu disebabkan karena saya terlalu cepat tua. Terlalu lesat dihadapkan pada tanggungjawab personal dan profesi sebagai seorang Fisikawan dan Matematikawan. Waktu saya tak banyak berhadapan dengan buku moncer sekelas das Kapital, Madilog, Sejarah Tuhan, Hermeneutika Hans Gadamer dan Hermeneutika Faktisitas Heideggerian.

Gegara tak bersentuhan dengan itu semua, saya memiliki keterbatasan perihal mendalami maksud orang. Sebagai salah satu masyarakat awam nonpartisan partai, gerakan, komunitas besar, saya membaca dan menyimpulkan—umumnya juga—dengan kebiasaan berpikir yang tak dalam. Hanya dengan beberapa logika dasar yaitu: lokalitas, kausalitas dan nilai guna.

Jika beberapa penulis muda kebetulan membaca tulisan dangkal saya ini di laman utama website atau di laman Facebook, tentulah ada beberapa hal baik yang semoga bisa dipahami dengan seksama. Tulisan ini berasal dari pergulatan batin sebagai pembaca dan penulis. Saya mencintai website ini sebagai wadah ide dan gagasan spontanitas saya. Tulisan ini adalah ekspresi cinta saya.

***

Para penulis muda Qureta jangan kecewa sejak dari hati. Pasalnya, mungkin nantinya akan sering melihat beberapa celoteh-celoteh kurang bijak di kolom komentar. Ini bukan kesalahan siapa-siapa, ini hanya masalah cinta yang belum bersemi di hati beberapa pembaca lain yang didahului prakonsepsi.

Pun mereka—para pembaca yang lupa tabayyun—hanya belum terbiasa. Tak usah dimasukkan ke dalam hati. Karena itu, untuk para penulis muda Qureta yang sering menulis hal-hal menyerempet nilai-nilai agama atau beberapa topik sensitif tertentu, yang selow aja yah.

Dengan menanggapi berlebih orang yang berkategori ‘sumbu pendek’ sungguh merendahkan kualitas diri. Tak usah dipikirkan. Tetaplah menulis sebagaimana menulis adalah kewajiban intelektualmu. Biarkan saja mereka yang berkomentar kurang baik tetap melakukan hal tersebut sebagaimana itu adalah cara Tuhan menaikkan derajat dirimu di hadapanNya.

***

Saya sangat mengapresiasi kekritisan dan nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian, keseteraan, toleransi yang beberapa kawan-kawan penulis muda sekalian perjuangkan. Tentu saja, saya senang dengan tulisan berisi demikian lantaran ada pengetahuan baru yang disarikan dengan niat—yang atas izin Tuhan bagi yang percaya Tuhan—baik.

Tapi belakangan, saya menjadi sedikit menilai bahwa ada pergeseran konten dan beberapa hal lain yang kurang sedap bagi sebuah atau beberapa komunitas tertentu. Ini memang penilaian saya pribadi setelah melihat tanggapan beberapa pembaca di laman Facebook Qureta.

tanggapan yang menyayangkan—mohon maaf—kedangkalan isi tulisan, maksud tulisan yang berpihak dll. Saya tak tahu motif beberapa orang berkomentar demikian. Kebanyakan memang yang berkomentar tak mengikutkan argumentasi jelas.

Sepertinya, kebencian menghalangi mereka dari tabayyun. Padahal jika para pembaca yang ngajak ngopi penulis muda Qureta pasti akan tercipta suasana akrab dan tak ada salah paham yang mencuat.

Memang, harus saya akui, bahwa membaca tulisan dari beberapa penulis muda memerlukan kearifan dan keluasan pemikiran. Kebanyakan tulisan di Qureta sepertinya lebih cocok bagi orang yang berpikir luas dan kurang cocok bagi orang yang menganggap dirinya paling pintar, suci, sempurna.

Sangat mustahil menulis dengan ragam isi kepala untuk tujuan menyentuh ragam segmentasi pembaca. Itu adalah hal sulit.

Tapi jika ditanya apa yang saya harapkan dan saya rindukan dari penulis muda, tentu saja saya akan bilang begini: saya merindukan tulisan teduh seperti tulisan kak M. Aan Mansyur yang sederhana, mengalir dan kata-katanya terjaga. Ada kehati-hatian dalam setiap paragrafnya, tapi juga ada kedalaman dan pesan baik yang terkandung.

Tulisan bergenre demikian tak akan kesusahan beradaptasi dengan ragam segmentasi pembaca dari beragam jenis kalangan menurut saya. Atau tulisan yang agak ‘nyeleneh’ tapi coba mendekonstruksi nilai-nilai tertentu—termasuk anggapan, sikap yang kurang baik di masyarakat—secara halus, santun seperti dalam salah satu tulisan mas Rio Tuasikal. Belakangan saya tak jumpai lagi tulisan sejenis itu.

Sekali lagi, ini hanya dugaan sesaat yang  partikular. Mungkin saya yang keliru dan kurang cermat. 

Saya berharap dapat lagi menjumpai tulisan yang berimbang dari ragam sudut pandang. Tulisan yang membuat saya memilih sendiri tanpa seolah diarahkan. Tulisan yang membebaskan sudut pandang saya sekaligus mengurung saya pada kebenaran. Tulisan yang tidak bernada tendensius dan memiliki nilai-nilai universal lintas agama.

Mungkin harapan saya ketinggian. Apatah lagi sebagian kita hidup dalam “citra”, bukan lagi sepenuhnya dalam kenyataan.

Orang-orang memilih hidup dalam “kesan”, bukan kenyataan. Yang penting bagi orang lain—terkhusus beberapa pembaca yang diutus oleh Tuhan agar nyolot—adalah terkesan bahwa ia hebat, tidak penting apakah ia hebat betul atau tidak.

Apakah hanya tahu mengoceh dan tak tahu mengajukan pendapat yang logis. Yang penting bagi mereka adalah menampilkan perihal yang kasat mata dan membuat orang lain menyangka mereka orang baik, dermawan, jujur, atau citra baik apa saja.

Toh kebanyakan masyarakat juga memiliki kemalasan yang sangat serius untuk menelusuri atau menyelami realitas. Mereka umumnya pasrah pada kesan tentang seseorang lewat tulisannya. Anggaplah, kita ambil contoh, bagi beberapa kalangan ada anggapan seperti ini: yang penting ia pendukung Ahok, pastilah ia kafir, cukong aseng antek Yahwudi, anggota Remason dan semacamnya.

Semoga Tuhan merahmati kita semua. Termasuk pembaca yang ada dalam kategori tersebut dan penulis muda yang berusaha menyampaikan nilai-nilai kebaikan.

***

Pesan saya untuk bebrapa penulis muda

Kebanyakan orang kurang menyadari kekuatannya dan lebih asyik menyelami kelemahannya. Kalau masuk kandang kebo, terpengaruh jadi kebo. Ketemu pohon, mau jadi pohon. Ada teman melonglong, dituduh serigala, padahal cuma sedang latihan vokal untuk acara sinetron yang lebih menggemari hewan dibandingkan budaya, sains dan teknologi.

Kebanyakan orang merasa dirinya mudah terasuki, sehingga tidak berani bergaul plural, tidak siap berbeda, bahkan kehilangan cinta dan rasionalitas ketika menemukan perbedaan. Mudah sekali menganggap suatu pemikiran, suatu kepercayaan, suatu sikap sebagai musuh.

Sebagaimana yang dikatakan beberapa penulis senior Qureta bahwa musuh utama kemanusiaan tidak perlu dimusuhi untuk hancur dan lenyap. Musuh kemanusiaan akan hancur oleh dirinya sendiri.

Persoalan para penulis muda—berdasarkan dugaan awam saya—hanya satu: jangan menjadi bagian dari yang kau sadari sebagai musuhmu itu, dengan segala sistem, piranti dan jangkauannya. Jadilah bagian dari indenpendensimu sendiri, dalam kepribadian, dalam budaya, politik, keuangan, mentalitas dan apa pun.

Ya. Engkau hidup di tengah pusaran global neo-liberalisme, pun neo-konservatisme, Islam Liberal, Islam Sensual, atau segala macam penamaan dan terma-terma yang tersebar. Mungkin itu membuat semua itu sesungguhnya tak bermakna apa-apa di hadapan kemerdekaan dirimu. Hanya ada satu syarat dan ‘sahabat’ yang kau perlukan: meragukan ketakbenaran, kebenaran dan segala hal di antaranya.

Janganlah kaget dengan dunia ini lebih dahulu. Banyak hal yang kita anggap tidak baik, pada akhirnya adalah kebaikan. Pun beberapa hal kita anggap keburukan padahal itu adalah kebaikan yang tersembunyi.

Esok hari akan jauh lebih mengagetkan lagi bagi siapa saja. Hidup tidak sesederhana yang kita duga, maka melanglang buanalah. Jumpai segala macam pemikiran lalu tuliskan hasil refleksimu. Janglah mengira dunia begitu hitam putih. Jangan  berpikir  sempit bahwa hidup hanya pertarungan sengit antara Tuhan dan Setan.  

Akhir kata, tulisan saya ini tak usah dipikirkan terlalu dalam. Ini semua hanya unek-unek saya sebagai pembaca sekaligus penulis Qureta. Tulisan ini saya tujukan untuk diri sendiri. Saya adalah pembaca yang berharap menikmati bacaan yang memiliki ketepatan argumen dan kehati-hatian bahasa. Saya juga adalah penulis yang berharap dapat menulis dengan hujjah-hujjah santun yang tak terbantahkan.